KEDIRI (RadarJatim.id) – Pemerintah Kabupaten Kediri memastikan stok beras di pasaran masih aman di tengah isu harga dan pasokan beras yang menjadi perhatian secara nasional. Namun, di tingkat pelaku usaha, distribusi beras tidak sepenuhnya berjalan tanpa kendala.
Pedagang ritel mengaku sempat menunggu pasokan, sementara penggilingan menghadapi harga gabah dan margin penjualan yang semakin terbatas. Kondisi itu terungkap saat Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Kediri bersama tim terkait melakukan pemantauan harga dan ketersediaan beras di sejumlah titik di Kecamatan Pare, Rabu (23/9/2026). Pemantauan dilakukan mulai dari pasar tradisional, ritel modern hingga penggilingan beras.
Analis Muda Perdagangan Disdagin Kabupaten Kediri, Choirunni’mah, mengatakan, pemantauan dilakukan untuk memastikan isu beras yang berkembang secara nasional tidak menimbulkan persoalan serupa di Kabupaten Kediri.
“Ini kita sebenarnya dalam rangka pemantauan ketersediaan dan harga beras yang ada di Kabupaten Kediri saat ini. Karena saat ini isu beras sedang mencuat di tingkat nasional,” kata Choirunni’mah.
Dari hasil pemantauan, kata dia, harga beras di sejumlah titik yang didatangi masih berada dalam koridor Harga Eceran Tertinggi (HET). Sementara stok beras, baik di pasar tradisional maupun ritel modern, dikatakan masih tersedia.
“Secara umum kondisi beras secara harga masih sesuai dengan HET. Untuk ketersediaan, di penggilingan yang kita jumpai ini masih aman untuk proses produksi yang memenuhi pasar secara reguler,” ujarnya.
Di Pasar Tradisional Pare, pedagang beras, Ulfa Nur Laili (34), mengatakan, sejumlah jenis beras masih tersedia di lapaknya. Salah satu beras medium dijual Rp 13.500 per kilogram. Sementara jenis premium yang dia jual berada di kisaran Rp 13.700 per kilogram.
“Yang Nampat (IR 64, Red) Rp 13.500. Kalau Bramu Rp 13.700,” kata Ulfa.
Untuk jumlah pasokan, Ulfa mengatakan, stok yang tersedia berubah mengikuti distribusi dan kebutuhan pasar. Ia menyebut, salah satu jenis beras yang tersedia mencapai sekitar satu ton, sedangkan jenis lainnya sekitar lima kuintal.
Beras SPHP juga tersedia, dengan pasokan yang disebutnya sekitar lima kuintal dalam periode tertentu. Ulfa juga memastikan beras bantuan pangan dan beras yang digunakan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan berasal dari lapaknya.
Ritel Sempat Tunggu Pasokan
Berbeda dengan kondisi di pasar tradisional, pihak ritel mengaku sempat mengalami hambatan pasokan. Kepala Toko Dinasti Swalayan Pare, Sonny Herlambang, mengatakan, pihaknya pernah tidak mendapatkan pasokan selama sekitar satu minggu.
“Memang kemarin sempat satu minggu tidak bisa ambil. Setelah kondisi mulai aman, pasokan sudah mulai kembali,” kata Sonny.
Menurut dia, persoalan lebih terasa pada beras premium. Beberapa jenis beras sempat tidak tersedia sehingga pihaknya harus menunggu pengiriman berikutnya. Saat pemantauan dilakukan, pasokan beras kembali masuk. Bahkan, beras kemasan lima kilogram baru saja dibongkar dari pengiriman.
“Kalau kosong masih banyak yang cari. Konsumennya memang ada,” ujarnya.
Di tingkat penggilingan, persoalan lain muncul dari harga bahan baku. Pemilik UD Putra Ramayana Pare, Bambang Setiaji, mengatakan, harga gabah yang dibeli penggilingan ikut memengaruhi harga beras yang dijual kepada konsumen.
“Kalau gabah mahal, kita juga harus menyesuaikan. Kita ingin menjual sesuai aturan pemerintah, tetapi marginnya menjadi tipis,” kata Bambang.
Menurut dia, harga gabah sempat berubah dalam beberapa waktu terakhir. Penggilingan harus berhitung agar harga jual tetap sesuai ketentuan sekaligus tidak membuat usaha merugi. Bambang menyebut, harga beras premium di tingkat penggilingan juga sempat berada di kisaran Rp 8.500 per kilogram. Sebelumnya, harga berada di sekitar Rp 6.500 per kilogram.
“Marginnya tipis. Bahkan beberapa waktu lalu sempat rugi, tetapi karena sudah menjadi pelanggan tetap, tetap kami kasih dengan jumlah terbatas,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memperkuat pasokan melalui Bulog.
“Kalau stok digelontorkan, barang banyak, hukum ekonomi pasti berjalan. Kalau barang banyak dan permintaan tetap, harga akan lebih mudah turun,” kata Bambang.
Stok Aman, Distribusi Tetap Dipantau
Choirunni’mah mengatakan, hasil pemantauan belum menunjukkan adanya kekosongan beras secara umum di Kabupaten Kediri.
“Stok di pasar tadi kita cek ada semua, baik di pasar tradisional maupun di retail modern,” ujarnya.
Untuk beras premium, dia mengatakan jenis tersebut juga masih ditemukan di pasar maupun ritel modern.
Sebelumnya memang sempat ada laporan kekosongan beras premium di salah satu ritel modern di wilayah Kediri. Namun, kondisi tersebut telah kembali terisi setelah Disdagin berkoordinasi dengan penggilingan besar dan Bulog.
“Memang kemarin sempat ada laporan kekosongan beras premium. Tapi sudah terisi,” katanya.
Sementara beras SPHP, kata Choirunni’mah, masih mendapatkan pengiriman dari Bulog.
Untuk menjaga harga tetap sesuai ketentuan, Disdagin melakukan pemantauan harga secara rutin. Choirunni’mah mengatakan, petugas survei memantau harga pada hari kerja. Jika ditemukan harga yang berada di atas HET, pedagang akan diberikan teguran dan petugas mencari penyebab kenaikan.
“Kalau kita temukan ada kenaikan, kita datangi dan cari informasi penyebab kenaikannya,” katanya.
Ia mengatakan, langkah awal yang dilakukan adalah memberikan teguran. Jika harga masih berada di atas ketentuan, petugas akan kembali melakukan pengecekan.
Hasil pemantauan tersebut menunjukkan kondisi beras di Kabupaten Kediri masih relatif terkendali dari sisi ketersediaan. Namun, dinamika di tingkat ritel dan penggilingan menunjukkan bahwa rantai pasok tetap dipengaruhi oleh distribusi serta harga gabah sebagai bahan baku.
Karena itu, pemerintah daerah terus melakukan pemantauan agar ketersediaan beras tetap terjaga dan harga di tingkat konsumen tidak bergerak di luar ketentuan. Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembelian secara berlebihan selama pasokan di pasar masih tersedia. (rul)








