SIDOARJO (RadarJatim.id) — Upaya mewujudkan ekosistem pendidikan yang ramah bagi semua kalangan, sejumlah Organisasi Penyandang Disabilitas (Opdis) di Kabupaten Sidoarjo menggelar kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas organisasi.
Acara yang disenggarakan oleh INOVASI (Inovasi untuk Sekolah Anak Indonesia) berlangsung selama empat hari, dibuka terlebih dahulu dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sidoarjo Dr. Tirto Adi, M.Pd didampingi oleh Provincial Manager INOVASI Jatim M. Andri Budi pada (8/4/2026) di Hotel Luminor Sidoarjo.
Menurut Andri Budi kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat peran Opdis dalam mendukung program pendidikan inklusif di wilayah Sidoarjo.
Diikuti oleh 4 organisasi utama penyandang disabilitas di Sidoarjo, yakni HWDI (Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia), PPCN, Gerkatin (Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia), dan Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia).
“Dalam pelaksanaannya, peserta didampingi oleh para pendamping profesional yang memiliki konsentrasi khusus pada isu disabilitas,” jelasnya.
Kegiatan ini fokus pada perlindungan anak dan hak pendidikan. Jadi tidak hanya membahas aspek teknis disabilitas, tetapi juga menyentuh kebijakan strategis seperti perlindungan anak (child protection).
Kami menekankan bahwa anak dengan disabilitas harus menjadi pusat dari program pendidikan tanpa adanya tekanan.
“Kawan-kawan Opdis saat mendampingi anak-anak harus paham betul tentang hak anak. Anak adalah pusat, dan mereka tidak boleh merasa tertekan saat proses pendampingan. Kita juga mengedukasi orang tua bahwa pendidikan sangat penting bagi masa depan anak-anak disabilitas,” tegasnya.
Menurutnya, pelatihan ini merupakan bentuk inovasi kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari tingkat daerah hingga nasional.
Beberapa lembaga yang terlibat sebagai tenaga ahli antara lain, Kemendikdasmen, Wahana Inklusi Indonesia (Jakarta). Driya Manunggal (Yogyakarta) dan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sidoarjo.
Sementara itu Kepala Dikbud Sidoarjo Dr. Tirto Adi juga menjelaskan salah satu poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan ini adalah komitmen untuk memastikan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Sidoarjo benar-benar inklusif.
“Harapan kami, program inklusif ini tidak hanya menjadi tanggung jawab organisasi disabilitas saja, tapi tanggung jawab semua pihak,” harap Tirto Adi.

Jadi, kami ingin memastikan tidak ada lagi anak disabilitas yang tidak bisa ikut belajar. “Dalam sistem PPDB ke depan, satuan pendidikan wajib menerima semua anak tanpa terkecuali,” tambahnya.
Selain pembekalan materi, pelatihan ini juga memfasilitasi pembangunan jejaring antar-organisasi dan penyusunan rencana tindak lanjut pendampingan di lapangan.
Dengan adanya inovasi kebijakan dan pemahaman mengenai kesetaraan gender serta perlindungan anak, diharapkan kualitas hidup dan akses pendidikan bagi penyandang disabilitas di Sidoarjo dapat meningkat secara signifikan.(mad)







