SIDOARJO (RadarJatim.id) — Memasuki tahun ajaran baru 2026/2027, SMP Sepuluh Nopember Sidoarjo telah melaksanakan pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para siswa baru tahun ajaran 2026/2027 dengan sangat meriah sekaligus penuh dangan kegiatan edukatif.
Prosesi pembukaan dilakukan langsung oleh Kepala SMP Sepuluh Nopember Sidoarjo, Saiful Tulus Jatmika, S.Pd M.Pd didampingi para Waka dan jajaran lainnya, pada Senin (13/7/2026) pagi di halaman sekolah.
Ketua Pelaksana MPLS SMP Sepuluh Nopember Sidoarjo, Harison Angling Prakosa, S.S., Gr., menjelaskan bahwa sebelum pembukaan hari ini, rangkaian kegiatan sudah dimulai sejak pekan lalu. Pada hari Kamis, para siswa telah menjalani psikotes, disusul dengan kegiatan Pra-MPLS pada hari Jumatnya.
Sebagai simbol dimulainya masa sekolah, pembukaan MPLS hari ini diwarnai dengan aksi menerbangkan ‘Balon Harapan’. Setiap siswa baru diminta menuliskan cita-cita dan target yang ingin mereka capai selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMP Sepuluh Nopember Sidoaro.
“Kertas-kertas harapan tersebut kemudian ditempelkan pada balon yang telah disediakan pihak sekolah, lalu diterbangkan bersama-sama ke udara dengan harapan cita-cita mereka dapat terbang tinggi,” jelas Harison.
Tak hanya sekadar mengenalkan lingkungan fisik sekolah, kegiatan MPLS yang berlangsung selama lima hari ini juga dirancang untuk melatih karakter siswa melalui program ‘7 Kebiasaan Anak Hebat’ demi mewujudkan anak yang sehat dan mandiri. “Kebiasaan-kebiasaan tersebut, mulai dari beribadah, sarapan, tidur lebih cepat, hingga berolahraga, sudah diintegrasikan secara penuh ke dalam seluruh rangkaian kegiatan MPLS,” terang Pak Haris_sapaan akrabnya.
Salah satu program yang paling unik dan menjadi sorotan adalah pembiasaan gerakan zero waste atau zero sampah.
Jadi, sejak hari pertama MPLS, siswa baru dilarang keras membeli makanan atau minuman dengan kemasan plastik sekali pakai di kantin sekolah. Sebagai gantinya, mereka diwajibkan membawa tempat makan (tepak) dan botol minum (tumbler) sendiri dari rumah. “Pihak kantin pun mendukung penuh dengan cara langsung menuangkan makanan atau minuman ke wadah yang dibawa oleh masing-masing siswa,” terangnya.

Terkait pelaksanaan teknis, Ketua Pelaksana mengungkapkan bahwa hampir 90 persen materi dan tema MPLS digarap oleh pengurus OSIS selaku kakak tingkat. Kendati demikian, sekolah tetap membentuk tim panitia dari unsur guru untuk memantau, menerima laporan materi dan jadwal, serta memberikan masukan agar MPLS tetap berjalan ramah dan aman.
Pihak sekolah juga memastikan tidak ada lagi praktik perpeloncoan maupun senioritas yang kerap membayangi kegiatan orientasi sekolah di masa lalu. “Kami menggunakan sistem seleksi ketat telah diterapkan bagi para pengurus OSIS yang bertugas,” tegasnya.
Lanjutnya, bahkan, untuk menghapus sekat senioritas, kultur di sekolah membiasakan seluruh siswa, baik kakak tingkat maupun siswa baru untuk saling menyapa dengan panggilan ‘Kakak’. “Melalui budaya kesetaraan ini, lingkungan sekolah diharapkan dapat menjadi tempat belajar yang aman, nyaman, dan ramah bagi seluruh siswa,” pungkas Harison Angling Prakosa.(mad)







