Oleh Abdullah Sidiq Notonegoro
Persoalan sampah sering dianggap selesai ketika sampah sudah tidak terlihat. Masuk tempat sampah, diangkut petugas, lalu dibawa entah ke mana. Rumah bersih, halaman rapi, jalan tidak lagi dipenuhi kantong plastik dan sampah lainnya. Padahal, bisa jadi itu baru hanya berhasil memindahkan masalah dari depan rumah ke tempat lain.
Pertanyaan yang jauh penting dari pascasampah diangkut adalah: apa yang terjadi dengan material yang masih memiliki nilai di dalamnya? Plastik, kertas, logam, sisa makanan dan berbagai material lainnya tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang tidak berguna. Sebagian masih bisa dipilah, diolah, dijual, bahkan dimanfaatkan kembali. Karena itu, ada pertanyaan yang lebih menarik terkait sampah: berapa banyak nilai yang berhasil kita selamatkan?
Khususnya di Kabupaten Gresik yang sedang berkesempatan melangkah lebih jauh dalam pengelolaan sampah. Bukankah pada 15 September 2026, Gresik menjadi salah satu dari lima kabupaten/kota di Jawa Timur yang terlibat dalam Proyek InCircular? Ini kerja sama Indonesia-Jerman untuk menerjemahkan Peta Jalan dan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045 ke tingkat daerah. Momentum jangan berhenti sebagai nama program di ruang pertemuan, tetapi harus terasakan sampai ke rumah, pasar, bank sampah, TPS3R, pabrik, dan kebiasaan kita ketika hendak membuang sesuatu.
Jangan Hanya Mengurus Sampah
Data SIPSN 2025 mencatat, timbulan sampah Gresik mencapai 148.580,51 ton per tahun, sementara sampah yang tercatat terkelola mencapai 110.337,27 ton atau 74,26 persen. Angka tersebut menunjukkan, bahwa pelayanan pengelolaan sampah sudah bekerja dalam skala besar.
Tetapi, jangan buru-buru menganggap angka itu sebagai ukuran keberhasilan ekonomi sirkular. Sampah yang terkelola belum tentu menjadi material yang kembali masuk ke kegiatan ekonomi. Ada perjalanan panjang antara sampah yang dikumpulkan, material yang dipulihkan, kualitas yang memenuhi syarat, barang yang laku dijual, hingga material yang benar-benar digunakan kembali.
Kita selama ini cukup rajin menghitung berapa banyak sampah yang masuk. Padahal, yang lebih menarik justru apa yang keluar. Data komposisi menunjukkan, sampah makanan mencapai 55,29 persen, plastik 11,58 persen, kayu dan ranting 10,29 persen, tekstil 4,84 persen, serta kertas dan karton 4,47 persen. Di balik angka itu terdapat material yang masih mungkin mempunyai kehidupan kedua. Masalahnya, nilai tersebut bisa hilang karena sampah tercampur sejak dari sumber, kualitasnya menurun selama pengumpulan, atau tidak menemukan pasar.
Gresik sebenarnya tidak memulai dari nol. Pemerintah telah membangun bank sampah, TPS3R, TPST, MRF, RDF hingga landfill mining. Data fasilitas BSU 2025 juga mencatat 310 unit dengan sampah yang diterima sekitar 590 ribu kilogram per tahun dan yang dikelola sekitar 581 ribu kilogram. Artinya, modal awal sudah tersedia. Pekerjaan berikutnya adalah memastikan semua itu tidak berjalan sendiri-sendiri.
Pertanyaannya sederhana: setelah material keluar dari bank sampah atau TPS3R, pergi ke mana? Siapa yang membeli, berapa nilainya, dan apakah benar-benar digunakan kembali?
Bupati Gresik, Fandi Akhmad Yani, telah menegaskan, bahwa Gresik perlu bergerak dari pola “kumpul–angkut–buang” menuju pengurangan, pemanfaatan kembali, dan peningkatan nilai tambah. Maka, tantangannya bukan sekadar mengelola lebih banyak sampah, tetapi memastikan semakin banyak nilai yang tidak ikut terbuang.
Industri Jangan Hanya Menjadi Tetangga
Di sinilah dunia usaha Gresik perlu diajak berbicara lebih serius. BPS mencatat 685 perusahaan industri manufaktur skala menengah dan besar bercokol di Gresik pada 2025. Angka itu bukan bukti, bahwa seluruh industri telah menggunakan bahan baku daur ulang. Namun, angka tersebut menunjukkan besarnya ekosistem industri yang secara potensial dapat menjadi pasar bagi material yang berhasil dipulihkan apabila kualitas, volume, harga, dan kontinuitas pasokannya memenuhi kebutuhan industri.
Maka pertanyaannya jangan berhenti pada, “Berapa CSR perusahaan tahun ini?” Pertanyaan yang lebih menarik adalah: material apa yang dibutuhkan industri, berapa kebutuhannya, dan apakah sebagian dapat dipenuhi dari material yang tersedia di Gresik? Jika belum bisa, apa masalahnya? Kualitas belum memenuhi standar, pasokan tidak stabil, harga tidak kompetitif, atau memang belum ada yang mempertemukan pihak yang memiliki material dengan pihak yang membutuhkannya?
Gus Yani, sapaan akrab Bupati Gresik, pernah mengatakan bahwa “pemerintah tidak mungkin berjalan sendiri” dan membutuhkan supporting dari industri. Ia juga menegaskan, bahwa CSR bukan sekadar charity, melainkan tanggung jawab sosial perusahaan yang harus memberi dampak nyata bagi masyarakat. Pernyataan itu semestinya menjadi undangan sekaligus tantangan. Kalau pemerintah sudah mengakui membutuhkan dukungan industri, industri pun jangan hanya hadir ketika ada seremoni penyerahan bantuan.
Kalau CSR bukan sekadar charity, dukungan perusahaan terhadap persoalan sampah juga jangan berhenti pada pembagian tempat sampah, penanaman pohon, atau kegiatan bersih lingkungan sesekali. Sebagian dukungan dapat diarahkan untuk memperkuat pemilahan dari sumber, meningkatkan kualitas bank sampah dan TPS3R, membantu teknologi pengolahan, atau mempertemukan material dengan industri yang membutuhkan. Dengan begitu, CSR tidak berhenti setelah foto bersama, tetapi ikut membangun rantai ekonomi.
Produsen juga perlu memikirkan perjalanan produknya setelah dibeli konsumen. Produk tidak berhenti ketika transaksi selesai karena sebagian akhirnya menjadi sampah. Dalam Proyek InCircular, penguatan sistem pengelolaan sampah untuk mendukung penerapan Extended Producer Responsibility atau tanggung jawab produsen juga menjadi bagian dari agenda yang didorong. Tanggung jawab produsen, dengan demikian, tidak semestinya berhenti ketika barang meninggalkan pabrik.
Masyarakat pun tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita sering meminta pemerintah menjaga kebersihan, tetapi di rumah sendiri semua jenis sampah masih dicampur. Sampah makanan yang tercampur plastik menyulitkan pengolahan, kertas yang basah kehilangan nilai, sementara plastik yang bercampur berbagai material membutuhkan biaya lebih besar untuk dipulihkan.
Pemerintah Membuka Jalan, Semua Harus Berjalan
Posisi Pemerintah Kabupaten Gresik dalam situasi ini justru sangat penting. Pemerintah tidak perlu menjadi pedagang sampah atau membeli semua material yang dihasilkan. Pekerjaan yang lebih strategis adalah memastikan pihak-pihak yang selama ini berjalan sendiri-sendiri mulai saling menemukan. Pemerintah dapat menjadi pengarah, penyedia data, pembuka akses, sekaligus penghubung antara pengelola sampah, dunia usaha, masyarakat dan industri.
Pemerintah bisa memulainya dari sesuatu yang sederhana: data. Kita perlu tahu siapa yang menghasilkan material, siapa yang mengumpulkan, jenisnya apa, berapa volumenya, siapa yang mengolah, siapa yang membeli, dan ke mana material tersebut akhirnya pergi. Selama ini kita relatif rajin menghitung sampah yang terkumpul. Sudah waktunya kita mulai menghitung material yang berhasil diselamatkan.
Sebab angka 74,26 persen sampah terkelola belum menjawab seluruh pertanyaan ekonomi sirkular. Begitu pula angka 32.138,37 ton “bahan baku sampah” dalam SIPSN tidak boleh begitu saja dianggap sebagai bukti bahwa seluruh material tersebut telah kembali masuk ke proses produksi. Kita membutuhkan ketertelusuran yang lebih baik agar tidak hanya mempunyai angka, tetapi memahami perjalanan material di balik angka tersebut.
Prinsipnya sederhana: jangan buru-buru membangun lebih banyak kalau yang sudah ada belum sepenuhnya terhubung. Bank sampah boleh bertambah, TPS3R boleh bertambah, fasilitas pengolahan boleh bertambah. Tetapi kalau material yang dihasilkan tidak menemukan pasar, kita hanya memperbesar fasilitas tanpa memperpanjang usia material.
Karena itu, Gresik tidak perlu terburu-buru mengklaim dirinya sebagai kabupaten ekonomi sirkular. Yang lebih penting adalah menunjukkan bahwa Gresik sedang bergerak ke arah sana. Pemerintah telah membangun fondasi, InCircular memberikan momentum, dunia usaha mempunyai kekuatan industri, masyarakat mempunyai peran di hulu, dan produsen mempunyai tanggung jawab. Yang dibutuhkan sekarang adalah memastikan semua itu tidak berjalan sendiri-sendiri.
Bappenas menyebut ekonomi sirkular membutuhkan “visi dan aksi bersama”. Pemerintah tidak bisa memilah sampah di seluruh rumah, industri tidak bisa menciptakan pasar jika material yang tersedia tidak memenuhi kualitas, pengelola sampah tidak bisa bekerja tanpa pembeli, dan masyarakat akan kesulitan berubah jika sistem yang dibangun tidak memberi ruang bagi perubahan. Semua saling membutuhkan.
Maka, kalau pemerintah sudah membuka jalan, jangan biarkan pemerintah berjalan sendirian. Industri jangan hanya menjadi tetangga yang menikmati pertumbuhan ekonomi Gresik tanpa ikut memikirkan jejak material yang ditinggalkannya. Masyarakat jangan hanya menjadi penonton yang menuntut lingkungan bersih tanpa mengubah kebiasaan dari rumah. Produsen jangan menganggap tanggung jawab selesai ketika barang sudah terjual, dan pemerintah pun jangan berhenti bekerja hanya karena sampah sudah berhasil diangkut.
Sebab ukuran keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya seberapa banyak sampah yang berhasil kita singkirkan dari pandangan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa banyak nilai yang berhasil kita selamatkan agar tidak berubah menjadi beban lingkungan.
Kita memang perlu membuang sampah. Tetapi jangan buru-buru membuang nilainya. {*}
*) Abdullah Sidiq Notonegoro, Ketua PADMA Indonesia.








