Oleh Much. Khoiri
Judul Buku: 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan
Editor: Novi Anoegrajekti, dkk
Penerbit: Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI)
Tahun Terbit: 2025
Tebal: 1.168 halaman
Kita mengenal V.S. Naipaul (Trinidad-Inggris), Salman Rushdie (India-Inggris), Chinua Achebe (Nigeria), George Orwell (Inggris), Kazuo Ishiguro (Jepang-Inggris), dan Orhan Pamuk (Turki), beberapa sastrawan dunia yang menyuarakan politik identitas dan nasionalisme. Dari Indonesia? Dialah Pramoedya Ananta Toer (PAT), sosok yang “wajib” disebut namanya saat berdiskusi tentang dua isu utama itu. Dialah sastrawan yang namanya tak lekang oleh waktu, bahkan oleh rezim yang pernah berusaha membungkamnya.
Di tengah arus politik identitas dan kegamangan jati diri bangsa, HISKI menghadirkan sebuah buku monumental, 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer: Sastra, Politik Narasi, dan Kemanusiaan. Buku ini sebagai sebuah manifestasi intelektual yang merayakan dan “menginterogasi” warisan pemikiran Pramoedya. Bahkan, buku ini adalah peta jalan untuk membaca Indonesia pada masa lalu, kini, dan masa depan.
Tinjauan Substansi
Buku PAT bukanlah buku biasa. Sebab, buku setebal 1.168 halaman ini adalah sebuah proyek ambisius yang menghimpun 46 esai dari para akademisi dan sastrawan terkemuka, plus prolog dan epilog yang komprehensif. Puisi Djoko Saryono: Membaca Pram dan puisi Tengsoe Tjahjono: Bumi Manusia di Atap Tua Blora, membuka perkenalan substantif dan estetik dengan Pram.
Buku ini dirancang secara tematis untuk menggali kedalaman pemikiran Pramoedya dari berbagai perspektif, sebuah pendekatan yang membuat buku ini terasa seperti ensiklopedia tentang Pram. Buku ini dipengantari oleh Menteri Kebudayaan, Dr H Fadli Zon, dan Kepala Organisasi Riset Arkeologi Bahasa dan Sastra BRIN, Dr Herry Yogaswara, MA, juga pengantar ahli, seperti Prof Dr Faruk H.T., MHum, Prof Dr Koh Young Hun, dan Hilmar Farid, PhD.
Dengan 46 artikel yang dikategorikan ke dalam empat tema besar, yakni “Sejarah, Politik, dan Ideologi”, “Artikulasi Tekstual, Lokalitas, dan Globalitas”, hingga “Femininitas, Maskulinitas, dan Kemanusiaan”, antologi ini menjadi wadah diskusi multidimensi. Membaca buku ini laksana menghadiri diskusi yang bergizi.
Buku ini, di antaranya, mengajak pembaca menyelami kedalaman Tetralogi Buru (hlm. 141-153), memikirkan perjuangan tokoh perempuan, seperti Nyai Ontosoroh (hlm. 193-220) dan Gadis Pantai (hlm. 733-755), hingga menjelajahi betapa karya Pramoedya meramaikan era digital melalui media sosial dan meme (hlm. 243-259). Secara akumulatif, buku ini menggarisbawahi, bahwa Pramoedya adalah homo scriptor tangguh, yang mengangkat sastra sebagai senjata dalam memperjuangkan keadilan.
Catatan Evaluasi
Kalau ditimbang secara jernih, kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya untuk meruntuhkan dikotomi sempit antara “Pram yang sastrawan” dan “Pram yang politis.” Buku ini secara brilian menunjukkan, bahwa dalam diri Pram, keduanya adalah entitas yang tak terpisahkan. Politiknya adalah estetika, dan estetikanya adalah politik.
Dalam pengantarnya, Prof Faruk dengan cemerlang mengupas bagaimana Pram, –bahkan ketika terlibat dengan LEKRA–, tetap mempertahankan jarak kritis dan agenda pribadinya. Faruk menulis, “Ia tetaplah seorang penyendiri, sebuah pribadi yang mandiri, tidak hanya menjadi bagian penuh dari Lekra” (hlm. xxxiii). Pengamatan ini membebaskan Pram dari label ideologis yang sempit dan mengembalikannya pada posisinya sebagai seorang humanis sejati.
Pandangan senada juga ditegaskan oleh Koh Young Hun, yang melihat humanisme sebagai pemikiran dasar Pram. Ia mengutip pengakuan Pram tentang tokoh-tokohnya: “Melalui tokoh-tokoh itu, Pramoedya ingin menyampaikan sesuatu yang bermanfaat untuk kemajuan bangsanya, karena sastrawan memberi makna lewat kenyataan yang dapat dipahami oleh pembaca” (hlm. liv). Bagi Koh, penderitaan dan perlawanan dalam karya Pram selalu bermuara pada satu hal: martabat manusia.
Di antara sumbangan paling berharga dari buku ini adalah pembacaan ulang terhadap tokoh-tokoh perempuannya. Tak hanya Nyai Ontosoroh yang perkasa, tetapi juga Midah, Gadis Pantai, dan tokoh-tokoh lain yang selama ini mungkin terpinggirkan dalam narasi besar.
Yulianeta, dalam esainya “Mengingat Pram, Menyapa Midah,” menulis dengan menyentuh: “Midah adalah pengingat, bahwa revolusi tidak selalu datang dari teriakan atau senjata, tapi bisa juga dari nyanyian, dari langkah kaki di jalanan kota, dan dari tekad perempuan yang memilih untuk hidup di luar garis batas yang digariskan masyarakat” (hlm. 727). Kutipan ini merangkum esensi humanisme Pram: keberpihakan pada mereka yang terpinggirkan, yang suaranya mungkin lirih namun perlawanannya tak pernah padam.
Senada dengan itu, Dad Murniah dalam analisisnya tentang Gadis Pantai menegaskan, bahwa “Perempuan tidak dipandang sebagai individu utuh dengan kehendak, pemikiran, dan martabat sendiri, melainkan dijadikan alat atau simbol dalam struktur sosial yang didominasi oleh laki-laki” (hlm. 739).
Lebih dari itu, buku ini juga berani membedah “ruang hening” dalam kajian Pramoedya. Ari Ambarwati dan Muhammad Afnani Alifian dalam Yang Hening dan yang Bising (hlm. 307-324) menggunakan pendekatan distant reading untuk memetakan secara data-ilmiah, bahwa kajian Pram selama ini terlalu terpusat pada tetralogi Buru. Mereka mengajak para peneliti untuk menjelajahi “terra incognita”, karya-karya nonfiksi, esai, dan cerpen awalnya yang tak kalah kaya.
Kemudian Hilmar Farid, dalam esainya: Merawat Ingatan, Memetakan Perlawanan, dengan brilian membongkar struktur naratif tetralogi Buru. Ia menunjukkan, bahwa kompleksitas waktu dan sudut pandang dalam novel-novel tersebut bukan sekadar permainan estetika, melainkan strategi politik untuk melawan narasi tunggal sejarah.
Lebih lanjut, Farid menulis, “Dengan struktur naratif ini, tetralogi Buru mendorong kita menyusun ulang cara memahami sejarah, bukan sebagai rangkaian peristiwa yang utuh, tetapi sebagai proses yang bergejolak, tumpang tindih, di mana suara dan kepentingan berbenturan, dan terkadang disela keheningan” (hlm. lxxxiv).
Meski demikian, sebagai sebuah bunga rampai, buku PAT ini memiliki tantangan tersendiri. Dengan 46 esai, pembaca mungkin akan menemukan beberapa repetisi tema, terutama ketika banyak penulis menyoroti isu kolonialisme dan humanisme dari sudut pandang yang serupa. Kualitas argumentasi pun bervariasi; beberapa esai terasa sangat kuat dan inovatif, sementara yang lain lebih bersifat afirmatif terhadap kajian-kajian terdahulu.
Rekomendasi
Buku PAT ini adalah bacaan wajib bagi siapa pun yang ingin memahami Indonesia secara lebih utuh. Bagi akademisi dan mahasiswa sastra, buku ini adalah kumpulan referensi mutakhir yang kaya akan perspektif baru. Bagi sejarawan dan pegiat budaya, buku ini menawarkan cara pandang alternatif dalam membaca sejarah bangsa, sebuah sejarah dari sudut pandang “orang-orang kalah” yang diperjuangkan Pram.
Untuk generasi muda, buku ini teramat penting untuk dimiliki. Di tengah era digital yang serbacepat dan dangkal, buku ini mengajak kita untuk berhenti sejenak, membaca dengan saksama, dan merenungkan pertanyaan besar yang diajukan Pram: tentang keberanian, tentang keadilan, dan tentang apa artinya menjadi manusia.
Sebagai penutup, saya ingin menegaskan, bahwa membaca buku ini adalah meneguk kembali dari mata air itu. Ini bukan hanya perayaan atas seorang sastrawan, tetapi juga sebuah panggilan untuk terus merawat ingatan, memetakan perlawanan, dan berani membayangkan masa depan yang lebih adil. {*}
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi.), Dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).







