SIDOARJO (RadarJatim.id) — Indikator utama dari keberhasilan sebuah pendidikan dan lembaga sekolah bukanlah semata-mata diukur dari tingginya nilai akademik, melainkan dari lahirnya generasi yang memiliki sikap tawaduk (rendah hati) dan rasa hormat kepada guru serta orang tua.
Hal tersebut disampaikan oleh pakar pendidikan, Warek Unesa Prof. Dr. Martadi, M.Si dalam sebuah Seminar Pendidikan yang diselenggarakan oleh GBL (Gerakan Budaya Literasi) Sidoarjo, pada (21/5/2026) pagi di Sun Hotel Sidoarjo. Sebelumnya proses seminar dimulai dibuka terlebih dahulu oleh Sekda Sidoarjo Dr. Fenny Apridawati, M.Kes. juga dihadiri oleh Ketua Dewan Sidoarjo Abdilah Nasih.
Prof Martadi menekankan pentingnya memaknai hakikat pendidikan secara mendalam agar tidak terjadi pergeseran nilai dalam proses belajar-mengajar. Ia menyoroti fenomena hubungan antara guru dan orang tua saat ini, dampak pendidikan hanya dimaknai sebatas proses mencari dan menuntut hak. “Kalau sekolah itu dimaknai hanya untuk ‘tuntut ilmu’, maka yang terjadi adalah tuntut-menuntut antara guru dengan orang tua,” tegasnya.
Sebagai alternatif filosofis, Prof Martadi menawarkan pendekatan berbasis kearifan lokal, dan lebih sepakat jika pendidikan dimaknai sebagai proses “meluru ilmu” atau “menimba ilmu”.
Dalam filosofi Jawa, kata meluru memiliki makna mencari buah yang jatuh. Filosofi ini mengajarkan proses melihat ke bawah, yang melambangkan kerendahan hati.
Makanya indikator sekolah berhasil, pendidikan berhasil itu apa ? melahirkan anak-anak itu tawaduk kepada gurunya, tawaduk kepada orang tuanya. “Enggak usah terlalu tinggi. Kalau itu terjadi, ilmu itu Insya Allah akan membawa keberkahan buat anak dan masyarakat di sekitarnya,” tuturnya.
Pemaparan Prof. Martadi yang dinilai sarat makna tersebut mendapat apresiasi tinggi dari peserta forum. Moderator (Kepala SMPN 3 Krian) acara bahkan berseloroh bahwa materi padat yang disampaikan selama 5 menit tersebut rasanya setara dengan perkuliahan 2 SKS.

Selain menekankan pentingnya akhlak dan ketawadukan siswa, forum tersebut juga menggarisbawahi komitmen terhadap pemenuhan hak pendidikan bagi semua kalangan (Education for All).
Di tengah berbagai tantangan riil yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, mulai dari kekurangan jumlah guru, dinamisnya regulasi, tuntutan peningkatan profesionalisme guru, hingga pemenuhan layanan sarana prasarana, kualitas tidak boleh dikorbankan.
”Pendidikan bermutu itu adalah harga mati,” ungkap moderator merangkum poin penting dari pemaparan Prof. Martadi. Mutu dan kualitas harus tetap menjadi rujukan, pilihan, serta prioritas utama dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah.(mad)







