SIDOARJO (RadarJatim.id) — Puluhan pengurus dari berbagaimacam Cabor (Cabang Olahraga) yang ada di bawah naungan KONI Kabupaten Sidoarjo menggelar orasi menuntut segera melakukan Musorkablub (Musyawarah Kabupaten Luar Biasa) 2026.
Selain orasi, mereka juga menempelkan nama Cabor masing-masing memenuhi pagar halaman KONI Sidoarjo di Jl. Pahlawan Sidoarjo, dengan tulisan ‘Musorkablub KONI 2026 Harga Mati’ pada (8/4/2026) sore usai menghadiri undangan Konsolidasi Cabor KONI Kabupaten Sidoarjo 2026 di Gedung Youth Disporapar Sidoarjo.
Konsolidasi yang dihadiri oleh Anggota Dewan Warih Andono dan Tarkit Ediyanto, Kepala Disporapar Sidoarjo untuk segera menggelar Musorkablub 2026. Mereka selanjutnya menggelar atribud di halaman kantor Disporapar Sidoarjo, dan tulisan-tulisan tersebut ditempelkan di Pagar halaman KONI Sidoarjo.
Kondisi ini dilakukan, pasalnya para pengurus Cabor tidak pernah bisa berkoordinasi dengan Ketua KONI Sidoarjo.
Jangankan koordinasi, ketemu saja tidak pernah. Jangankan ketemu koordinasi lewat HP/WA saja tidak pernah mendapatkan respon. “Jadi ketua kami sekarang ini keberadaannya sangat tidak jelas, tidak pernah ada, tidak pernah koordinasi. Katanya mengundurkan diri, tapi juga tidak ada keterangan yang jelas,” tegas Ida Budi Handayani, S.Pd dari Cabor Persani.
Gejolak ini melanda dunia olahraga di Kabupaten Sidoarjo, menyatakan mosi tidak percaya dan kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan Ketua Umum KONI Sidoarjo, Imam Mukri.
Farhan Alvian dari Cabor Tarung Derajat, mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan puncak dari kebuntuan diskusi yang selama ini terjadi. Ada beberapa poin utama yang menjadi alasan para ketua cabor menuntut perubahan.
Diantaranya komunikasi yang terputus. Jadi selama beberapa bulan terakhir, Ketua Umum KONI Sidoarjo sulit dihubungi, dan tidak menjalin komunikasi dengan para pengurus Cabor. Juga ketidakjelasan dana hibah, mulai dari masalah transparansi dan distribusi dana yang hibah menjadi sorotan utama. “Karena dianggap menghambat operasional dan pembinaan atlet,” jelas Farhan Alvian.

“Buruknya manajemen yang berdampak langsung pada prestasi olahraga Sidoarjo, salah satunya penurunan peringkat Sidoarjo dari posisi kedua pada ajang olahraga sebelumnya,” ungkapnya.
Rasa kecewa juga ditegaskan Pengurus Perbakin, yang mengungkapkan komunikasi antara KONI dengan hampir seluruh Cabor dianggap sangat minim dan tidak harmonis. Perbakin secara spesifik mengeluhkan tidak adanya kucuran dana hibah pada tahun lalu, yang menghambat program kerja organisasi.
Semoga segera ada Musorkablub 2026, sehingga dengan kepengurusan yang baru nanti, harapannya ada perbaikan sistemik, dan kembalinya dukungan bagi para atlet di setiap cabor. “Langkah ini diharapkan menjadi titik balik bagi prestasi olahraga di daerah, agar tidak lagi terhambat oleh masalah birokrasi dan komunikasi internal yang buntu,” harap Sekretaris Perbakin Sidoarjo, Suyud.(mad)







