SURABAYA (Radarjatim.id) – Dalam rangkaian peringatan Tahun Kencana Setengah Abad Saṅgha Theravāda Indonesia ke-50, terus berlangsung di berbagai daerah di Indonesia. Pengecoran Rupang Buddha Nusantara Bhūmisparsa Mudrā, ini yang ke-5 dari total enam lokasi di Indonesia.

Pengecoran Rupang Buddha Nusantara Bhūmisparsa Mudrā, dihadiri 43 Bhikkhu Saṅgha, 15 Sāmaṇera, dan 15 Aṭṭhasīlanī. Juga ratusan umat Buddha dari seluruh Jawa Timur. Upacara sakral dilaksanakan di Vihāra Dhamma Jaya, kawasan Lontar, Kecamatan Sambikerep, Surabaya.
Prosesi Sakral dipaparkan oleh tiga nara sumber. Yaitu, Romo Widya Kusuma, Romo Vihara Dhammajaya Surabaya, Bhante Atthadhīro Thera, Ketua Umum Upacara Pengecoran Rupang Buddha Nusantara dan Supriyadi, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama RI.
Bhante Atthadhīro Thera, Ketua Umum Upacara Pengecoran Rupang Buddha Nusantara, menuturkan, ini menjadi pengecoran ke-5, dari total enam lokasi yang mewakili umat Buddha, di seluruh Nusantara. Dalam rangka memperingati 50 tahun perjalanan Saṅgha Theravāda Indonesia.
“Upacara Pengecoran Rupang Buddha Nusantara Bhūmisparsa Mudrā, dihadiri 43 Bhikkhu Saṅgha, 15 Sāmaṇera, dan 15 Aṭṭhasīlanī. Serta diikuti umat Buddha dari berbagai wilayah di Surabaya dan sekitarnya,” tuturnya, Minggu (17/05/2026)
Menurut Bhante Atthadhīro Thera, rangkaian kegiatan ini bukan sekadar seremoni keagamaan.
“Ini momentum refleksi atas perjalanan panjang Saṅgha Theravāda Indonesia dalam menjaga nilai toleransi, kebijaksanaan, dan keharmonisan di tengah keberagaman bangsa,” ungkapnya.
Suasana khidmat terasa sejak awal acara. Rangkaian kegiatan diawali dengan briefing peserta dan tamu undangan, dilanjutkan makan siang bersama serta pra-acara sebelum memasuki prosesi utama pada pukul 15.00 WIB.
Prosesi sakral dipimpin langsung oleh Bhikkhu Sri Subalaratano Mahāthera selaku Wakil Kepala Saṅgha Theravāda Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, menyampaikan Dhammadesanā atau pesan Dhamma. Mengajak umat untuk memperkuat nilai kebajikan, persatuan, dan kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Romo Widya Kusuma, Romo Vihara Dhammajaya Surabaya, menambahkan, “Pengecoran Rupang Buddha Nusantara Bhūmisparsa Mudrā, menjadi simbol spiritual sekaligus warisan budaya keagamaan. Diharapkan mampu mempererat persaudaraan umat Buddha di Indonesia,” jelasnya.
Supriyadi, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha, Kementerian Agama RI, berharap, “Semangat kebersamaan dan nilai-nilai Dhamma dapat terus berkembang serta memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” pungkasnya. (RJ9)




