GRESIK (RadarJatim.id) — Masyarakat nelayan Dusun Sidorejo, Desa Campurejo, Kec. Panceng, Gresik, Jawa Timur, belum bisa memanfaatkan cangkang kerang hijau yang mestinnya bernilai ekonomis. Para nelayan hanya membuang begitu saja cangkang tersebut di beberapa tempat dan terkesan tak terurus dan jadi sampah.
“Kita mengambil dagingnya saja. Untuk cangkangnya, kita buang,” kata Kepala Dusun Sidorejo, Campurejo, Abdul Karim saat dikonfirmasi tumpukan cangkang hijau yang berserakan di beberapa tempat, Minggu (19/3/2023).
Menurut dia, sebelumnya sudah ada beberapa orang mengambilnya untuk kerajinan, tapi jumlahnya relatif kecil. Padahal volume cangkang hijau di Sidorejo berton-ton. “Tiap hari minim nelayan buang satu ton cangkang kerang hijau. Di sini volumenya besar sekali. Sayang tidak ada yang memanfaatkan,” kata Karim.

Kerang hijau di laut Sidorejo benar-benar memberikan berkah kepada masyarakat setempat. Ada tiga kelompok yang mendapatkan keberuntungan dari rezeki tersebut. Pertama, nelayan yang memiliki modal untuk membikin rumpon (sarang ikan-red). Kedua, nelayan yang memanen di rumpon di kedalaman laut dan ketiga, warga yang mencukil dagingnya.
“Bikin satu rumpon biayanya sekitar Rp 4 juta sampai Rp 5 juta.Upah orang yang memanen di rumpon sehari Rp 200.000 dan upah nyukil (misah daging dengan cangkang – red) Rp 4000 per kilogramnya. Jadi warga di sini kerja semua,” kata Karim.
Sementara harga jual kerang hijau berkisar antara Rp 12.000 per kilo saat panen raya dan Rp 30.000 per kilo ketika langka. Menurut Karim, kekayaan laut tersebut diambil tengkulak dari luar kota diantaranya dari Semarang Jawa Tengah. Menyinggung soal administrasi pembukuan, Karim mengungkapkan bahwa tradisi nelayan hampir semuanya sama, memilih jalan praktis jual ikan dapat uang kemudian uangnya dibelanjakan.
“Saya kira semua nelayan sama pak. Dapat ikan, dijual dapat uang kemudian untuk belanja,” katanya. (fai)







