Oleh: Choirul Huda Maulidin, S.Ag.
Tibalah saatnya saya merasakan langsung nuansa Ramadan yang begitu syahdu di SMK YPM 8 Sidoarjo. Bagi saya, bulan suci di institusi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum transformatif yang paling dinantikan oleh seluruh warga sekolah.
Di sini, saya menyaksikan bahwa Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah menahan lapar dan dahaga, melainkan menjadi panggung besar bagi berbagai aktivitas positif yang menyatukan siswa dengan masyarakat sekitar.
Meskipun fisik sedang diuji oleh puasa, semangat produktivitas di lingkungan sekolah tetap terjaga dengan sangat baik melalui pola kegiatan yang disusun secara khusus.
Saya mengamati bagaimana sekolah mengganti jadwal pelajaran umum yang padat dengan asupan rohani yang substansial bagi siswa. Mereka diberikan penguatan karakter melalui materi agama dan akhlak yang sangat relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari.
Materi tersebut mencakup pemahaman fiqih tentang haid, urgensi Birrul Walidain atau berbakti kepada orang tua, konsep menjadi Good Partner dalam pergaulan, pemahaman tentang Fadhilah atau keutamaan shalat, hingga edukasi mengenai adab bertamu.
Pendekatan ini membuat saya sadar bahwa kecerdasan intelektual harus senantiasa diimbangi dengan kesantunan budi pekerti yang luhur.
Aburis Holil, S.Pd.I. menekankan bahwa materi ini dipilih karena urgensinya dalam kehidupan siswa. Ia menjelaskan bahwa tujuannya adalah memperbaiki pemahaman fiqih, mengatasi sikap acuh terhadap orang tua, membentengi diri dari salah pergaulan, meningkatkan kepedulian terhadap ibadah, serta menanamkan kembali tata krama yang mulai luntur.
Bagi saya, ini adalah bentuk bimbingan nyata dalam membentuk kepribadian yang tangguh bagi para generasi muda di lingkungan SMK YPM 8 Sidoarjo.
Di tengah kesibukan mendampingi siswa, para guru juga memiliki agenda spiritual khusus yang diikuti oleh seluruh pendidik. Setiap hari, menjelang waktu Zuhur, kami berkumpul untuk melaksanakan Khatmil Qur’an secara berjamaah.
Setelah itu, agenda dilanjutkan dengan Shalat Zuhur berjamaah dan sesi murojaah materi keagamaan sebagai persiapan untuk membimbing siswa. Salah satu momen yang paling berkesan adalah saat kami bersama-sama melakukan Ngaji Kitab Tafsir Surah Yasin.
Kegiatan ini menjadi sarana bagi kami untuk memperdalam ilmu agama sekaligus mempererat ikatan kekeluargaan di antara para rekan sejawat.
Memasuki waktu sore, suasana sekolah berubah menjadi sangat meriah dengan hadirnya Panggung Kreasi, Lomba Memasak, dan Bazar Ramadan. Bazar ini menjadi daya tarik utama karena melibatkan sinergi antara siswa dan warga sekitar yang turut berpartisipasi.
Mengenai filosofi acara ini, M. Chabibur Rochman AW, S.Pd., M.Pd. menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memfasilitasi minat wirausaha siswa. Ia menyebutnya sebagai wadah baru bagi komunitas wirausaha SYS 8 untuk mendukung bakat anak-anak dalam bidang ekonomi kreatif dengan konsep slow living Ramadan.
Selaras dengan visi tersebut, suasana sekolah saat menunggu waktu berbuka atau ngabuburit menjadi sangat hidup. Saya melihat sekolah berhasil menciptakan ekosistem mini di mana kreativitas dan ekonomi berputar secara harmonis.
Para siswa diberikan panggung untuk menunjukkan bakat seni mereka, sementara di sudut lain, interaksi jual-beli menghidupkan suasana bazar. Aroma masakan dari perlombaan memasak yang diadakan juga menambah kegembiraan yang tak terlupakan di hati saya.
Semua rangkaian ini sengaja dihadirkan agar kami dapat meresapi bahwa bulan suci bukanlah ritual yang kaku, melainkan momen yang penuh kebahagiaan dan kesan mendalam.
Puncaknya terjadi setiap hari Sabtu melalui acara Qiyamul Lail. Namun, peringatan Nuzulul Quran terasa jauh lebih meriah dengan berbagai agenda, mulai dari Pasar Murah, Khatmil Qur’an, hingga buka puasa bersama.
Rangkaian istimewa ini ditutup secara khidmat melalui shalat berjamaah dan tarawih bersama, mempererat silaturrahmi seluruh warga sekolah.*
*) Guru SMK YPM 8 Sidoarjo







