KEDIRI (RadarJatim.id) — Program makan bergizi gratis (MBG) secara perlahan mulai diterapkan di wilayah Kediri. Bahkan selama bulan Ramadan, program ini tetap berlanjut dengan mekanisme menyesuaikan jadwal libur sekolah, sesuai dengan Surat Edaran Bersama (SEB) 3 Menteri Nomor 2 Tahun 2025.
Pendistribusian MBG di bulan Ramadan ini, program itu akan dikemas menggunakan konsep layaknya pemberian sebuah takjil kepada para siswa penerima manfaat.
“Karena saat ini mayoritas penerima manfaat kan tengah menjalankan puasa, jadi nanti menyesuaikan sistem yang ada dari pihak madrasah,” kata mitra kerja Badan Gizi Nasional (BGN), yang Ketua YPI Sunan Ampel Al Muhsini, Yusron Ahmad, Rabu (5/3/2025).
Dalam droping program ini, Yusron menyebut, ke depannya tetap menggunakan sistem yang dibagi menjadi 3 kelompok umur penerima manfaat sebagai langkah untuk tetap memberikan kecukupan gizi, tanpa adanya kelebihan distribusi. Dari ketiga kelompok ini terbagi, seperti kelas 1 sampai 3 SD/MI itu kelompok 1, kelompok 2 meliputi kelas 4 sampai 6, sedangkan untuk kelompok 3 itu kelas 1 SMP/MTs sampai kelas 3 SMA/MA.
Adapun dalam satu wadah totebag yang diterima oleh para siswa atau penerima manfaat, nantinya adalah berisikan kurma, roti, buah, telur dan susu.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Alannadya Adila, menambahkan, nanti sebelum droping, penerima manfaat akan diberi totebag dan dibagikan melalui para pengajar. Saat pendistribusian berlansung, para siswa hanya akan mengganti wadahnya dengan totebag yang telah diberikan sebelumnya.
“Sistemnya seperti pertukaran wadah saja. Kami menyesuaikan sebagaimana yang telah diarahkan oleh BGN,” ujar Alannadya.
Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri merespon positif keberlanjutan program MBG saat bulan Ramadan yang diganti dengan menggunakan konsep takjil.
“Yang jelas kami sangat mendukung sekali kegiatan itu, karena harapannya siswa yang mendapatkan layanan MBG bisa membuat perkembangan kesehatan anak-anak semakin lebih bagus,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kab. Kediri, Moh Muhsin.
Menurut Muhsin, yang terpenting adalah kandungan gizi pada makanan yang diberikan kepada anak didik diperhatikan dengan baik.
“Bukan berbicara makanan ringan dan berat, tapi terpenting cakupan mengenai gizi yang harus dipertimbangkan,” ungkap Muhsin.
Pihaknya meyakini, program MBG itu membawa dampak yang baik bagi peserta didik. Hal itu mengingat tingkat kehidupan masyarakat berbeda-beda dalam mencukupi gizi anak. (rul)







