SURABAYA (RadarJatim.id) – Laut menyimpan peluang yang jauh lebih luas daripada sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan. Gagasan tersebut menjadi pembuka rangkaian kegiatan Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK) Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Seminar Nasional Bioteknologi Perikanan bertema “Beyond the Blue: Menyelami Peluang, Mengolah Masa Depan”,.
Kegiatan ini kemudian dilanjutkan secara bersamaan dengan Airlangga Maritime Week (AMW), Forum Kemahasiswaan, dan Academic Travelling.
Rangkaian tersebut mempertemukan peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari siswa SMA/SMK/MA/MAN, mahasiswa, organisasi kemahasiswaan, hingga akademisi dan praktisi perikanan dan kelautan.
Membuka Perspektif melalui Seminar Nasional
Seminar Nasional Bioteknologi Perikanan menjadi kegiatan pembuka yang menghadirkan dua perspektif dalam melihat potensi perikanan dan kelautan.
Falasifah, S.Si., Direktur/CEO PT Alga Bioteknologi Indonesia (ALBITEC) membahas peluang pengembangan mikroalga, khususnya spirulina, sementara Prof. Dr. Ir. Eko Setyobudi, S.Pi., M.Si., Guru Besar bidang Biologi Perikanan dan Kelautan, membawa peserta melihat aspek biologi perikanan melalui pembahasan Anisakis.
Falasifah menjelaskan bahwa spirulina telah dimanfaatkan sejak berabad-abad lalu oleh Suku Aztec dan kini berkembang dalam berbagai kebutuhan, mulai kebutuhan pakan ternak, pangan fungsional hingga bahan kosmetik. Bahkan menariknya spirulina memiliki kandungan yang sama dengan buah dan sayur.
“Satu gram spirulina hampir sama dengan satu kilogram sayur dan buah” ungkap Falasifah.
Ia juga memperkenalkan pengalaman pengembangan spirulina hingga peluang pemanfaatannya dalam konteks luar angkasa.
“Ketika saya kunjungan ke Rusia, saya mendapat kesempatan untuk mengembangkan spirulina di luar angkasa,” jelasnya.
Sementara itu, Prof. Eko mengajak peserta memahami ikan dan lingkungan perairan melalui pembahasan mengenai Anisakis.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa sumber daya ikan tidak hanya perlu dilihat sebagai komoditas, tetapi juga sebagai bagian dari sistem biologis yang kompleks.
“Ikan tidak hanya dapat dilihat sebagai sumber pangan atau komoditas perikanan. Kita perlu memahami aspek biologinya, termasuk organisme yang berasosiasi dengannya, agar pemanfaatannya dapat dilakukan secara lebih tepat.” tambahnya.
Dari sini, tema Beyond the Blue menjadi pintu masuk untuk melihat laut dari berbagai perspektif sebelum peserta kemudian masuk ke rangkaian kegiatan berikutnya.
Dari Seminar ke Panggung Inovasi AMW
Setelah seminar selesai, rangkaian kegiatan berlanjut secara bersamaan. Salah satunya adalah Airlangga Maritime Week (AMW) dengan tema “Empowering Young Maritime Innovators for a Sustainable Blue Economy Towards Indonesia Emas 2045.”
AMW diikuti siswa SMA, SMK, MA, dan MAN dari berbagai daerah di Indonesia. Sekitar 80 tim mendaftar secara nasional, kemudian 10 tim terpilih untuk datang langsung ke UNAIR dan mempresentasikan inovasi mereka.
Para finalis datang dari berbagai daerah, mulai dari Bali, Pati, hingga Riau, dengan gagasan yang beragam. Beberapa di antaranya mengembangkan smart packaging berbahan pati biji nangka dan Sargassum sp., sementara tim lainnya membawa gagasan drama musikal berbasis lingkungan sebagai media edukasi pelestarian kerang bambu.
AMW memperlihatkan bagaimana isu perikanan dan kelautan mulai dibaca oleh generasi muda melalui inovasi yang dekat dengan persoalan lingkungan dan kehidupan sehari-hari.
Forum Mahasiswa Mencari Gerakan Bersama
Pada waktu yang sama, Forum Kemahasiswaan mempertemukan organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. FPK UNAIR mengundang perwakilan BEM hingga himpunan mahasiswa dari sejumlah universitas, di antaranya Universitas Brawijaya, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Hang Tuah, dan Universitas Dr. Soetomo, serta perguruan tinggi lainnya.
Forum tersebut diarahkan untuk menjadi ruang diskusi antarmahasiswa dalam membicarakan persoalan perikanan dan kelautan sekaligus merumuskan gerakan kolektif.
Dengan demikian, forum tidak berhenti pada pertemuan antarlembaga. Mahasiswa diberi ruang untuk bertukar gagasan, melihat persoalan dari perspektif kampus lain, dan mencari kemungkinan gerakan bersama di bidang perikanan dan kelautan.
Academic Travelling Membawa Riset Tesis ke Ruang Diskusi
Bersamaan dengan AMW dan Forum Kemahasiswaan, Academic Travelling memberikan ruang bagi mahasiswa program magister untuk mempresentasikan hasil penelitian tesis mereka.
Kegiatan ini mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan akademik yang lebih luas, sekaligus menjadi ruang untuk menyampaikan hasil penelitian, bertukar pandangan, dan mendiskusikan temuan yang mereka peroleh selama proses penelitian.
Jika AMW memperlihatkan gagasan dari generasi muda, Academic Travelling menunjukkan bagaimana riset mahasiswa dapat dibawa keluar dari ruang penelitian untuk didiskusikan dan dikembangkan melalui interaksi akademik. (RJ1)






