BOJONEGORO (Radarjatim.id) – Peningkatan kualitas kesehatan masyarakat tidak terlepas dari peran penting optimalisasi pelayanan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) untuk peserta BPJS Kesehatan. Sebagai ujung tombak pelayanan promotif dan preventif, FKTP juga berfungsi sebagai gatekeeper dalam tata kelola sistem kesehatan nasional.
Perbincangan seputar hal ini digelar dalam acara talkshow SAPA! yang disiarkan Malowopati FM pada hari Selasa, 10 Maret 2026. Dengan tema “Optimalisasi Pelayanan Promotif dan Preventif di FKTP Melalui Screening Riwayat Kesehatan”, acara yang dipandu oleh Lia Yunita menghadirkan narasumber Era Ajar Siswadika, Kepala Bagian Penjaminan Manfaat dan Utilisasi BPJS Kesehatan Kabupaten Bojonegoro.
Menurut narasumber, FKTP menyelenggarakan empat kategori layanan kesehatan utama, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun fokus utama tetap pada aspek promotif dan preventif sebagai bagian dari peran gatekeeper yang diembannya.
“Upaya promotif dilakukan dengan memberikan edukasi serta informasi terkait kesehatan kepada masyarakat luas. Di antaranya adalah mengedukasi tentang penerapan pola hidup sehat, pentingnya kebersihan lingkungan, hingga pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dalam aktivitas sehari-hari,” jelasnya.
Di sisi lain, upaya preventif berupa langkah-langkah untuk mencegah munculnya penyakit, salah satunya melalui program imunisasi dan screening kesehatan. Tujuan utama dari upaya ini adalah menekan laju penyebaran penyakit sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan sejak dini.
Era Ajar Siswadika menambahkan bahwa upaya promotif dan preventif harus dimulai dari perubahan perilaku hingga terbentuknya kesadaran mandiri masyarakat dalam menjaga kesehatan. BPJS Kesehatan sendiri mendukung hal ini melalui fitur screening riwayat kesehatan yang tersedia pada aplikasi Mobile JKN.
“Melalui aplikasi Mobile JKN, peserta dapat melakukan screening kesehatan secara berkala minimal satu kali dalam setahun dengan cara melakukan registrasi dan menjawab serangkaian pertanyaan terkait kondisi kesehatan mereka. Hasil screening bukan merupakan diagnosis definitif, melainkan gambaran risiko terhadap beberapa jenis penyakit tertentu agar peserta dapat segera melakukan pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan,” ungkapnya.
Program screening ini telah berjalan sejak tahun 2014 dan saat ini mendapatkan dukungan dari program pemerintah melalui kegiatan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Selain itu, FKTP juga telah mengidentifikasi sekitar 14 jenis penyakit yang prevalensi nya cukup tinggi di masyarakat. Bila melalui screening ditemukan peserta yang memiliki risiko terhadap penyakit tertentu seperti kanker payudara, kanker serviks, talasemia, atau hemofilia, maka akan dilakukan rujukan ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih mendalam guna mencegah perkembangan penyakit ke tahap yang lebih berat.
Diharapkan dengan optimalisasi pelayanan promotif dan preventif di FKTP, masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan dan melakukan pemeriksaan secara teratur. Melalui deteksi dini dengan screening kesehatan, risiko penyakit dapat dikenali lebih awal sehingga penanganannya dapat dilakukan dengan lebih cepat dan tepat sasaran. (PRADAH)






