GRESIK (RadarJatim.id) — SMA Muhammadiyah 8 (Smamdela) Gresik kembali bikin bangga keluarga besarnya. Nurus Syifa Dwi Nazarina atau akrab dipanggil Naza, atlet nasional cabang lempar (lontar martil dan tolak peluru), berhasil meraih Golden Ticket Unesa (Universitas Negeri Surabaya) 2026 lewat jalur prestasi. Dari 52 ribu peminat, hanya 25 siswa yang berhasil lolos dan Naza termasuk salah satunya.
Perjalanan Naza sebagai atlet dimulai sejak jenjang SD. Awalnya, ia seorang pelari, namun pelatih melihat potensi lebih besar di nomor lempar.
“Dulu, saat Kejurnas pertama saya kalah. Itu jadi titik balik. Saya mulai berlatih serius agar tidak gagal lagi,” ungkapnya, Minggu (5/4/2026).
Sejak saat itu, Naza berlatih 2–3 jam setiap sesi, total 14–18 jam per minggu. Pengorbanannya tak sedikit dan waktu bermain bersama teman dan keluarga sering dikorbankan. Bahkan Naza pernah mengalami cedera engkel. Meski begitu, ia selalu menjaga mood dan fokus mental, terutama saat menghadapi tekanan menjelang lomba. Ada momen ketika rasa lelah fisik dan mental sempat membuatnya ingin berhenti. Tetapi, dukungan orang tua, pelatih, dan teman-temannya, selalu mengingatkan pada niat dan tujuan awalnya.
Tidak hanya soal fisik, Naza juga mengatur strategi akademik. Untuk meraih Golden Ticket Unesa, ia memaksimalkan prestasi atletik sebagai poin utama, sembari memastikan nilai rapor tetap memadai sebagai “point plus”. Sertifikat lomba provinsi hingga nasional menjadi bukti konsistensi dan kualitasnya.
“Jalur olah raga saya pilih karena sesuai passion dan sejalan dengan nilai rapor. Bimbingan guru BK, arahan pelatih, dan doa orang tua sangat membantu,” tandasnya.
Pengumuman resmi datang Selasa malam, 31 Maret 2026, setelah membuka pengumuman SNBP sore harinya. Saat nama Naza disebut, perasaan kaget bercampur bahagia.
“Saya sangat bersyukur karena tahu proses yang saya lewati tidak mudah. Hasil ini bukan cuma usaha saya, tapi doa dan dukungan orang tua, pelatih, guru, dan teman-teman juga,” kata Naza.
Dukungan berbagai pihak memang menjadi faktor penting. Smamdela selalu memberikan izin berlatih dan pelajaran tambahan saat Naza tertinggal pelajaran. Pelatih tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga membentuk mental tangguh, disiplin, dan konsistensi. Orang tua pun selalu memberikan dukungan moral maupun finansial, memastikan kebutuhan Naza sebagai atlet terpenuhi. Semua itu menjadikan perjalanan Naza lebih terarah dan fokus.
Di balik prestasi, Naza ingin berbagi pesan bagi adik-adik yang ingin mengikuti jejaknya. Ia menekankan pentingnya mengenali potensi diri, fokus pada proses, maksimalkan prestasi akademik dan non-akademik, minta doa dan dukungan orang tua, guru, serta pelatih, dan jangan lupa bersyukur.
“Jangan membandingkan prosesmu dengan orang lain. Setiap orang punya jalannya sendiri. Karena itu, fokus jalani prosesmu,” pesannya.
Prestasi Naza juga menegaskan konsistensi Smamdela dalam mencetak siswa berprestasi. Tahun 2025, Fajar Izzul meraih Golden Ticket Unair di program studi Sosiologi, sementara tahun 2026 ini, Naza berhasil meraih Golden Ticket Unesa di S1 Pendidikan Kepelatihan Olahraga. Smamdela membuktikan diri sebagai sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengembangkan potensi olah raga dan kepemimpinan siswanya secara konsisten.
Dengan kombinasi kerja keras, strategi cerdas, dan dukungan dari orang-orang terdekat, Naza membuktikan, bahwa menjadi atlet nasional tidak menghalangi prestasi akademik, bahkan membuka jalan langka menuju Golden Ticket. Smamdela, sekali lagi menunjukkan, bahwa ‘Sekolah Sang Juara’ bukan sekadar slogan, tapi bukti nyata. Siapkah menjadi sang juara berikutnya? (sha)
Kontributor: Liset Ayuni







