• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Jumat, 20 Maret 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Feature

Menengok Satu Esai Moh. Husen

by Radar Jatim
22 Agustus 2024
in Feature
0
Menengok Satu Esai Moh. Husen
149
VIEWS


Oleh: Hari Purnomo, M.E*

Lembaran Kebudayaan; Jurnal Seni dan Budaya
Edisi 31, Tahun 2014
Penerbit: Pusat Studi Budaya Banyuwangi

Jurnal Lembaran Kebudayaan (LK) edisi 31 yang terbit bulan Februari tahun 2014, memuat beberapa tulisan diantaranya: Arsip Tentang Kematian Kita – Halim Bahriz, Membuat Drama – AK. Armaya, dan Ingin Me-nanda-i – Moh. Husen. Sejumlah puisi karya Fatah Yasin Noor juga dimuat di edisi ini, diantaranya berjudul Belantara Hijau.

Moh. Husen merupakan seorang penulis kolom di media online yang produktif. Dia juga seorang jurnalis yang aktif memotret situasi desa maupun kota di Banyuwangi dengan penanya.

Pria domisili Rogojampi-Banyuwangi ini adalah Jamaah Maiyah yang konsisten mengikuti (baca: mempelajari) perjalanan Emha Ainun Nadjib. Baginya, Cak Nun adalah guru sekaligus patronnya dalam dunia kepenulisan.

Esai Ingin Me-nanda-i karya Moh. Husen muncul dalam LK Edisi 31 yang menarik minat saya untuk juga mengulitinya. Esai tersebut menyajikan permenungan tentang bahasa dan penggunaannya dalam konteks sosial dan pendidikan.

Husen menyoroti pentingnya memberikan tanda dalam komunikasi, sebagai sebuah konsep yang ia elaborasi melalui berbagai contoh dan analogi.

Husen membuka esainya dengan menggambarkan keadaan sulit dalam menemukan kata yang tepat untuk mengekspresikan maksud tertentu. Dia menekankan bahwa penggunaan bahasa yang tepat bukan hanya soal metodologi, tetapi juga rasa.

Di sini, Husen mengajak pembaca untuk mempertimbangkan bahwa antara yang tepat dan enak terdapat celah yang memerlukan pengembangan dan penyesuaian terus-menerus.

Husen memang penuh pertimbangan dalam menulis terutama saat melontarkan kata-kata. Ini menjadi landasan bagi sebuah argumen bahwa bahasa harus berkembang agar dapat memenuhi kebutuhan ekspresi yang tidak hanya benar secara teknis tetapi juga menyenangkan bagi pendengar atau pembaca.

Dalam bagian selanjutnya, Husen mengkritisi kekuasaan yang menurutnya sering kali mengganggu proses pencarian ilmu dan pengembangan bahasa. Ia menyoroti bagaimana kekuasaan bisa menjadi pisau belati yang membatasi kebebasan berpikir dan berinovasi.

Hal ini disampaikan dengan nuansa kritis terhadap otoritas bahasa yang bisa mandeg jika tidak membuka diri terhadap perubahan dan dinamika zaman. Husen mengingatkan bahwa peran guru adalah untuk memastikan generasi muda terus mencari ilmu dan tidak terjebak dalam pembelajaran yang kaku dan dogmatis.

Husen juga membahas dualitas antara bahasa resmi dan tidak resmi, mengajak pembaca untuk memahami bahwa keduanya memiliki tempat dan fungsi masing-masing dalam kehidupan.

Dia menegaskan bahwa dalam kehidupan sehari-hari, ada ruang untuk keduanya dan manusia sendiri yang harus menentukan proporsi penggunaannya. Pandangan ini mendukung fleksibilitas dan adaptasi bahasa dalam berbagai konteks sosial.

Melalui esai ini, Husen juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara kebebasan berekspresi dan tanggung jawab sosial. Dia menyatakan bahwa meskipun manusia bebas menciptakan dan mengubah kata, tetap ada batasan yang harus dijaga agar komunikasi tetap efektif dan bermakna.

Dengan mengutip prinsip-prinsip yang bersifat religius, Husen menambahkan dimensi spiritual dalam pemeliharaan bahasa dan menekankan bahwa bahasa adalah bagian dari amanah yang harus dijaga dengan baik.

Esai ini menawarkan keragaman sudut pandang tentang bahasa. Husen berhasil menggabungkan analisis kritis dengan permenungan pribadi, menghadirkan argumentasi yang kuat tentang pentingnya keberlanjutan dan fleksibilitas dalam penggunaan bahasa.

Esai ini tidak hanya mengajak pembaca untuk berpikir ulang tentang peran bahasa dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga menginspirasi mereka untuk lebih bijak dalam menggunakannya.

Tulisan ini saya buat sebagai langkah kecil dari pentingnya kita memiliki atau menjaga arsip dengan harapan mudah-mudahan bisa bermanfaat sebagai bahan literasi bagi generasi kita yang akan datang. So, ayo melestarikan arsip. (***)

Banyuwangi, 22 Agustus 2024

*Penulis adalah dosen Ekonomi Syariah IAI Ibrahimy Genteng Banyuwangi. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.

Tags: BanyuwangiEsaiLembaran KebudayaanMoh. Husen

Related Posts

Mudik Lebaran 2026, Banyuwangi Dirikan 10 Pos Kesehatan di Jalur Strategis

Mudik Lebaran 2026, Banyuwangi Dirikan 10 Pos Kesehatan di Jalur Strategis

by Radar Jatim
16 Maret 2026
0

BANYUWANGI (RadarJatim.id)–Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memastikan...

Satu Dekade OSSAMAA Banyuwangi Sukses Gelar Aneka Lomba Se-Jatim

Satu Dekade OSSAMAA Banyuwangi Sukses Gelar Aneka Lomba Se-Jatim

by Radar Jatim
31 Januari 2026
0

BANYUWANGI (RadarJatim.id) – Olimpiade Sains,...

Melalui Program KING Peduli, Masyarakat Desa Gladag Rogojampi Ucapkan Terima Kasih

Melalui Program KING Peduli, Masyarakat Desa Gladag Rogojampi Ucapkan Terima Kasih

by Radar Jatim
21 Januari 2026
0

BANYUWANGI (RadarJatim.id) -- PT King...

Load More
Next Post
Plt. Bupati Subandi Ajak Memperjuangkan Nasib Guru Honorer

Plt. Bupati Subandi Ajak Memperjuangkan Nasib Guru Honorer

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • Transportasi
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In