Oleh Atho’ilah Aly Najamudin, MA
Doktor Emi Hidayati, SPd, MSi. Saya pikir nama itu telah diketahui oleh banyak orang. Ia dikenal sebagai anggota DPRD Banyuwangi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) periode 2000 – 2005 dan 2005 – 2010. Selama itu pula, ia juga banyak mencurahkan perhatiannya sebagai fasilitator maupun praktisi yang menangani isu perempuan dan anak.
Diam–diam, perempuan ini juga banyak concern terhadap penelitian isu-isu kelembagaan, selain melakukan pendampingan kepada komunitas masyarakat di Banyuwangi. Bagi Doktor Emi, penelitian merupakan dunia yang sungguh mengasyikkan. Oleh sebab itu, begitu pensiun dari dunia politik, Emi lebih nyaman sebagai pengajar, pengabdi masyarakat ataupun peneliti.
Mungkin, karena latar belakangnya seorang sarjana pendidikan, membuat mengajar menjadi passion-nya. S-1-nya, Emi adalah Pendidikan Matematika dari Universitas PGRI Banyuwangi. Setelah lulus, ia mengabdi di almamaternya, Pondok Pesantren Bustanul Makmur, Kebunrejo sebagai guru Tsanawiyah (setingkat SMP).
Selain sebagai pengajar, Emi menyibukkan diri sebagai aktivis. Dunia aktivis ia jalani sejak nyantri, hingga duduk di bangku perkuliahan ia mengabdikan dirinya, kepada Nahdatul Ulama (NU). Pengalaman menjadi Ketua Fatayat NU mengantarkannya menjadi seorang legislator di Banyuwangi. Ia pun salah satu perempuan yang berteriak lantang mengawal proses dinamika di Banyuwangi.
Selepas pensiun dari dunia politik, Emi memilih kembali di dunia pengajaran. IAI Ibrahimy, Genteng, Banyuwangi menjadi pengabdian selanjutnya. Ia menjadi di-dapuk sebagai dosen Prodi Pengembangan Masyarakat.
Ia memiliki pengalaman penelitian tentang transformasi kelembagaan keuangan mikro di pedesaan. Banyak cerita tentang pendampingan eks-Badan Kredit Desa (BKD) yang kemudian bertransformasi menjadi Lembaga Keuangan Mikro (LKM).
Tentunya, banyak tantangan yang dihadapi di lapangan, mulai tidak jelasnya regulasi yang diterbitkan oleh pemerintah, pengelolahan sumber daya manusia (SDM) yang belum maksimal, hingga tidak adanya respon dari masyarakat.
Upaya yang dilakukan, memulai pendekatan kepada para pengurus eks-BKD. Pasalnya, jika tidak dilakukan, dampaknya merembet pada status kepemilikan aset. Dari forum diskusi digelar, Emi memberikan pemahaman konkret terhadap masyarakat terkait perubahan status BKD menjadi BUMDes, mulai dari visi dan misi pengurus, melakukan forum diskusi dengan beberapa lapisan yang terkait dan terlibat dalam proses alih status.
Berkat ketekunannya, Emi berhasil mengantarkan eks-BKD se-Kabupaten Banyuwangi bersepakat melakukan kerja sama antar-BUMDes melalui PT BKD Kabupaten Banyuwangi. Pengalaman empirik yang dilatarbelakangi pengabdiannya mengelola kerumitan kelembagaan keuangan di pedesaan, mengilhami dirinya menulis disertasi dengan pendekatan kelembagaan. Ia telah berhasil mempertahankan argumen di hadapkan para penguji di Auditorium Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Unirversitas Negeri Jember, Selasa (16/1/2024) lalu.
Di hadapan para penguji, Emi berhasil mepresentasikan hasil risetnya. Permasalahan ia jelaskan secara kualitatif dan mendalam. Para penguji pun memberikan apresiasi dengan sangat layak menyandang gelar doktor Administrasi Publik.
Di akhir ujian terbuka doktoralnya Emi menyebut, bahwa kelembagaan keuangan desa merupakan salah satu instrumen pengentasan kemiskinan di pedesaan. Selamat, untuk Dr Emi Hidayati, SPd, MSi. (*)
*) Penulis adalah dosen IAI Ibrahimy Genteng, Banyuwangi







