SIDOARJO (RadarJatim.id) — Posisi lokasi SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo berada di salah satu titik wilayah dengan mobilitas yang sangat tinggi. Tepatnya di Jl. Sawungggaling No. 2 Jemundo Taman Sidoarjo, yang tiap hari dilewati kendaraan besar dengan kapasitas besar pula, seperti truk, dum truck, trailer hingga tronton.
Melihat kondisi tersebut, Tim dari Universitas Indonesia bersama PT Jasa Raharja Sidoarjo melakukan kunjungan/silaturrahmi ke SMA Negeri 1 Taman untuk membahas kajian faktor penyebab kecelakaan di wilayah Taman, pada (11/5/2026) sore di Ruang Kepala SMA Negeri 1 Taman.
Kepala SMA Negeri 1 Taman, Dewi Nurmalasari, M.Pd menyambut baik kehadiran Tim UI diwakili oleh Ariessa Purnamasari dan dari PT Jasa Rajarja adalah Bapak Fafan, Bapak Afit dan Ibu Icha, kehadiran mereka membahas tentang kajian Faktor Penyebab Kecelakaan di wilayah Taman, dan suasana pertemuan terjalin dengan hangat.
Mengingat peran strategis institusi pendidikan dalam membentuk budaya tertib berlalu lintas serta posisi SMA Negeri 1 Taman yang berada di salah satu titik mobilitas tinggi. Sekolah ini sangat popular, sekolah yang berada di area industri, sehingga menjadi sasaran untuk survey kajian.
Pihak peneliti meminta masukkan dari sudut pandang sekolah sebagai bahan evaluasi dan penyusunan strategi pencegahan kecelakaan bagi kalangan pelajar.
Sehubungan dengan upaya peningkatan keselamatan dan penekanan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas di wilayah Sidoarjo. PT Jasa Raharja Perwakilan Sidoarjo bekerja sama dengan Universitas Indonesia telah melakukan kajian mendalam, mengenai faktor-faktor penyebab kecelakaan di wilayah tersebut. Posisi SMA Negeri 1 Taman yang berada di salah satu titik mobilitas tinggi yang menjadi sasaran pengjiannya.
Dewi Nurmalasari menyampaikan beberapa hal yang penting diperhatikan dalam berkendara, faktor kecelakaan yang paling memungkinkan adalah 1. Kondisi jalan yang tidak terlalu lebar, tapi mobilitas kendaraan besar mendominasi. 2. Karakter pengguna jalan yang inginnya cepat sampai. 3. Karakter lalu lintas industri di mana jam pulang pergi ke sekolah dan jam keluarnya kendaraan pabrik jadwalnya bersamaan. 4. Kurangnya fasilitas keselamatan (zebra cross, lampu penyebrangan, marka kejut, rambu sekolah dan yang lainnya).

Perlu diketahui pula, pihak sekolah juga tidak menyediakan lahan parkir, selain memang lahannya tidak mencukupi, juga dengan harapan siswa diantar oleh orang tuanya, untuk menjaga keamanan di jalan. “Melihat kondisi tersebut, makanya di sekolah kami ada program rutin edukasi safety riding, sosialisasi dari pihak PT Jasa Rahaja yang dilakukan beberapa waktu lalu,” terang Dewi Nurmalasari.
Sementara itu, pihak Universitas Indonesia meminta partisipasi siswa dan guru untuk mengisi kuesioner tentang Traffic Safety Culture untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan kebiasaan terkait berlalu lintas dalam kehidupan sehari-hari.(mad)







