SURABAYA (RadarJatim.id) — DPW Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Jawa Timur menyatakan kesiapan menindaklanjuti hasil Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) LDII 2026 dengan memperkuat konsolidasi organisasi dan sistem kaderisasi di tingkat wilayah. Fokus tersebut ditegaskan sebagai bagian dari upaya memastikan keberlanjutan kepemimpinan berjalan tertata dan berkesinambungan.
Ketua DPW LDII Jawa Timur H. Moch Amrodji Konawi mengatakan, semangat meninggalkan legacy terbaik bagi generasi penerus harus tercermin dalam program berkelanjutan, tertib administrasi, serta pembinaan berjenjang.
“Arahan Ketua DPP menjadi pengingat bagi kami di wilayah agar tidak hanya fokus pada program jangka pendek, tetapi juga menyiapkan fondasi organisasi yang kuat untuk masa depan,” ujarnya.
Menurut Amrodji, pengurus di daerah memegang peran strategis dalam memastikan kebijakan pusat berjalan selaras dan berkesinambungan. Karena itu, ia mendorong penguatan koordinasi antara DPW dan DPD, sekaligus menyiapkan kaderisasi secara sistematis.
Ia menekankan, keberhasilan regenerasi sangat ditentukan oleh kesiapan pengurus saat ini dalam membimbing calon penerus. Pembinaan tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan melalui proses bertahap dan terencana.
“Regenerasi tidak bisa instan. Harus ada pembinaan berjenjang, pendampingan, dan transfer pengalaman agar estafet kepemimpinan berjalan lancar,” tegasnya.
Sebelumnya, Ketua Umum DPP LDII KH Chriswanto Santoso dalam pembukaan Rapimnas 2026 di Kantor DPP LDII, Jakarta, Senin (16/2/2026), mengajak seluruh jajaran pengurus menjadikan forum tersebut sebagai momentum untuk memberikan yang terbaik menjelang berakhirnya masa kepengurusan.
Menurut Chriswanto, Rapimnas bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan kesempatan untuk memastikan setiap kebijakan dan langkah organisasi memiliki dampak jangka panjang.
“Rapimnas ini harus kita maknai sebagai momentum untuk melakukan do the best,” ujarnya.
Ia menegaskan, melakukan yang terbaik tidak hanya berarti menuntaskan program kerja, tetapi juga memastikan apa yang dikerjakan hari ini menjadi fondasi kokoh bagi kepengurusan berikutnya.
“Apa yang kita lakukan hari ini akan menjadi fondasi bagi generasi selanjutnya,” katanya.
Chriswanto juga mengingatkan pentingnya meninggalkan sistem yang rapi, budaya kerja yang solid, serta kesinambungan kepengurusan yang terjaga. Ia mengakui, salah satu tantangan yang kerap muncul adalah terputusnya keberlanjutan kepengurusan, terutama saat terjadi pergantian pengurus di tingkat wilayah.
“Salah satu kelemahan kita selama ini adalah keberlanjutan kepengurusan seringkali terputus,” ujarnya.
Karena itu, proses regenerasi perlu disiapkan sejak dini melalui pembinaan dan transfer pengetahuan yang terstruktur. Dengan demikian, kepengurusan berikutnya tidak memulai dari titik nol.
“Regenerasi harus kita perbaiki mulai saat ini supaya kepengurusan berikutnya tidak lagi meraba-raba,” kata Chriswanto.
Ia berharap Rapimnas 2026 melahirkan komitmen bersama untuk memastikan transisi kepemimpinan berjalan terencana dan mulus. Keberhasilan kepemimpinan, menurut dia, tidak hanya diukur dari capaian selama menjabat, tetapi juga dari kesiapan penerusnya. (RJ1/RED)






