Catatan Henri Nurcahyo
Berdiri pada 2004, Sanggar Lukis DAUN kini telah berusia 22 tahun, sebuah capaian yang patut dicatat. Bukan semata soal panjangnya waktu, karena itu bisa saja dicapai oleh sanggar lain, tetapi ini tentang konsistensi dan kualitas proses yang dijaga selama itu.
Dalam kurun tersebut, berbagai prestasi berhasil diraih. Salah satu yang menonjol adalah: penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia (AKI) dari Kementerian Kebudayaan RI, banyak berasal dari anak-anak didik sanggar yang didirikan oleh Arik S. Wartono ini.
Data yang terdokumentasi menunjukkan capaian yang tidak sedikit: lebih dari 3.000 penghargaan internasional dari lembaga PBB, organisasi nirlaba, perusahaan multinasional, hingga galeri seni internasional; 5 Anugerah Kebudayaan RI kategori Anak dan Remaja; 2 penghargaan PAUD Berprestasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI; serta 3 penghargaan Seniman Berprestasi kategori Anak dan Remaja dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selain itu, ada 17 anak didik yang telah menggelar pameran tunggal, beberapa di antaranya bahkan lebih dari sekali.
Sanggar DAUN juga telah memiliki ruang pamer sendiri, yakni ARTS.ID (Ariel Ramadhan Art Space) di Jalan Lombok No. 10 Surabaya dan Galeri DAUN di Lantai 2 Icon Mall Gresik. Selama 22 tahun, sekitar 200 hingga 400 anak pernah belajar di sini. Saat ini, sekitar 20 anak masih aktif, dengan rentang usia dari TK hingga mahasiswa. Menariknya, sanggar ini tidak mengenal istilah “alumni”. Mereka yang sempat berhenti bisa kembali aktif kapan saja. Bahkan ada yang kini sedang menempuh S2 dan kembali untuk mempersiapkan pameran tunggal.
Kali ini, untuk menandai ulang tahunnya, sanggar yang berbasis di Gresik, Jawa Timur ini menggelar Pameran Karya dan Arsip bertema Imagine. Tema ini mengajak pengunjung untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sekaligus membuka kemungkinan ke depan. Ini bukan hanya soal membayangkan, tetapi juga menyusun ulang pengalaman, membaca ulang arsip, dan memberikan konteks baru pada karya-karya yang pernah lahir.
Imagine menjadi ruang di mana karya tidak berhenti sebagai hasil akhir, tetapi dipahami sebagai bagian dari proses yang terus berjalan. Arsip tidak lagi sekadar dokumentasi, melainkan sumber pembelajaran dan refleksi. Di sini, imajinasi berfungsi sebagai penghubung antara masa lalu dan masa depan.
Nama ‘DAUN’ sendiri punya latar yang jelas. Arik S. Wartono dikenal sebagai pegiat lingkungan yang pernah aktif di jaringan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi). DAUN sendiri merupakan akronim dari Duta Alam Untuk lingkungaN. Bahkan, tanggal berdirinya sengaja dipilih bertepatan dengan Hari Bumi, 22 April 2004. Hari Bumi sendiri merupakan peringatan global yang diperingati setiap 22 April sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan hidup.

Aliya Murdoko bersama karyanya yang akan dipamerkan 22 tahun Sanggar DAUN.
Gagasan ini pertama kali muncul pada 1970 di Amerika Serikat, dipelopori oleh Gaylord Nelson, seorang senator yang mendorong lahirnya gerakan kesadaran publik terhadap krisis lingkungan. Sejak itu, Hari Bumi berkembang menjadi momentum internasional yang melibatkan jutaan orang di berbagai negara untuk merefleksikan hubungan manusia dengan alam—mulai dari isu perubahan iklim, pencemaran, hingga keberlanjutan hidup.
Dalam konteks ini, pilihan tanggal berdirinya Sanggar DAUN terasa relevan. Ia tidak hanya menandai awal sebuah lembaga seni, tetapi juga menyiratkan sikap: bahwa berkesenian bisa berjalan seiring dengan kesadaran ekologis. Seni tidak berdiri terpisah dari lingkungan, melainkan tumbuh dari, bersama, dan untuk kehidupan itu sendiri.
Pilihan nama ini bukan sekadar simbol, tetapi juga mencerminkan cara pandang yang dibawa dalam proses berkesenian di sanggar ini. Daun adalah bagian kecil dari ekosistem, namun punya peran penting dalam menjaga kehidupan. Ia tumbuh, gugur, lalu tumbuh kembali, sebuah siklus yang selaras dengan proses belajar dan berkarya yang tidak pernah benar-benar selesai.
Semangat itu terasa dalam cara Sanggar DAUN membangun ruang belajar: tidak kaku, tidak seragam, dan memberikan ruang bagi setiap anak untuk berkembang dengan ritmenya sendiri. Di sini, berkesenian tidak diposisikan sebagai ajang kompetisi semata, melainkan sebagai proses mengenal diri, melatih kepekaan, dan membangun cara pandang terhadap dunia di sekitarnya.
Barangkali itulah yang membuat sanggar ini mampu bertahan dan terus relevan. Ia tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membentuk cara berpikir. Seperti daun yang bekerja diam-diam, proses itu mungkin tidak selalu terlihat, tetapi hasilnya bisa dirasakan dalam jangka panjang.
Pameran ini berlangsung di Galeri Prabangkara, Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali 85 Surabaya, pada 25–30 April 2026. Dalam pameran ini terselip karya Shafa Prameswari, peserta berusia 5 tahun, yang merespons isu perang Iran–AS/Israel. Melalui visual bunga-bunga mekar di kanvasnya, ia menyampaikan pandangan sederhana: dunia seharusnya menjadi tempat yang indah tanpa perang.
Masih banyak hal yang bisa digali dari pameran ini, termasuk karya Ariel Ramadhan (26 tahun) yang selama ini konsisten mengangkat tema kelautan. Pameran ini bukan sekadar perayaan usia, tetapi juga kesempatan untuk melihat bagaimana sebuah proses panjang terus berkembang dan menemukan bentuk barunya.
Pada akhirnya, pameran ini bukan hanya tentang merayakan apa yang sudah dicapai, tetapi juga tentang menjaga arah ke depan. Dua puluh dua tahun memberikan cukup bukti, bahwa sebuah proses yang dijalankan dengan konsisten akan menemukan jalannya sendiri. Tantangannya justru ada pada bagaimana tetap terbuka terhadap perubahan tanpa kehilangan pijakan.
Sanggar DAUN menunjukkan, bahwa pembinaan seni tidak harus selalu bergantung pada pola yang kaku. Dengan pendekatan yang lentur, ruang ini mampu melahirkan generasi yang tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga punya sudut pandang. Di tengah arus cepat budaya visual hari ini, sikap seperti ini menjadi semakin penting.
Pameran Imagine menjadi pengingat sederhana: bahwa karya, arsip, dan pengalaman adalah modal untuk melangkah, bukan untuk berhenti. Apa yang ditampilkan hari ini bisa jadi akan dibaca ulang dengan cara berbeda di masa depan. Dan, di situlah letak kekuatannya: selalu terbuka untuk dimaknai kembali.
Dari Gresik, melalui ruang kecil yang terus bekerja, Sanggar DAUN membuktikan, bahwa keberlanjutan dalam kesenian bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia dibangun pelan-pelan, dijaga bersama, dan terus diuji oleh waktu. Dua puluh dua tahun telah lewat. Sisanya, masih sedang ditulis. {*}
*) Henri Nurcahyo, penulis dan pegiat Budaya Panji.







