Resensi Buku oleh Much. Khoiri
Judul Buku: Seratus Tahun A.A. Navis: Kajian Kritis, Pemikiran, dan Visi Budaya
Editor: Novi Anoegrajekti, dkk.
Penerbit: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa bekerja sama dengan HISKI
Tahun Terbit: 2024
Tebal: lxvi + 962 halaman
ISBN: 978-623-504-588-7
Siapa tak kenal nama Ali Akbar Navis? Nama A.A. Navis tidak pernah lekang oleh waktu di panggung sastra Indonesia. Julukannya sebagai “pencemooh nomor wahid” bukanlah cercaan, melainkan sebuah pengakuan atas keberanian dan ketajamannya dalam mengkritik realitas sosial, budaya, dan agama melalui karya sastra.
Ketokohan itulah yang menjadi inspirasi mengapa buku ini dihadirkan sebagai sebuah monumen intelektual yang megah. Diterbitkan bersama oleh Badan Bahasa dan HISKI, buku ini bukan sekadar kumpulan esai biasa, melainkan sebuah simposium dalam bentuk pustaka yang merayakan sekaligus menggali ulang kedalaman visi seorang maestro.
Buku 962 halaman ini menyajikan 44 tulisan dari para pakar lintas disiplin, mulai dari sastra, sejarah, linguistik, hingga kajian budaya. Kekayaan perspektif ini adalah kekuatan utama buku ini. Prof Novi Anoegrajekti dkk. selaku tim editor dengan cerdas memetakan tulisan-tulisan tersebut ke dalam tema-tema besar, seperti hubungan Navis dengan identitas Minangkabau dan Islam, kritik sosial-politiknya, hingga analisis tekstual atas gaya bahasanya yang khas.
Yang menggelitik, buku diawali dengan tampilan puisi Harta Karun Kesusasteraan: A.A. Navis karya Prof Dr Djoko Saryono, MPd. Ia juga dilengkapi nutrisi tiga kata pengantar: dari Kata Pengantar Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Kata Pengantar Dirjen Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, dan Kata Pengantar Keluarga. Barulah ditampilkan kajian atas karya-karya A.A. Navis dalam pusaran perspektif
Dalam hal ini, pembaca diajak untuk tidak hanya mengenal Navis sebagai penulis cerpen fenomenal Robohnya Surau Kami, tetapi juga sebagai budayawan yang getol menegosiasikan adat dan agama, seorang politisi yang kritis terhadap kekuasaan, seorang pendidik masyarakat, dan bahkan seorang pemikir global yang berpijak pada kearifan lokal.
Prolog dari Melani Budianta secara brilian membuka cakrawala dengan mengaitkan gaya penceritaan Navis —yang gemar menggunakan cerita berbingkai dan tokoh pembual— dengan tradisi sastra dunia, seperti cerpen klasik Rip Van Winkle. Hal ini menunjukkan, bahwa kekhasan Navis tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari persinggungannya dengan lanskap intelektual yang luas.
Kekuatan lain buku ini terletak pada kedalaman dan keberagaman kajiannya. Setiap bab ibarat sebuah penggalian arkeologi yang mengungkap lapisan makna baru dari karya-karya Navis. Alih-alih sekadar mengapresiasi dan memuji, para penulis dengan berani mengonfrontasikan berbagai gagasan Navis, menciptakan dialektika yang memperkaya pemahaman pembaca.
Salah satu kutipan paling kuat datang dari Hilmar Farid, PhD, Dirjen Kebudayaan, yang secara brilian menghubungkan novel Kemarau dengan buku non-fiksi Navis, Alam Terkembang Jadi Guru. Ia menulis:
“Navis menggunakan latar kemarau untuk menyoroti kekurangan dalam sistem nilai yang nyata dalam masyarakat, yang berbeda jauh dari sistem nilai yang dijabarkannya dalam Alam Terkembang Jadi Guru. Konflik yang bersumber dari masa lalu Sutan Duano dengan keluarganya juga mencerminkan kekeringan jiwa yang bisa melanda manusia ketika tidak ditangani dengan baik.”
Kutipan di atas sangat kuat karena menyoroti kegelisahan intelektual Navis. Ia tidak hanya menciptakan idealisme adat Minangkabau, tetapi juga dengan jujur menggambarkan kegagalan masyarakat dalam menghidupi idealisme tersebut. “Kemarau” di sini menjadi metafora yang sempurna untuk kebudayaan yang kehilangan sumber air kehidupannya: hubungan yang harmonis dengan alam dan sesama manusia.
Sementara itu, Prof Dr Aprinus Salam mengupas kompleksitas identitas dalam diri orang Minangkabau menurut Navis:
“Secara strategis, Navis telah membedakan ‘satuan-satuan identitas’, kapan seseorang perlu tetap sebagai subjek individual, kapan seseorang sebagai subjek kolektif. Relasi keduanya bisa saling melengkapi dan mengisi… Semua hadir secara bersamaan dengan caranya sendiri-sendiri.“
Analisis Aprinus ini membuktikan, bahwa karya Navis bukan sekadar sindiran atau cemoohan sinis di permukaan. Ia adalah seorang pemikir eksistensial yang memahami pergulatan batin manusia modern yang terjepit antara tuntutan tradisi kolektif dan kehendak untuk merdeka sebagai individu.
Dengan hadirnya 44 tulisan, buku ini memang sangat padat dan berbobot. Kekayaannya bisa menjadi tantangan tersendiri bagi pembaca awam. Beberapa artikel menggunakan jargon teoretis yang mungkin terasa berat. Namun, bagi mereka yang ingin menyelami pemikiran Navis secara komprehensif, “kepadatan” ini justru merupakan nilai jual utamanya.
Saya merekomendasikan, buku Seratus Tahun A.A. Navis adalah bacaan wajib bagi akademisi, mahasiswa, peneliti sastra dan budaya, serta para pegiat literasi. Bagi pengagum setia Navis, buku ini adalah sebuah mahakarya yang memberikan perspektif segar dan interpretasi baru atas karya-karya yang selama ini dicintai.
Lebih dari itu, kritik Navis tentang kemunafikan sosial, eksploitasi lingkungan, dan disfungsi kepemimpinan yang diulas dalam buku ini masih bergulir kuat hingga hari ini, membuatnya relevan untuk para pengambil kebijakan dan siapa pun yang peduli pada masa depan bangsa.
Dengan membaca buku ini, pembaca tidak hanya merayakan masa lalu, tetapi juga belajar cara mencermati dan mengkritisi masa kini dengan lebih cerdas, jenaka, dan tajam, persis seperti yang diajarkan oleh sang “pencemooh” ulung, A.A. Navis. {*}
*) Much. Khoiri, dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Founder Rumah Virus Literasi, editor dan penulis 81 buku.






