• Pasang Iklan
  • Redaksi
  • Contact
Rabu, 21 Januari 2026
No Result
View All Result
e-paper
Radar Jatim
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
  • Home
  • Bisnis
  • Hukum dan Kriminal
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Lifestyle
  • Contact
No Result
View All Result
Radar Jatim
No Result
View All Result
Home Artikel dan Opini

Rebut Perhatian Allah Saat Ramadan di Masa Pandemi

by Radar Jatim
24 April 2021
in Artikel dan Opini
0
Rebut Perhatian Allah Saat Ramadan di Masa Pandemi

M. Anwar Djaelani

37
VIEWS

Oleh M. ANWAR DJAELANI

Alhamdulillah, kita dipertemukan lagi dengan Ramadan. Kali ini merupakan Ramadan kedua yang kita laksanakan di masa pandemi Covid-19.

Tentu, kecuali tetap prihatin, kita harus tetap berseri-seri dalam menyambut dan menjalani puasa. Hal ini karena sunnah Rasulullah SAW memang demikian. Selanjutnya, ambil hikmah berpuasa di masa pandemi.

Puasa Ramadan hukumnya wajib bagi kaum beriman. Ini sesuai titah Allah SWT ini: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah [2]: 183).

Banyak pelajaran yang akan didapat dari ibadah puasa. Sekadar menyebut sebagian di antaranya, puasa melatih kita untuk bisa mengendalikan hawa-nafsu. Puasa mengajari kita untuk sigap membantu sesama yang kekurangan, sebab kita merasakan sendiri betapa tak nyamannya jika sedang lapar, misalnya.

Bagaimana situasi sosial-kemasyarakatan di dua Ramadan terakhir ini? Bacalah setidaknya dua berita ini: Pertama, PJJ di Masa Pandemi, KPAI: Beberapa Siswa Terpaksa Dirawat di Rumah Sakit Jiwa (www.sindonews.com: 24/01/2021). Kedua, Dampak Covid-19: 2,7 juta orang masuk kategori miskin selama pandemi, pemulihan ekonomi ‘butuh waktu lama’ (www.bbc.com: 17/02/2021).

Pada berita pertama di atas, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listiyarti banyak memberikan catatan terhadap pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang berdampak negatif terhadap kesehatan.

“KPAI sendiri dalam pengawasan sudah menemukan, beberapa anak memang terpaksa dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ), karena mengalami gangguan kesehatan secara psikologis,” ungkap Retno.

Bagaimana kondisi murid pada beberapa waktu sebelumnya? Di antaranya pada 24/07/2020, di sebuah situs ada berita ini: “Siswa Belajar Online di Kebun yang Jadi Sarang Ular, Orangtua Was-was: Mau Beli Kuota Gak Ada Uang”.

Di berita kedua, disebutkan sebagai contoh, bahwa ada sepasang suami-istri yang terpaksa berhenti bekerja di pabik. Mereka bekerja di pabrik yang berbeda, tapi sama-sama terdampak pandemi. Pabrik mereka akhirnya tutup.

Lalu, cermatilah kondisi anggota masyarakat lewat berita setahun sebelumnya. Bacalah, pada 21/03/2020–yang bisa dibilang terjadi di saat awal-awal pandemi Covid-19 masuk Indonesia-, berikut ini. “Minggu Pertama WFH Pendapatan Ojol Turun 50%” (catatan, ojol singkatan dari ojek online).

Apa arti berita-berita di atas? Jelas, di masa pandemi Covid-19 yang sekarang masuk di tahun kedua ini, kita sedang berada di situasi yang sangat sulit. Kita sedang berada di masa yang sungguh berat.

Pertama, penyakit menular yang ditimbulkan virus corona itu bisa menimpa siapa saja. Kedua, tak hanya sakit dan kematian yang membayangi kita, tapi juga terjadi gangguan serius di semua aspek kehidupan termasuk di sisi ekonomi dan pendidikan.

Solusi dan Hikmah

Untuk sisi penguatan daya tahan tubuh agar tak mudah terpapar Covid-19, ada solusi menarik dari Abdurachman Latief, Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair. Di Republika 24/03/2020 dia menulis: “Melesatkan Imunitas”. Intinya, kita akan selamat dari Covid-19 jika memiliki imunitas optimal. Imunitas bisa dilesatkan melalui upaya fisik dan nonfisik. Lewat nonfisik, bersihkan egoisme dan perkuat altruisme.

Mari kita garisbawahi, kita cermati kalimat ini: “Bersihkan egoisme dan perkuat altruisme. Apa egoisme? Egoisme adalah sikap mementingkan diri sendiri. Apa altruisme? Itu adalah sikap untuk selalu mendahulukan kepentingan orang lain.

Altruisme adalah bersegera membantu siapa pun yang membutuhkan. Eloknya, altruisme akan berbuah kebahagiaan dan bisa melahirkan imunitas yang kuat, badan sehat, tenang, dan sejahtera.

Sejumlah penelitian ilmiah mendukung kesimpulan tersebut. Alhasil, setiap kita berpeluang melesatkan imunitas sampai optimal dengan altruisme. Lalu, dengan itu, kita bisa “Menuntaskan problem global Covid-19,” kata Prof Abdurachman.

Atas penjelasan di atas, nilai-nilai puasa yang dijalani umat Islam sangat potensial untuk “menyediakan” dua kondisi yang sangat berperan positif dalam hidup bermasyarakat itu. Misal, dengan merasakan lapar dan haus sejak Subuh sampai Maghrib, jiwa kita akan terasah untuk berempati kepada kalangan yang sedang berkekurangan.

Dengan tumbuh-suburnya rasa empati kepada sesama, hampir dapat dipastikan mereka tak akan memiliki sikap egoisme. Sebaliknya, di diri mereka terpupuk sikap altruisme yaitu sigap menolong siapa pun yang membutuhkan. Lebih lanjut, altruisme akan lebih hebat lagi jika sunnah memperbanyak infaq dan sedekah di bulan Ramadan juga kita lakukan.

Pelajaran di Sekitar

Pelajaran utama yang harus kita ambil, tentu dari Al-Qur’an. Salah satunya, tentang keharusan untuk bersegera dalam mengerjakan pelbagai amal-salih. Perhatikanlah: “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan. Mereka menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang shalih” (QS Ali ‘Imraan [3]: 114).

Pelajaran yang lain, bisa berasal dari teladan orang-orang yang kita kenal sebagai orang salih. Dalam kaitan ini, insya-Allah KH Ahmad Dahlan (1868-1923) termasuk pribadi salih, yang sigap membantu orang atau masyarakat.

Sejarah mencatat: Harta, pikiran, tenaga, dan –pendek kata- semua yang dimiliki KH Ahmad Dahlan telah dihibahkan di jalan Allah. Bagi beliau, mengorbankan harta sangat utama. Pernah, di suatu ketika, beliau berkata: “Janganlah kamu berteriak-teriak sanggup membela agama dengan menyumbangkan jiwamu. Jiwamu tak usah kamu tawarkan. Kalau Tuhan menghendakinya, entah dengan jalan sakit atau tidak, tentu kamu akan mati. Tapi, beranikah kamu menawarkan harta-bendamu untuk kepentingan agama? Itulah yang lebih diperlukan pada waktu sekarang ini.”

KH Ahmad Dahlan konsekwen dengan ucapannya. Tentang ini, tentu akan sangat banyak contoh yang bisa diungkap. Berikut ini sekadar menyebut dua contoh saja.

Pertama, ajaran untuk tak mempraktikkan egoisme. Lihat pengorbanan waktu bersama keluarga yang pernah diperagakan KH Ahmad Dahlan. Pernah ulama asal Kauman Yogyakarta itu tetap bersemangat mengajar meski sang anak sedang sakit keras.

Alkisah, suatu hari KH Ahmad Dahlan sedang mengajar di kelas. Di saat sedang serius bersama murid-muridnya, istri KH Ahmad Dahlan datang dan berkabar, bahwa salah seorang putra mereka sakit keras.

Setelah pamit ke murid-murid untuk sementara waktu pulang, KH Ahmad Dahlan lalu menemui sang anak. Setelah memberi semangat dan mendoakan si anak, KH Ahmad Dahlan bersiap kembali menemui murid-muridnya.

Sang istri nampak seperti berkeberatan jika KH Ahmad Dahlan segera kembali mengajar. Atas hal itu, dengan tersendat-sendat KH Ahmad Dahlan berkata: “Wahai Nyai, janganlah engkau menyangka, bahwa jika aku tetap menunggui anakmu ini dia akan sembuh dan jika aku tinggalkan akan mati. Tidak Nyai, mati dan hidup di Tangan Allah, Tuhanmu dan Tuhanku, serta Tuhan dari Jumhan anak kita.” Setelah berkata-kata seperti itu, KH Ahmad Dahlan kembali ke tempat dia mengajar.

Kedua, ajaran untuk selalu siap menjalankan altruisme yaitu sigap dalam usaha menolong sesama terutama dengan mengorbankan harta atau uang yang dimiliki. Ini menyangkut kepedulian KH Ahmad Dahlan yang sangat tinggi terhadap usaha memajukan pendidikan bangsanya. Perhatikan kisah “KH Ahmad Dahlan dan Gaji Guru” berikut ini.

Suatu hari, KH Ahmad Dahlan akan melelang perabot rumah-tangganya ketika tak ada uang untuk membayar gaji guru di sekolahnya. Atas rencana itu, banyak sahabatnya yang tidak tega, lalu membeli barang-barang itu dengan harga jauh lebih mahal dari yang semestinya.

Dari dua kisah di atas, sekali lagi, kisah yang pertama mengajarkan agar kita tak egois. Sementara kisah yang kedua mendidik kita agar selalu menjalankan altruisme yaitu bersegera membatu orang lain.

Membantu di Saat Sulit?

Sejak Covid-19 menjadi pandemi, semua orang tanpa kecuali merasa berada dalam kesempitan. Situasinya sangat menekan semua kalangan. Misal, pemimpin pusing dan apalagi rakyat, atau pengusaha pusing dan apalagi karyawan.

Atas situasi yang tak enak ini, tak seorang pun tahu akan berakhir kapan. Oleh karena itu, justru di momentum seperti inilah tepat untuk mempraktikkan ajaran mulia ini: Selalu berinfak, baik di saat lapang ataupun sempit.

Sungguh, berinfak di saat lapang ataupun sempit, banyak hikmahnya. Termasuk, tentu saja, menjadi salah satu cara agar kita bisa menekan egoisme dan pada saat yang sama menyuburkan altruisme.

Jangan ragu, teruslah berinfak agar kita bisa mencapai kebajikan yang mulia di hadapan Allah. “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan, sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS Ali ‘Imraan [3]: 92).

Bersegeralah berinfak. Lalu, pertahankanlah hal itu menjadi sebuah kebiasaan yang terus kita amalkan, baik ketika lapang maupun sempit. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Ali ‘Imraan [3]: 134).

Mau Istimewa?

Mari kita jalani puasa Ramadan di masa pandemi dengan tetap bersemangat. Kita laksanakan puasa Ramadan tetap dengan wajah selalu berseri-seri. Mengapa? Sebab Ramadan akan setia mengajari umat Islam yang berpuasa di dalamnya untuk tak punya sikap egoisme. Juga, Ramadan akan senantiasa mendidik kaum Muslimin yang berpuasa agar punya sifat altruisme, yakni suka dan sigap membantu sesama.

Selamat berpuasa! Semoga Allah ridha dengan puasa kita. Semoga dengan berbagai hikmah berpuasa, masa pandemi ini bisa kita lewati dengan penuh kesabaran. Semoga dengan beragam pelajaran di dalamnya, terutama umat Islam yang benar-benar terdampak secara serius akibat pandemi, bisa merasakan bahwa mereka punya saudara banyak-sesama Muslim-yang siap meringankan beban mereka.

Terakhir, mari berlomba-lomba “mencari perhatian” Allah. “Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS Al-Maaidah [5]: 93). Berbuat baik kepada orang lain termasuk kebajikan yang sangat disukai Allah, maka “bersainglah” dalam mengerjakannya. “Berlomba-lombalah berbuat kebajikan” (QS Al-Maaidah [5]: 48). [*]

*) M. ANWAR DJAELANI adalah penulis buku dan pegiat leterasi di Jaringan Literasi Indonesia (Jalindo).

Tags: M. Anwar Djaelanimasa pandemiRamadanRebut Perhatian Allah

Related Posts

Melihat Ramadan Produktif di SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo

Melihat Ramadan Produktif di SMK Negeri 2 Buduran Sidoarjo

by Radar Jatim
28 Maret 2025
0

SIDOARJO (RadarJatim.id) -- Hari terakhir...

Amankan SE Bupati, Tim Gabungan Sisir Tempat Karaoke dan Rumah Kos, Pergoki 2 Pasangan Haram

Amankan SE Bupati, Tim Gabungan Sisir Tempat Karaoke dan Rumah Kos, Pergoki 2 Pasangan Haram

by Radar Jatim
26 Maret 2025
0

TULUNGAGUNG (RadarJatim.id) -- Satuan Polisi...

Festival Pasar Bandeng Jelang Lebaran, MUI Gresik: Jangan Sekadar Tradisi, tapi Harus Berdampak pada Peningkatan Perekonomian Umat

Festival Pasar Bandeng Jelang Lebaran, MUI Gresik: Jangan Sekadar Tradisi, tapi Harus Berdampak pada Peningkatan Perekonomian Umat

by Radar Jatim
26 Maret 2025
0

GRESIK (RadarJatim.id) -- Majelis Ulama...

Load More
Next Post
Transaksi Digital Tembus Rp40,85 Triliun, BSI Mobile Naik 82%  

Transaksi Digital Tembus Rp40,85 Triliun, BSI Mobile Naik 82%  

Radar Jatim Video Update

Berita Populer

  • Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    Tangis Haru Mewarnai Suasana Penjemputan Siswa SMA Negeri 1 Wonoayu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Soft Launching KM Dharma Kencana V, Fasilitas Mewah Berkapasitas 1.400 Penumpang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ribuan Warga Doakan Keluarga Besar SMK Antartika 2 Sidoarjo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Analisis Semantik Puisi ‘Aku Ingin’ Karya Sapardi Djoko Damono

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kampus yang Tak Lagi Dihuni Intelek: Mengapa Dosen Mencari Eksistensi Diri di Luar Kampus?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Radar Jatim adalah media online Jatim yang memberikan informasi peristiwa dan berita Jawa Timur dan Surabaya terkini dan terbaru.

Kategori

  • Artikel dan Opini
  • Ekonomi Bisnis
  • Ekosistem Lingkungan
  • Esai/Kolom
  • Feature
  • Finance
  • HAM
  • Hukum dan Kriminal
  • Infrastruktur
  • Kamtibmas
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Komunitas
  • Kuliner
  • Lain-lain
  • Layanan Publik
  • Lifestyle
  • Literasi
  • Nasional
  • Olah Raga
  • Ormas
  • Otomotif
  • Pariwisata
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Peristiwa
  • Pertanian
  • pinggiran
  • Politik
  • Religi
  • Sastra/Budaya
  • Sosial
  • Tekno
  • TNI
  • TNI-Polri
  • video
  • Wisata

Kami Juga Hadir Disini

© 2020 radarjatim.id
Susunan Redaksi ∣ Pedoman Media Siber ∣ Karir

No Result
View All Result
  • Home
  • Politik
  • Hukum dan Kriminal
  • Nasional
  • Lifestyle
  • Tekno
  • Ekonomi Bisnis
  • Artikel dan Opini

© 2020radarjatim.id

Login to your account below

Forgotten Password?

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In