GRESIK (RadarJatim.id) – Diberlakukannya Kurikulum Merdeka memberikan berkah tersendiri bagi Unit Pelaksana Teknis (UPT) SD Negeri 19 Gresik, Jawa Timur. Betapa tidak, berlakunya kurikulum yang memberikan keleluasaan kepada peserta didik dalam mengembangkan minat dan bakatnya, terbukti memicu kreativitas para siswanya lewat sejumlah projek yang mereka lahirkan.
Dalam kurun waktu yang hanya beberapa bulan itu, siswa SDN yang berlokasi di Kelurahan Indro, Kecamatan Kebomas, Gresik ini mampu membuktikan potensi terpendam untuk menghasilkan karya kreatif, bahkan bernilai ekonomi. Nah, untuk membuktikan potensi positif itu, mereka unjuk kemampuan dalam “Gelar Karya” di depan publik yang digelar di halaman sekolah, Sabtu (7/1/2023).
Berbagai karya kreatif hasil projek penerapan Kurikulum Merdeka mereka tampilkan. Di antaranya membuat aneka makanan tradisional Gresik, aneka kerajinan, juga aksi panggung seni yang memukau. Bahkan, di antara sejumlah projek yang diikuti siswa kelas 1 dan 4 itu, ada yang memiliki nilai ekonomi cukup signifikan.
Karya unik dan orisinal itu berupa daur ulang sampah menjadi beberapa kerajinan yang menarik dan bernilai ekonomi. Dengan kreativitas yang mereka miliki dan godok dalam diskusi kelompok, mereka mampu menghasilkan karya yang mampu mengubah barang tak berharga (sampah) menjadi aneka produk kreatif, seperti tas, tempat tisu, tempat pensin, bahkan pakaian modis dengan desain menarik untuk ditampilkan di panggung seni.
Di hadapan para siswa, orang tua/wali murid, dewan guru, juga Komite Sekolah, “Gelar Karya” itu dibersamakan dengan penerimaan rapor semester I, Sabtu (7/1/2023), khusus untuk kelas yang menerapkan Kurikulum Merdeka, yakni kelas 1 dan 4. Sementara kelas lain, rapor telah diserahterimakan sebelumnya.
SDN 19 Gresik merupakan 1 dari 3 SDN di Kecamatan Kebomas yang telah melakukan uji coba Kurikulum Merdeka. Dan, untuk maksud tersebut, menurut Kepala UPT SDN 19 Gresik, Naniek Mariawatie, SPd, 4 guru pendamping yang memiliki kompetensi khusus disiapkan untuk mengawal penerapan kurilukum tersebut. Mereka adalah Dewi Nur Karomah, SPd dan Arlisah, SPd yang mendampingi siswa kelas 4. Sementara Lely Dwi Khumalasari, SPd dan Heni Rusdianti, SPd mengawal siswa kelas 1.
“Mereka berempat memang telah mendapat pelatihan khusus dalam hal penerapan Kurikulum Merdeka. Secara bertahap, kami akan bekali dan upgrade kemampuan para guru, sehingga nantinya 100 persen mampu mengawal pelaksanaan kurikulum ini,” ujar Naniek saat ditemui di kantornya, Sabtu (7/1/2023).
Ia mengaku, sebagai langkah awal, apa yang dihasilkan para siswanya melalui berbagai projek yang mereka lakukan dengan pendampingan guru, masih perlu dikembangkan. Karena itu, untuk mengembangkan berbagai potensi dan bakat siswa, pihaknya siap bekerja sama dengan stake holder sesuai kompetensi yang dibutuhkan.
“Selain terus membutuhkan bimbingan dari Dinas Pendidikan, kami juga akan menghadirkan guru tamu dari para praktisi yang memiliki keahlian yang bisa ditularkan kepada anak-anak. Dari situ kami harapkan nantinya potensi atau bakat positif yang dimiliki anak-anak benar-benar bisa dieksplorasi untuk mengahasilkan karya yang tidak saja bermanfaat pada dirinya, tapi juga kepada masyarakat. Contohnya, seperti daur ulang sampah menjadi beberapa karya kreatif bernilai ekonomi itu, awalnya dari diskusi kelompak yang memetakan permasalahan di masyarakat, lalu muncullah ide itu,” tambahnya. (sto)







