TAIPEI-TAIWAN (RadarJatim.id) — Program pengabdian masyarakat yang bertajuk “Satir Growth Model: Penguatan Resiliensii Psikologis dan Kesehatan Reproduksi bagi Diaspora PRIM (Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah) Taiwan” resmi dimulai.
Program ini bertujuan untuk memperkuat resiliensi psikologis serta kesehatan reproduksi di kalangan diaspora Indonesia yang tinggal di Taiwan.
Kegiatan ini dipimpin oleh Paramita Amelia Kusumawardani dan melibatkan mitra strategis, termasuk PCIA Taiwan, PCIM Taiwan, PMI, dan kader Aisyiyah.
Paramita Amelia mengatakan kalau kegiatannya telah dilaksanakan pada 14, 17, dan 24 Januari 2026 lalu, dengan fokus utama pada Workshop Kolaboratif dengan Mitra, Pelatihan dan Lokakarya Interaktif, serta Sesi Konseling Kelompok.
“Ketiga kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan praktis dan dukungan langsung kepada anggota diaspora Indonesia di Taiwan, agar mereka dapat lebih baik dalam menghadapi tantangan kesehatan mental dan reproduksi,” jelas Paramita dari Taipei.
Menurutnya, dimulai dengan Workshop Kolaboratif dengan Mitra, yang melibatkan para peserta dari PCIA Taiwan dan PCIM Taiwan. Peserta berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk merancang modul edukasi serta menentukan topik-topik penting terkait dengan kesehatan reproduksi dan psikologis.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk memastikan bahwa materi edukasi yang disusun benar-benar relevan dengan kebutuhan komunitas diaspora Indonesia di Taiwan.
“Kami berharap bisa merancang solusi yang sesuai dengan kondisi nyata dan kebutuhan anggota komunitas diaspora di Taiwan,” harap Paramita Amelia selaku Ketua Pengusul Program.
Berikutnya, juga dilaksanakan Pelatihan dan Lokakarya Interaktif yang memberikan pelatihan langsung kepada peserta mengenai cara-cara mengelola stres, kecemasan, serta masalah kesehatan reproduksi.
Pelatihan ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga mengajarkan keterampilan praktis untuk membantu peserta dalam mengatasi tantangan hidup di luar negeri. Lokakarya ini memungkinkan peserta untuk berlatih teknik-teknik pengelolaan stres dan meningkatkan kesehatan reproduksi mereka.
Program berlanjut dengan Sesi Konseling Kelompok yang memberikan ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan dukungan dalam menghadapi tantangan psikologis. Sesi ini dipandu oleh para ahli dalam bidang kesehatan mental dan reproduksi serta kader Aisyiyah.
Konseling kelompok ini bertujuan untuk menciptakan ikatan yang kuat di antara anggota diaspora dan membantu mereka mengelola tekanan hidup di luar negeri.
“Sesi konseling ini adalah kesempatan bagi para peserta untuk saling mendukung dan berbagi pengalaman, yang sangat penting dalam membangun komunitas yang lebih kuat dan lebih resilien,” tambah Paramita.
Program ini juga mendukung kesehatan reproduksi dan kesejahteraan mental bagi diaspora Indonesia di Taiwan.
Dengan melibatkan peserta dalam pelatihan kesehatan reproduksi dan kesehatan mental, program ini bertujuan untuk menciptakan komunitas yang lebih sehat, baik secara fisik maupun mental, di kalangan diaspora Indonesia di Taiwan.
“Program ini membantu kami untuk lebih memahami bagaimana cara menjaga kesehatan mental dan reproduksi dengan cara yang sesuai dengan konteks hidup kami di Taiwan,” ungkap salah seorang peserta program.
Program ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antar lembaga untuk memberdayakan diaspora Indonesia di luar negeri. Mitra yang terlibat, seperti PCIA Taiwan, PCIM Taiwan, PMI, dan kader Aisyiyah, bekerja sama untuk memastikan bahwa program ini dapat memberikan dampak yang nyata dan berkelanjutan bagi komunitas.
“Dengan program yang berbasis pada pendekatan partisipatif, para mitra turut serta dalam merancang dan melaksanakan kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada komunitas,” pungkas Paramita yang menghugungi dari Taipei pada tanggal 8 April 2026 malam .(mad)







