SIDOARJO (RadarJatim.id) — Menjawab tantangan zaman serta upaya membentengi para siswanya dari pengaruh negatif pergaulan bebas dan kenakalan remaja, mengakibatkan ribuan remaja produktif Sidoarjo terkena penyakit HIV/AIDs.
Usai mengikuti ‘Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV di Kalangan Remaja’ yang diselenggarakan oleh Dinas Dikbud Sidoarjo, Kepala SMP YPM 2 Sukodono Lailatul Mufidah, S.Ag M.Pd.I menuturkan kalau pihaknya sudah meluncurkan tujuh program unggulan.
“Berfokus pada penegakan disiplin, pembiasaan adab, hingga penguatan nilai keagamaan dan kebudayaan,” tuturnya pada (31/7/2026) pagi.
Lanjutnya, langkah-langkah komprehensif ini dirancang untuk membentuk pribadi siswa yang tidak hanya unggul secara akademis dan berwawasan global, tetapi juga memiliki ketawadhu’an, adab sopan santun, serta keimanan yang kokoh.
Ia uraikan berikut adalah tujuh langkah Strategis pembinaan siswanya yang diterapkan.
1. Penegakan Disiplin Sejak Pagi Hari (Tim RPDS & OSIS)
Untuk membangun kedisiplinan sejak dini, sekolah membentuk Tim Rencana Penegakan Disiplin Sekolah (RPDS) yang berkolaborasi dengan pengurus OSIS. Setiap pagi, petugas bertugas secara bergilir di area penyambutan untuk mengingatkan dan menertibkan kedisiplinan seluruh siswa/i.
2. Pembiasaan Karakter, Adab, dan Kecakapan Penerapan Ibadah (KPI).
Sekolah memberikan pemahaman mendalam terkait adab dan ibadah:
• Adab & Fadhilah Doa: Memberikan pemahaman tentang keutamaan dan makna di balik doa agar menumbuhkan rasa rendah hati (tawadhu’) dalam diri siswa.
• Kecakapan Penerapan Ibadah (KPI): Pembinaan tata cara ibadah yang baik untuk membangun kesadaran bahwa ibadah adalah kebutuhan jiwa. Hal ini diharapkan meningkatkan iman dan taqwa sebagai benteng utama dari perbuatan mungkar, seperti minuman keras (miras) dan pergaulan bebas.
3. Pembiasaan Sholat Berjamaah dan Wirid Bersama
Aspek spiritualitas siswa semakin diperkuat melalui kebiasaan menjalankan sholat berjamaah yang dilanjutkan dengan wirid bersama secara rutin di lingkungan sekolah.
4. Penguatan Bahasa dan Budaya (English Day & Javanese Day).
Dalam rangka membekali siswa dengan keterampilan pergaulan dunia tanpa melupakan akar budaya lokal, sekolah menerapkan dua program bahasa:
• Senin (English Day): Melatih keberanian dan kemampuan berbahasa internasional siswa.
• Kamis (Javanese Day): Menjaga kearifan lokal, adab sopan santun, serta unggah-ungguh (tata krama) kepada orang tua, guru, dan orang yang lebih tua.
5. Program Bonding Guru dan Siswa (Rasio 1:10)
Sekolah menerapkan sistem pendampingan intensif di mana 1 guru mendampingi secara aktif 10 siswa. Guru bertanggung jawab penuh memantau dan memastikan terbentuknya karakter serta kebiasaan baik pada diri setiap anak didiknya.
6. Program Bonding Orang Tua dan Anak Saat Libur
Sinergi antara sekolah dan rumah diperkuat melalui pemberian tugas khusus pada masa libur sekolah.
“Tugas ini dirancang khusus untuk membangun kedekatan emosional dan komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak,” urai Lailatul Mufidah.
Dan, yang ke tujuh adalah sosialisasi Bahaya Narkoba, Miras, dan Tertib Lalu Lintas. Guna memberikan edukasi hukum dan kesehatan, sekolah secara berkala menggelar sosialisasi tahunan bekerja sama dengan pihak Puskesmas dan Kepolisian.
Langkah ini mengedukasi siswa terkait bahaya miras, narkoba, serta pentingnya keselamatan berlalulintas. “Saat ini, kami sedang berkoordinasi untuk penjadwalan tindak lanjut kegiatannya,” pungkasnya.(mad)







