GRESIK (RadarJatim.id) – Abdullah (47 tahun) tak kuasa menahan air matanya ketika manajemen Perumahan Graha Citra 3 menyerahkan (secara simbolis) kunci rumah kepadanya, Senin (27/1/2025). Air mata kegembiraan itu menjadi saksi dan tetenger segera berakhirnya pria ini bersama istri dan dua anaknya menjalani hidup sebagai “kontraktor” alias pengontrak rumah.
Bersama 180 orang lainnya, Abdullah yang asal Bangkalan, Madura itu adalah pembeli unit rumah di Perumahan Graha Citra 3 di Desa Kedanyang, Kecamatan Kebomas, Gresik, Jawa Timur. Perumahan yang dibangun oleh pengembang (developer) Grup Sonto Property ini, Senin (27/1/2025) menyerahkan kunci rumah tahap pertaman kepada 181 pembelinya, untuk segera dihuni.
Abdullah mengaku sangat gembira, bahwa mimpinya untuk memiliki rumah sendiri terwujud, meski harus dibelinya secara mengangsur di bank dalam waktu cukup lama. Ia membeli rumah tipe 25 dengan luas tanah 60 meter persegi itu dengan sistem kredit pemilikan rumah (KPR) perbankan dengan tenor (masa angsuran) selama 15 tahun.
Meski harus menunggu 15 tahun untuk bisa memiliki rumah secara penuh –dikuatkan dengan sertifikat yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional (BPN)–, baginya ini lebih baik ketimbang terus-menerus menjadi “kontraktor”. Pasalnya, dengan membeli rumah secara KPR, suatu saat, ketika masa cicilannya berakhir, rumah pun akan menjadi miliknya.
“Kalau ngontrak kan sama dengan membuang uang terus. Belum lagi kalau masa kontrakan habis dan tidak bisa diperpanjang lagi, kan harus cari kontrakan baru, harus pindah-pindah,” ujar bapak dua anak ini.
Sehari-hari Abdullah adalah tukang sapu di sepanjang jalan di kawasan Sidomoro, Kecamatan Kebomas, Gresik. Di kawasan perkotaan ini, ia menjalani pekerjaannya mulai pukul 05.00-08.00 WIB, nonstop dan tak mengenal hari libur. Dengan gaji Rp 1,6 juta per bulan, baginya memang masih berat untuk menghidupi istri dan dua anaknya yang kini kelas 6 SD dan TK B itu.

Di deretan rumah inilah Abdullah bakal menikmati hidupnya setelah memiliki rumah sendiri. (Suhartoko)
Tetapi, lanjutnya, pria berperawan relatif kecil ini tak pernah menyerah kepada nasib yang melilitnya. Di luar jam kerja, selepas pukul 08.00 WIB, ia kerap dimintai tolong warga di perkampungan kota Gresik untuk membuang sampah. Dari situlah Abdullah bisa menambah pendapatan. Niat membeli rumah itu memang sudah teramat lama dipatrikan dalam hatinya dan ia yakin bisa melewati masa-masa sulit hidupnya.
Menjadi tukang sapu jalanan sudah dilakoni Abdullah selama enam tahun. Selama itu pula, ia harus menandatangani kontrak kerja setiap tahun. Bahkan, dalam setahun terakhir, katanya, ia harus tanda tangan kontrak kerja setiap tiga bulan sekali. Laki-laki berkulit sawo matang ini tak pernah berharap menjadi karyawan tetap di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik yang menangani kebersihan.
“Nggak mikir itu, Pak. Yang penting dapat bayaran dan halal,” ungkapnya polos.
Secara kalkulasi matematis-ekonomis, beban keuangan Abdullah terbilang berat. Bayangkan, saat ini, begitu ia menerima kunci rumah, konsekuensinya selama 15 tahun ke depan ia harus membayar angsuran Rp 1.670.000 per bulan, padahal gaji bulanan yang ia terima hanya Rp 1.600.000. Tetapi, sekali lagi, ia tak pernah mengeluh dan tetap menaruh harapan dengan campur tangan Allah, Tuhan Yang Maha Pemurah.
“Gusti Allah tidak tidur. Saya sudah niat beli rumah untuk keluarga, untuk istri dan anak-anak saya. Saya yakin, Gusti Allah akan menolong saya,” kata suami Hidayatul Ilmiah yang kini masih mengontrak rumah di kawasan Karangturi, Gresik kota ini.
Sementara Founder dan CEO Perumahan Graha Citra, M. Yazid, mengaku ikut merasakan kebahagiaan Abdullah sekeluarga setelah menyerahkan kunci rumah bersama 180 pembeli lainnya. Ia mendoakan agar Abdullah dan seluruh penghuni perumahan yang ia bangun senantiasa diberi kelapangan rezeki dan keberkahan, sehingga lancar dalam membayar angsuran hingga lunas.
“Saya ikut gembira hari ini, meski saat pertama mengajukan untuk membeli rumah, saya merasa trenyuh. Alhamdulillah, sekarang Mas Abdullah dan keluarga bisa mewujudkan impiannya untuk punya rumah,” ujar Yazid.
Karena itu, sejak Abdullah kali pertama mendaftar untuk membeli rumah, ketika itu pula Yazid berniat dan mengupayakan dan membantu agar bank penyedia KPR bisa meloloskan pengajuan kreditnya. Setelah melalui jalan panjang dan berliku, bank akhirnya menyetujui pengajuan KRR Abdullah setelah yang bersangkutan membayar uang muka yang dipersyaratkan. Dan, plong sudah yang dirasakan Yazid bisa membantu meloloskan pengajuan KPR Abdullah.
Dikatakan, Graha Citra 3, tahap pertama ini menyelesaikan pembangunan 181 unit rumah tipe 25/60 (luas bangunan 25 meter persegi dan luas tanah 60 meter persegi). Selanjutnya, ia akan membangun tipe 36/60 sebanyak 135 unit, yang diproyeksikan akan diserahterimakan kepada pembeli tahun 2026. Di lahan seluas 5 hektare itu, total rumah yang akan dibangun sebanyak 490 unit.
Beberapa fasilitas yang akan melengkapi perumahan ini di antaranya, bozem penampung air, ruang terbuka hijau (RTH), musholla, taman, juga lahan untuk makam. Diharapkan, dalam dua tahun, ia mampu merampungkan seluruh pembangunan perumahan untuk kalangan menengah ke bawah ini. Pembeliannya, lanjut Yazid, bisa secara tunai, KPR, juga in house. (sto)







