Oleh Much. Khoiri
Judul Buku: Belajar Tanpa Batas: Inklusi Sosial di Perguruan Tinggi
Penulis: Raden Roro Nanik Setyowati, dkk.
Penerbit: PT. Pustaka Saga Jawadwipa, Surabaya
Tahun Terbit: Oktober 2025
Tebal: 203 halaman
ISBN: 978-634-7372-20-8
Di ruang rapat pimpinan perguruan tinggi, ada satu pertanyaan yang jarang dilontarkan terkait inklusivitas kampus: “Seberapa inklusif kampus kita hari ini?” Buku Belajar Tanpa Batas: Inklusi Sosial di Perguruan Tinggi (2025), karya tim penulis dari Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Negeri Malang, hadir untuk menjawab kegelisahan tersebut.
Buku ini bukan sekadar kumpulan esai normatif, melainkan laporan kolaborasi lintas kampus yang berbasis pada penelitian empiris. Sebagaimana ditegaskan dalam Bab 1, “kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antarperguruan tinggi mampu menghasilkan karya akademik yang bermutu dan bermanfaat luas” (hlm. 1).
Dengan pendekatan evidence-based, buku ini menawarkan sesuatu yang langka di tengah melimpahnya literatur inklusi yang hanya berkutat pada wacana: ia membahas praktik nyata, hambatan riil, dan jalan keluar yang terukur.
Tinjauan Sekilas tentang Buku
Apa saja yang menarik dari buku ini? Mari kita tinjau sekilas. Buku setebal 203 halaman ini terbagi menjadi delapan bab yang mengalir secara logis, dari landasan konseptual hingga masa depan inklusi sosial.
Bab 1 dan Bab 2 membangun fondasi dengan memaparkan horizon baru serta konsep dasar inklusi sosial. Penulis dengan cermat menguraikan sepuluh dimensi inklusi sosial—mulai dari akses terhadap sumber daya, partisipasi aktif, pengakuan keberagaman, hingga pembentukan identitas sosial yang inklusif (hlm. 24-27). Ini bukan sekadar daftar; ini adalah kerangka kerja yang utuh untuk menguji apakah sebuah kampus benar-benar inklusif atau hanya berpura-pura.
Lalu Bab 3 (Paradigma Pembelajaran Sosial) dan Bab 4 (Nilai-Nilai Inklusi Sosial) memperkuat sisi teoretis dengan menekankan pentingnya kecerdasan emosional. Penulis mengutip Daniel Goleman bahwa “dalam dunia kerja dan sosial yang terus berubah, kecerdasan emosional bahkan lebih menentukan kesuksesan jangka panjang daripada kecerdasan intelektual” (hlm. 44-45). Ini adalah penegasan bahwa inklusi bukan urusan fisik semata, melainkan persoalan hati dan relasi yang manusiawi.
Bab 5 (Strategi Pembelajaran) dan Bab 6 (Implementasi Praktik) adalah jantung buku ini. Di sinilah teori bertemu realitas. Penulis memaparkan model-model pembelajaran inklusif: diskusi kelompok, studi kasus, dan pembelajaran berbasis proyek (hlm. 112-122). Sintaks setiap model dijelaskan secara rinci—dari pendahuluan hingga refleksi—sehingga dosen dapat langsung mempraktikkannya. Yang lebih menarik, Bab 6 menyajikan temuan-temuan empiris yang menyayat hati: “Mahasiswa difabel masih menghadapi hambatan akses fisik di banyak perguruan tinggi. Beberapa gedung tidak memiliki fasilitas seperti ramp atau lift yang sesuai standar” (hlm. 125). Ini bukan sekadar laporan; ini adalah dakwaan.
Terakhir, Bab 7 (Inklusi Sosial dalam Pembelajaran) dan Bab 8 (Masa Depan Inklusi Sosial) menutup buku dengan penekanan pada desain kurikulum inklusif, peran guru sebagai fasilitator, serta rekomendasi konkret seperti pembentukan Unit Layanan Disabilitas (ULD) dan integrasi mata kuliah inklusi ke dalam kurikulum lintas program studi (hlm. 192-193).
Evaluasi
Dari evaluasi kritis, kekuatan utama buku ini terletak pada keberaniannya berbicara berdasarkan data, bukan angan-angan. Setiap bab tidak hanya menyajikan teori, tetapi juga merujuk pada penelitian-penelitian terkini (hlm. 46-47, 124-129). Penulis tidak takut mengungkap fakta pahit: kesenjangan antara kebijakan dan praktik masih lebar, pelatihan dosen belum merata, dan infrastruktur ramah difabel masih menjadi kemewahan bagi sebagian besar kampus. Misalnya, penelitian Feriani (2017) yang dikutip menunjukkan bahwa “dosen masih menghadapi tantangan dalam berinteraksi dengan mahasiswa difabel” karena minimnya pelatihan (hlm. 126-127).
Kemudian, kekuatan lain adalah format book chapter yang memungkinkan setiap penulis menyumbangkan keahliannya. Hasilnya, pembaca memperoleh perspektif yang kaya dan saling melengkapi—tidak monoton. Pendekatan ini, sebagaimana diakui dalam Bab 1, “memberikan warna yang khas karena setiap bab memiliki gaya analisis dan fokus yang unik” (hlm. 4).
Namun, di balik kekuatannya, buku ini tidak lepas dari kelemahannya. Pertama, meski kaya akan konsep dan strategi, buku ini relatif minim dalam menyajikan studi kasus keberhasilan yang menginspirasi. Pembaca ingin tahu: kampus mana yang sudah berhasil? Apa yang membuat mereka berhasil? Cerita-cerita semacam ini hanya disinggung sekilas.
Kedua, buku ini sangat berorientasi pada mahasiswa difabel, sementara inklusi sosial sejatinya juga mencakup kelompok marginal lainnya: mahasiswa dari keluarga miskin, minoritas etnis, atau korban diskriminasi gender. Definisi inklusi dalam Bab 2 memang menyentuh aspek-aspek itu (hlm. 24-27), tetapi contoh-contoh konkret di bab-bab berikutnya masih didominasi oleh isu disabilitas.
Ketiga, meski buku ini menyebut pentingnya teknologi dalam pembelajaran inklusif, elaborasinya masih kurang mendalam. Prinsip Universal Design for Learning (UDL) disebut, tetapi tidak dijelaskan secara memadai bagaimana mengintegrasikannya ke dalam LMS atau platform pembelajaran daring (hlm. 169-170). Di era digital, ini merupakan kelemahan signifikan.
Rekomendasi
Buku ini saya rekomendasikan bagi para pimpinan perguruan tinggi yang sedang merancang kebijakan inklusi. Ada kerangka kerja yang utuh, lengkap dengan indikator evaluasi dan rekomendasi praktis. Dosen dan tenaga kependidikan juga akan diuntungkan, terutama pada Bab 3 hingga Bab 5, yang menyajikan strategi pembelajaran adaptif serta peran fasilitator inklusi. Mahasiswa, khususnya yang aktif di organisasi kemahasiswaan atau unit layanan disabilitas, dapat menggunakan buku ini sebagai alat advokasi untuk menuntut hak-hak mereka.
Kemudian, bagi pembaca yang menginginkan panduan teknis yang sangat operasional, buku ini mungkin terasa kurang karena porsinya lebih banyak pada analisis kebijakan dan aspek konseptual. Namun, bagi mereka yang ingin memahami inklusi sosial secara utuh—mulai dari fondasi filosofis hingga tantangan implementasinya—buku ini menjadi bacaan wajib.
Pada akhirnya, Belajar Tanpa Batas mengingatkan kita bahwa inklusi bukanlah sekadar slogan yang ditempel di gerbang kampus. Ia adalah panggung tempat setiap mahasiswa, dengan segala keunikan dan keterbatasannya, dapat menari dengan bebas dan setara. Pertanyaannya sekarang: apakah kampus kita siap menjadi panggung itu? Atau kita hanya sekadar pandai berslogan?
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Koiri, MSi), Penulis & editor, dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif dari Unesa Surabaya; serta founder Rumah Virus Literasi.






