KEDIRI (RadarJatim.id) — Rumah Lansia Kemanusiaan Gusdurian Mojokutho, Pare, Kabupaten Kediri, terus mengembangkan budi daya ikan lele. Ini dilakukan sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus menopang operasional layanan bagi para penghuni lansia.
Program yang dirintis secara swadaya sejak 2024 itu kini telah memiliki empat kolam aktif, setelah sebelumnya dimulai dari satu kolam sederhana di area kebun rumah lansia.
Koordinator Rumah Lansia Mojokutho Pare, Anugrah Yunianto atau akrab disapa Antok Mleber, mengatakan, pengembangan kolam lele bermula dari inisiatif relawan untuk menciptakan sumber pangan mandiri sekaligus menambah pemasukan operasional.
“Awalnya satu kolam. Setelah berjalan sekitar empat bulan, kami tambah lagi secara bertahap sampai sekarang menjadi empat kolam. Ini bagian dari ikhtiar agar rumah lansia bisa lebih mandiri, terutama untuk ketahanan pangan penghuni,” kata Antok, Selasa (12/5/2026).
Menurut dia, hasil budi daya lele tidak semata-mata ditujukan untuk keuntungan ekonomi, melainkan juga untuk memenuhi kebutuhan gizi para lansia yang saat ini berjumlah 51 orang. Ia menilai, kandungan protein ikan lele cukup tinggi dan dapat menjadi alternatif lauk bergizi dengan biaya yang lebih terjangkau.
“Lele ini murah dan proteinnya tinggi. Paling tidak bisa membantu menyediakan makanan yang lebih layak dan bergizi bagi para simbah di sini,” ujarnya.
Antok menjelaskan, operasional Rumah Lansia Gusdurian Mojokutho sedikitnya membutuhkan biaya sekitar Rp 25 juta per bulan. Anggaran tersebut digunakan untuk kebutuhan konsumsi harian, perlengkapan dapur, kebersihan, hingga perawatan fasilitas. Dengan kebutuhan konsumsi yang mencapai sekitar 16 kilogram bahan makanan per hari, pengembangan kolam lele dinilai dapat membantu menekan pengeluaran rutin.
Selain budidaya lele, rumah lansia juga mulai mengembangkan tanaman pangan dan apotek hidup seperti kelor, nangka muda, daun salam, jahe, dan kencur. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat konsep ketahanan pangan berkelanjutan yang melibatkan para relawan dan penghuni.
“Kami ingin donasi itu tidak hanya habis untuk konsumsi sesaat, tetapi juga menjadi ‘pancing’ agar kami terus berusaha mandiri,” ucap Antok.
Ke depan, pihaknya menargetkan penambahan enam kolam baru sehingga total menjadi 10 kolam. Dengan jumlah tersebut, panen diharapkan bisa dilakukan secara bergilir untuk mencukupi kebutuhan pangan secara lebih stabil. Namun, keterbatasan modal masih menjadi tantangan utama. Untuk memenuhi kebutuhan bibit ikan lele bagi seluruh penghuni, rumah lansia diperkirakan membutuhkan sedikitnya Rp 10 juta.
Salah satu relawan, Sugeng Santoso, menilai pengelolaan kolam lele sejauh ini cukup berhasil meski margin keuntungan masih relatif kecil.
“Secara manajemen masih untung, tapi tipis. Dari 1.000 ekor lele, keuntungan bersih mungkin sekitar Rp 300.000 sampai Rp 400.000. Itu biasanya langsung habis untuk kebutuhan operasional, sehingga sulit untuk menambah kolam tanpa suntikan dana,” ujar Sugeng.
Ia menuturkan, area yang kini menjadi rumah lansia sebelumnya merupakan kebun sederhana yang dimanfaatkan untuk menanam sayuran kebutuhan dapur. Sejak berkembang menjadi pusat layanan lansia pada 2025, kawasan tersebut perlahan ditata menjadi ruang produktif yang mendukung kebutuhan pangan sekaligus menjadi sarana relaksasi bagi para penghuni.
“Bukan hanya soal profit, tapi bagaimana tempat ini bisa memberi manfaat langsung bagi kesehatan fisik dan psikologis para lansia,” ungkapnya. (rul)







