GRESIK (RadarJatim.id) — Damar Kurung atau lentera khas Gresik, Jawa Timur biasanya dipasang menjelang bulan Ramadan sebagai lentera yang menjadi penanda menuju ke jalan-jalan pemakaman. Lentera ini yang kelak diyakini menjadi ”penerang” jalan bagi orang-orang yang mulai melakukan ritus padusan atau ziarah ke pemakaman sanak keluarga sebagai pembuka babak Ramadan.
Selanjutnya, secara kultural damar kurung juga dipasang di depan rumah, maupun tempat penting lain, misalnya di jalan kampung yang dilalui warga. Di sekujur permukaan lentera, cerita-cerita masyarakat Gresik, seperti tradisi pasar bandeng, perayaan Idul Fitri, suasana warung kopi, hingga keramaian alun-alun, dinarasikan melalui lukisan. Damar Kurung menjadi semacam kanvas tradisional berisi ingatan-ingatan warga untuk dituturkan.
The Jumping City merupakan pameran karya dua seniman, yakni Anhar dan Suef. Kedua seniman lintas generasi ini memilih medium lukisan Damar Kurung sebagai media berekspresi dan penyaluran proses kreatif mereka. Pameran ini diselenggarakan tepat menjelang memasuki bulan Suci Ramadan 1446 H.
Pameran ini dimulai sejak 22 Februari hingga 22 Maret 2025. The Jumping City yang dikuratori oleh Hidayatun Nikmah ini diselengarakan oleh Yayasan Gang Sebelah yang berlokasi di Galeri Loteng Kemasan, sebuah tempat bekas sarang burung walet yang berada di lantai atas Sualoka.Hub Jl. Nyai Ageng Arem-Arem II/20, Kampung Kemasan, Gresik.

Damar Kurung bukan hanya sebagai lentera dengan lukisan dekoratif semata, tetapi merupakan media untuk menggambarkan dinamika kehidupan kota dan manusia yang berjumpalitan di dalamnya.
“Setiap gambar pada Damar Kurung yang dibuat oleh Anhar dan Suef mengandung cerita dan pesan yang mengajak pengunjung untuk melihat kota Gresik dari berbagai sudut pandang yang berbeda,” ujar sang kurator Hidayatun Nikmah.
Terdapat delapan program pameran The Jumping City yang bisa diakses publik, seperti Ziarah Damar Kurung, Merangakai Damar Kurung, Workshop, Artist Talk, Screening Film, Curator Talk, Teater, dan Lomba Mewarnai. Tajuk The Jumping City dipilih, lanjut Hidayatun Nikmah, karena karya-karya Anhar dan Suef banyak menyoal kehidupan kota yang dinamis, yang progresif sekaligus regresif dalam satuan waktu yang sama dalam perkembangan kota.
”Harapan kami tidak muluk-muluk, semoga karya kami layak untuk dinikmati sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat, bahwa di Gresik masih ada seniman yang terus menjaga dan mengembangkan Damar Kurung sebagai bagian dari warisan budaya,” ungkap Suef.
Senada dengan rekannya, Anhar juga menyatakan tentang harapannya agar masyarakat Gresik terus melestarikan lentera berbentuk kubus tersebut.
”Semoga para pengunjung pameran ini, bisa mendapatkan sesuatu dari karya yang kami sampaikan. Sekaligus sebagai ajakan untuk melestarikan budaya, dalam hal ini seni Damar Kurung.”
Sebagaimana tradisi padusan, pameran The Jumping City sengaja diselengarakan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Pameran dibuka untuk umum, setiap hari, pukul 16.00 – 22.00 WIB dan berlangsung selama satu bulan. (fan/sha)







