SIDOARJO (RadarJatim.id) — Inovasi pembelajaran Bahasa Inggris kembali lahir dari para akademisi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA). Tim peneliti yang diketuai oleh Dr. Yuli Astutik, M.Pd., bersama anggota tim Dr. Rahmania Sri Untari, M.Pd. dan Dr. Fitria Wulandari, M.Pd., mengembangkan media pembelajaran berbasis Augmented Reality (AR) yang diberi nama Smart Realia.
Teknologi ini dirancang khusus untuk membantu siswa sekolah dasar dalam menguasai kosakata (vocabulary) Bahasa Inggris dengan cara yang jauh lebih interaktif. “Inovasi ini muncul sebagai jawaban atas tantangan pembelajaran bahasa di tingkat dasar yang seringkali dianggap membosankan bagi anak-anak,” terang Dr. Yuli Astutik, pada (31/3/2026) siang.
Menurutnya, penelitian ini dilaksanakan sepanjang bulan Januari hingga Maret 2026 di SD Muhammadiyah 1 Candi Sidoarjo. Selama periode tersebut, tim dosen UMSIDA melakukan observasi dan implementasi langsung di dalam kelas untuk melihat efektivitas teknologi AR dalam proses belajar mengajar.
Dr. Yuli Astutik juga menjelaskan bahwa Smart Realia merupakan penggabungan benda nyata dengan visualisasi digital. “Melalui aplikasi ini, siswa cukup memindai objek nyata menggunakan smartphone, lalu akan muncul gambar 3D, teks, hingga cara pengucapan (pronunciation) yang tepat. Jadi anak-anak tidak hanya menghafal, tapi melihat dan mendengar langsung,” jelasnya.
Dalam pengembangannya, tim UMSIDA juga menggandeng aspek teknologi informasi dan pedagogi sekolah dasar. Dr. Rahmania Sri Untari berperan dalam memastikan integrasi teknologi AR berjalan stabil. Sementara Dr. Fitria Wulandari memastikan konten yang disajikan sesuai dengan karakteristik perkembangan siswa SD.
Penelitian yang dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Candi Sidoarjo ini menggunakan pendekatan unik bernama station learning. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan berpindah dari satu pos ke pos lainnya, mulai dari pos Smart Realia hingga pos praktik pengucapan.
“Kami sengaja menggunakan sistem rotasi ini agar teknologi tetap efektif meskipun perangkat smartphone di sekolah terbatas. Siswa belajar secara kolaboratif, saling membantu, dan tetap aktif bergerak,” tambah Dr. Yuli.
Meskipun hasil lengkapnya masih dalam proses publikasi ilmiah internasional, tim mencatat tren positif yang signifikan. Penggunaan Smart Realia terbukti mampu memicu motivasi belajar siswa jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. “Siswa terlihat lebih antusias dan lebih cepat memahami arti kata karena adanya bantuan visualisasi AR yang menarik,” katanya.
Guru-guru yang terlibat pun memberikan testimoni positif, menyebutkan bahwa interaksi di dalam kelas menjadi lebih hidup. “Siswa yang biasanya pasif menjadi lebih berani mencoba mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris,” ungkap Bu Amelia Winda Mustika, S.Pd Gr yang setia mendampingi siswa-siswinya.

Program inovatif ini berhasil terwujud berkat dukungan Pendanaan Hibah Riset Nasional Muhammadiyah Batch IX Tahun 2025.
Hal ini mempertegas komitmen UMSIDA dalam menghasilkan riset yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan transformasi pendidikan di era digital.
“Ke depan, tim dosen UMSIDA berharap Smart Realia dapat diimplementasikan secara lebih luas di berbagai sekolah, sebagai alternatif media pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi generasi masa depan,” harap Dr. Yuli Astutik.(mad)







