SURABAYA (RadarJatim.id) – Siswa SMP Sekolah Alam Insan Mulia (SAIM) kembali menorehkan prestasi tingkat internasional dengan meraih medali emas dalam ajang Youth International Science Fair (YISF) 2026 untuk kategori Social Science.
Ajang olimpiade sains bergengsi ini diselenggarakan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta secara daring.
Prestasi siswa SAIM diraih melalui karya inovatif berjudul “BLOOM, Development of a QR-Audio Integrated Braille Pop-Up Book for Alphabet Learning and Sensory Stimulation in Children with Special Needs.”
Tim peraih gold medal ini terdiri dari Tirtania Raya Sarasvati, Hana Humaira Syifa Azzahra, dan Danisya Khairani Ashwananda. Kolaborasi yang solid serta semangat untuk membantu sesama menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan karya yang tidak hanya inovatif, tetapi juga penuh nilai empati.
Karya BLOOM menghadirkan solusi pembelajaran inklusif yang dirancang khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus, terutama tunanetra. Berupa buku yang mengintegrasikan huruf Braille dalam bentuk pop-up yang dapat diraba, serta dilengkapi dengan teknologi QR Audio yang memungkinkan pengguna dapat mengakses suara pembelajaran secara interaktif.
Pendekatan multisensori ini memberikan pengalaman belajar yang lebih optimal, tidak hanya dari sisi kognitif, tetapi juga stimulasi sensorik yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak difabel dalam proses belajar alfabet.
Di balik keberhasilan ini, terdapat proses panjang yang penuh perjuangan dan dedikasi di bawah bimbingan Ustazah Nadia Ramadhani Nugroho Putri selaku guru research SAIM Secondary. “Prestasi ini menjadi bukti bahwa siswa SMP SAIM mampu berkontribusi dalam pengembangan solusi nyata di bidang sosial melalui pendekatan ilmiah,” ujar Ust. Nadia, saat dihubungi Senin (6/5) siang.
Para siswa harus mempelajari sistem Braille secara mendalam, memahami karakteristik dan kebutuhan belajar anak tunanetra, hingga merancang buku yang aman, menarik, dan fungsional. Proses produksi dilakukan dengan ketelitian tinggi, mulai dari desain pop-up, pemilihan material yang nyaman disentuh, hingga integrasi teknologi QR berbasis audio. Seluruh proses ini menjadi pengalaman baru yang menantang sekaligus membuka wawasan siswa tentang pentingnya inovasi yang berorientasi pada kebermanfaatan sosial.
Diharapkan, inovasi BLOOM ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara lebih luas untuk mendukung pendidikan inklusif bagi anak-anak berkebutuhan khusus di Indonesia. (rio)







