Oleh Much. Khoiri
Judul Buku: Sastra Wayang
Editor: Novi Anoegrajekti, dkk.
Tahun Terbit: 2025
Penerbit: Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI)
ISBN: 978-623-96300-4-1
Jumlah Halaman: lxxxviii + 1102 halaman
Di era informasi yang bergerak secara disruptif dan batas-batas budaya semakin kabur, teka-teki tentang relevansi tradisi semakin penting. Bagaimana seni pertunjukan wayang masih berdiri kokoh, bahkan berbicara kepada generasi yang setiap hari dimanja oleh konten media sosial dan kecerdasan buatan?Buku Sastra Wayang ini, sebuah antologi monumental Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI), hadir untuk menjawab teka-teki tersebut.
Lebih dari itu, buku ini merupakan sebuah manifesto budaya. Dalam kata pengantarnya ditegaskan, bahwa buku ini merupakan bagian dari upaya melestarikan wayang sebagai “ikon dan identitas budaya bangsa Indonesia” (hlm. xxi). Dengan demikian, wayang bukanlah artefak beku masa lalu, melainkan sebuah “teks hidup” yang senantiasa berdialog, bernegosiasi, dan bertransformasi, sebuah cermin yang terus bergerak dan merefleksikan wajah zaman.
Sekilas tentang Buku
Sebagai sebuah kompendium yang luas, buku Sastra Wayang sukses menghimpun suara lebih dari 70 penulis negeri ini. Buku setebal lebih dari 1.102 halaman ini disusun dengan cermat untuk membimbing pembaca melalui aneka dimensi makna wayang. Diawali prolog yang mendalam oleh Prof Yoseph Yapi Taum yang secara cemerlang membedakan ‘Budaya Wayang’ sebagai ekosistem seni multimodal dengan ‘Sastra Wayang’ sebagai inti naratifnya (hlm. lxxxiii-lxxxiv). Buku ini selanjutnya terbagi menjadi klaster-klaster tematik yang ambisius.
Di bagian Lakon, Filosofi, dan Epos, pembaca diajak mendalami kembali pemikiran tokoh-tokoh ikonik. Ada analisis tentang intrik politik dalam drama Gatutkaca Kembar yang “dapat diartikan sebagai simbol politik, yaitu penciptaan regulasi baru untuk keuntungan pribadi dan kelompoknya” (hlm. 18), dekonstruksi mengenai nasib tragis Ekalawya yang tertekan oleh sistem (hlm. 148-165), serta penafsiran baru terhadap karakter-karakter perempuan seperti Drupadi, Srikandi, dan Kunthi melalui perspektif eksistensialisme dan ekofeminisme.
Bagian berikutnya, Transformasi, Resistensi, dan Komodifikasi, menunjukkan bagaimana sastra wayang terkait dengan permasalahan sosial terkini. Penelitian mengenai wayang Cina-Jawa di Yogyakarta, misalnya, memberikan pemahaman tentang negosiasi identitas etnis pada masa kolonial sebagai “strategi perlawanan budaya terhadap narasi kolonial sekaligus sarana persatuan antaretnis melalui seni dan tradisi” (hlm. 445).
Sementara itu, bagian Alih Wahana dan Tantangan Global dengan berani menggambarkan bagaimana sastra wayang menjelajahi arena baru. Dari transformasi menjadi novel-novel modern dan puisi kontemporer, hingga platform digital melalui animasi kreatif ‘Desa Timun’ yang “menjadi contoh nyata bagaimana warisan budaya tradisional dapat menyesuaikan diri dengan zaman digital tanpa menghilangkan esensi nilainya” (hlm. 702).
Bagian penutup, Revitalisasi, Negosiasi, dan Industri Kreatif, menyajikan analisis mengenai cara wayang tetap ada melalui strategi komunitas, contohnya pelestarian wayang golek oleh trah Asep Sunandar Sunarya yang menekankan bahwa “pelestarian tanpa inovasi pasti akan kalah oleh budaya lain” (hlm. 863), sampai dengan eksistensinya di ruang siber sebagai sarana reinterpretasi budaya dan hibriditas global.
Evaluasi Kritis
Kekuatan inti dari buku ini terletak pada keberaniannya untuk menghancurkan batas-batas kajian konvensional. Sastra Wayang tidak lagi memandang wayang sekadar sebagai objek filologi atau kajian budaya yang tetap. Dari catatan editor, para penulis buku ini telah berupaya “memperhatikan sisi-sisi dan kekurangan dalam objek materialnya untuk dikembangkan menjadi sebuah permasalahan, kemudian diteliti atau dianalisis melalui perspektif objek formal yang sesuai” (hlm. lxxix). Maksudnya, tradisi ini memiliki kompleksitas untuk dianalisis menggunakan berbagai kerangka teoritis kontemporer—dari feminisme, pascakolonial, ekokritik, hingga ekonomi kreatif.
Pernyataan paling mengena terkait semangat ini diambil dari penulis M. Yoesoef. Dalam esainya, ia menyatakan: “Karya-karya carangan modern itu juga mempertegas vitalitas sastra Indonesia dalam menegosiasikan tradisi dan modernitas. Tradisi menyediakan fondasi simbolik, sementara modernitas membuka ruang bagi tafsir kritis, refleksi personal, dan inovasi estetik. Dari titik temu keduanya lahir bentuk sastra yang berakar pada khazanah lokal, tetapi juga memiliki resonansi global. Carangan bukanlah teks final, melainkan tradisi yang terus diperbarui sebagai teks yang lentur, kritis, dan relevan.” (hlm. 145-146).
Kutipan ini secara cemerlang menekankan bahwa “carangan”—narasi cabang yang kerap dipandang sebagai variasi semata— sebenarnya merupakan inti dari kehidupan wayang. Di sinilah kekuatan buku ini terletak: ia merayakan inovasi, reinterpretasi, dan bahkan “penyimpangan kreatif” sebagai strategi budaya untuk mempertahankan relevansi tradisi, bukannya mengurungnya dalam batasan yang kaku dan kuno.
Lebih lanjut, Dr Sri Teddy Rusdy, dalam pengantar buku ini, menegaskan bahwa variasi studi dalam buku ini membuktikan “bahwa wayang merupakan cermin yang tak pernah final, karena manusia juga tak pernah berhenti dalam pencarian makna” (hlm. xxi). Wayang dapat beradaptasi dengan perubahan zaman, namun tetap menjaga nilai-nilai filosofisnya—sebuah ketegangan dialektis antara konservasi dan inovasi yang menghubungkan seluruh buku.
Rekomendasi
Buku Sastra Wayang, memang, sebuah proyek yang “ambisius” dan patut dikagumi di bidang intelektual dan kultural. Tampak dari epilog, “Wayang telah membuktikan dirinya sebagai ‘warisan abadi’ yang terus berkembang… selalu ada dan menemani manusia sebagai pengetahuan yang berbasis cerita (story-based knowledge) yang selalu memberikan ‘tantangan’ untuk dipelajari dan dikembangkan” (hlm. 1032). Kebijaksanaan sejati bukanlah sesuatu yang diwariskan secara utuh, melainkan terus-menerus diperjuangkan melalui proses tafsir dan pembaruan.
Meski kepadatan wacana dan keragaman perspektifnya mungkin terasa menantang bagi pembaca awam, bagi para akademisi, mahasiswa, budayawan, kreator konten, maupun pembuat kebijakan, buku ini merupakan khazanah yang tak ternilai. Ia bukanlah bacaan untuk sekadar dikonsumsi, melainkan sebuah cermin yang diajak untuk kita tatap bersama, sebuah cermin yang merefleksikan kompleksitas identitas bangsa yang berakar kuat pada sejarah, namun tidak pernah gentar melangkah menuju cakrawala masa depan.
Oleh sebab itu, penulis merekomendasikan buku ini wajib disimak oleh siapa pun yang meyakini, bahwa di tengah derasnya banjir informasi yang serba instan dan dangkal, manusia tetap memiliki kerinduan akan kedalaman. Kita tidak hanya perlu, tetapi juga wajib, untuk sesekali berhenti, merenung, dan becermin pada kearifan lokal yang abadi. Sebab, pada hakikatnya tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan kompas yang menuntun langkah menuju masa depan yang lebih bijaksana. {*}
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi), dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa).







