KEDIRI (RadarJatim.id) — Viralnya patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri, Jawa Timur tidak hanya menjadi bahan perbincangan warganet, tetapi juga dimanfaatkan pemerintah desa sebagai momentum menggerakkan ekonomi warga dan aktivitas sosial masyarakat.
Kepala Desa Balongjeruk, M. Safi’i, mengatakan, pemerintah desa bersama pengurus Patung Macan Putih telah menyepakati penyelenggaraan Car Free Day (CFD) secara rutin setiap Minggu di kawasan monumen tersebut.
“Alhamdulillah, kemarin sudah kami rapatkan dengan panitia pengelola Patung Macan Putih. Insya Allah setiap hari Minggu kami adakan CFD, dan besok tanggal 11 Januari ini CFD diisi senam, hiburan DJ, dan wahana bus hantu,” kata Safi’i, Sabtu (10/1/2026).
CFD kedua itu rencananya akan dipusatkan di sekitar area patung dan halaman SD di dekat lokasi. Salah satu daya tariknya adalah bus hantu dari film Alas Roban yang sebelumnya dipamerkan di pusat perbelanjaan di Kota Kediri.
Menurut Safi’i, wahana tersebut didatangkan tanpa pungutan tiket masuk. Warga dan pengunjung bisa menikmati seluruh kegiatan secara gratis. Bahkan, sebelumnya sekitar 145 warga Balongjeruk juga diajak menonton bersama film tersebut di pusat perbelanjaan, sebelum bus hantu dibawa ke desa.
“Tidak ada tiket masuk, gratis. Bus hantu ini hanya standby satu hari di sini, malam ini sampai besok, lalu kembali. Pengunjung bisa foto-foto atau melihat langsung ke dalam,” ujarnya.
Dari Bahan Bully hingga Magnet Kunjungan
Patung Macan Putih sebelumnya sempat menuai cibiran warganet setelah foto dan videonya viral di media sosial, terutama TikTok dan Instagram. Sejumlah unggahan menyebut bentuk patung tidak menyerupai harimau pada umumnya, bahkan disamakan dengan hewan lain.
Namun, viralnya patung tersebut justru memicu rasa penasaran publik. Berdasarkan pantauan dari unggahan media sosial, banyak pengunjung datang hanya untuk berfoto dan membuat konten, terutama pada malam hari dan akhir pekan. Lokasi patung pun ramai dipadati pedagang kaki lima.
Safi’i mengakui, pada awal pendirian patung sempat muncul keluhan warga yang menginginkan patung dibongkar atau dipindahkan. Namun, seiring meningkatnya kunjungan dan dampak ekonomi yang dirasakan, aspirasi itu berubah.
“Awalnya memang ada komplain, ada yang minta dibongkar atau dipindah. Tapi setelah viral dan membawa rezeki, warga tidak menghendaki lagi dibongkar,” ucapnya.
Pemerintah desa mencatat jumlah pedagang di sekitar Patung Macan Putih terus bertambah. Pada hari biasa, jumlahnya berkisar 90–100 pedagang. Sementara saat malam Minggu (Sabtu malam) dan CFD bisa mencapai lebih dari 150 pedagang.
Sejak Jumat (9/1/2026), pemerintah desa mulai menata kawasan dengan menerapkan retribusi kebersihan Rp 5.000 per pedagang per kavling. Dana tersebut akan digunakan untuk kebersihan dan sebagian dialokasikan sebagai kompensasi bagi warga sekitar yang terdampak keramaian, tetapi tidak berjualan.
“Kita bentuk tim pengelola tersendiri. Ini bukan untuk keuntungan pribadi, tapi untuk kebersihan dan membantu warga yang terdampak,” kata Safi’i.
Ke depan, Pemerintah Desa Balongjeruk juga merancang pengembangan kawasan Patung Macan Putih sebagai pusat kegiatan ekonomi dan wisata desa. Salah satu wacananya adalah penataan PKL dan pengembangan pasar desa, jika mendapat dukungan dan izin dari Pemerintah Kabupaten Kediri.
“Kalau nanti Pak Bupati mengizinkan dan ada bantuan lahan, kita musyawarahkan untuk pengembangan pasar desa, menata PKL, parkir, dan fasilitas pendukung seperti toilet,” ujar Safi’i.
Saat ini, parkir masih bersifat sukarela, sementara fasilitas umum masih terbatas. Pemerintah desa berharap ada bantuan dari kabupaten untuk penataan yang lebih permanen dan tertib. (rul)







