GRESIK (RadarJatim.id) — Halaman UPT SD Negeri 94 Gresik mendadak menjelma jadi lautan penuh warna. Aroma cat air yang khas dan riuh tawa anak-anak memecah keheningan pagi pada, Sabtu (16/5/2026).
Di atas meja-meja kayu, nampak lampion-lampion kayu terbalut kertas putih polos yang siap digoreskan aneka cerita. Hari itu, dari jemari mungil kelas 1 yang masih polos hingga goresan kuas kelas 5 yang mulai berani, mereka bersatu melukis di atas “Damar Kurung”, lampion legendaris warisan leluhur Gresik, Mbah Masmundari.
Bukan sekadar coretan sepulang sekolah, festival melukis massal ini merupakan ruang selebrasi budaya yang nyaris magis. Lentera-lentera ini digarap khusus sebagai simbol pemantik semangat juang dalam memeriahkan bulan suci bagi insan pendidik.
Kepala UPT SD Negeri 94 Gresik, Hartik, MPd, dengan mata berbinar menyampaikan pesan mendalam di balik filosofi festival ini.
”Ini merupakan festival untuk memperingati Bulan Pendidikan Nasional. Kita ingin anak-anak menyelami, bahwa belajar itu seperti Damar Kurung. Dia harus menyalakan cahaya di kegelapan. Lewat seni ini, kita membumikan merdeka belajar yang tetap berpijak pada akar budaya bangsa,” ungkap Bu Hartik, sapaan akrabnya di tengah riuhnya festival.
Namun, atmosfer di halaman sekolah tidak hanya dipenuhi estetika, melainkan juga riak kompetisi yang sehat. Ada “tiket emas” yang sedang diperebutkan di balik jemari-jemari yang belepotan cat warna-warni tersebut.
Mar’atus Sholihah, SPd, salah satu guru yang mengawal jalannya festival, membocorkan ketatnya sistem kurasi yang akan membuat juri memutar otak.
”Persaingannya sangat hidup dan penuh kejutan. Ini nanti akan diambil per kelas satu Damar Kurung yang akan masuk final di tingkat kecamatan Benjeng. Jadi, setiap detail goresan sangat menentukan siapa yang layak menjadi duta sekolah,” tutur Bu Lihah, sapaan akrabnya, sambil tersenyum bangga melihat antusiasme murid-muridnya.
Di sudut barisan kelas 5, fokus penonton sempat tersedot oleh ketenangan seorang bocah bernama Kristian. Kontras dengan keriuhan di sekelilingnya, tangannya bergerak lincah menarikan kuas, memadukan warna kuning terang dan biru langit pada sisi-sisi lampionnya.
Saat ditanya mengenai peluang karyanya yang bersaing dengan puluhan karya estetik lainnya, sorot matanya memancarkan energi yang luar biasa.
”Aku bikin konsep yang matang buat lampion ini. Aku mengikuti festival kali ini dengan sangat optimistis memenangkan festival kali ini. Pokoknya targetnya harus lolos dan bawa nama sekolah ke tingkat kecamatan!” seru Kristian, penuh percaya diri.
Ketika matahari mulai meninggi, festival pun usai. Ratusan lampion kini telah berubah wajah menjadi karya seni yang memesona. Siapa pun satu nama yang akan mewakili tiap kelas menuju Kecamatan Benjeng nanti, UPT SD Negeri 94 Gresik hari ini telah berhasil membuktikan satu hal: di tangan generasi muda, api tradisi Damar Kurung tidak akan pernah redup, justru menyala semakin terang benderang. (sha)
Kontributor: Muhammad Syaifullah






