KEDIRI (RadarJatim.id) – Ketidaktertarikan pada dunia perikanan tak menghalangi Prima Wahyu Ari Wibowo (37) untuk bertahan dan berkembang di sektor tersebut. Warga Dusun Bandulan, Desa Sumberagung, Kecamatan Plosoklaten, Kabupaten Kediri itu, kini justru menjadikan pembenihan lele sebagai sumber penghasilan utama keluarganya.
Saat ditemui di lokasi kolamnya, Jumat (27/2/2026), Prima mengaku awalnya tidak memiliki keterampilan maupun minat di bidang perikanan. Usaha tersebut merupakan rintisan orang tuanya yang sempat terhenti karena kesibukan pekerjaan lain.
“Saya dulu memang sama sekali tidak punya skill di perikanan dan juga tidak terlalu minat. Tapi karena orang tua sudah punya banyak indukan dan kolam, rasanya sayang kalau berhenti. Akhirnya saya kuatkan niat untuk meneruskan,” kata Prima.
Menurut dia, keputusan itu diambil bukan karena kesiapan, melainkan dorongan tanggung jawab untuk menjaga usaha keluarga. Indukan lele yang sudah tersedia menjadi pertimbangan utama agar usaha tidak sia-sia.
Sejak 2023, Prima mulai menekuni pembenihan secara serius. Ia belajar dari pengalaman, mencoba berbagai metode, serta berdiskusi dengan rekan sesama pembudi daya. Dari yang semula menggunakan cara manual, kini ia beralih ke metode striping. Metode striping merupakan teknik pengambilan telur indukan secara manual untuk meningkatkan produktivitas. Dengan cara tersebut, jumlah telur yang dihasilkan dalam satu kali proses dinilai lebih banyak dibanding metode tradisional.
“Dulu masih manual, sekarang coba striping karena hasil telurnya bisa lebih banyak. Saya belajar dari teman-teman yang sudah lebih dulu menerapkan,” ujarnya.
Saat ini, Prima memiliki empat kolam berukuran 1,5 x 4 meter. Setiap kolam mampu menampung hingga 50.000 bibit lele. Ia juga berencana menambah sekitar 15 kolam lagi untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Dalam operasional harian, ia dibantu dua pekerja. Hasil usaha yang dirintisnya sejak 2023 disebut bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam satu periode produksi, tergantung kondisi panen dan pasar. Meski demikian, tantangan tetap membayangi. Kenaikan harga pakan yang tidak sebanding dengan harga jual bibit menjadi persoalan yang kerap dihadapi pembudi daya.
“Harga pakan cenderung naik terus, sementara harga bibit belum tentu ikut naik. Jadi harus benar-benar dihitung supaya tetap untung,” ucapnya.
Untuk pemasaran, benih lele hasil produksinya masih dipasok ke sejumlah pengepul. Ia sengaja bekerja sama dengan lebih dari satu pengepul agar distribusi tetap lancar.
Kini, usaha yang awalnya dijalani tanpa bekal minat dan pengalaman itu justru menjadi ladang penghidupan yang menjanjikan. Prima berharap dapat terus mengembangkan skala budidayanya sekaligus membuktikan bahwa ketekunan dan niat kuat mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang. (rul)







