Cerpen Mahfudz Efendi
Di balik dinding rumah batu sederhana yang dingin dan tak berplester rapi, cahaya lampu bohlam kuning bergoyang redup. Listrik PLN berdaya 900 VA di rumah itu kerap harus dikompromikan. Jika rice cooker menyala, televisi tua dan pompa air terpaksa harus mengalah agar meteran tidak mendadak njeglek sehingga semua lampu dan perangkat pun mati, tak berfugsi.
Rendra mengusap wajahnya yang lelah. Di tangannya, selembar kertas putih kusam berisi rincian pengeluaran bulan ini seperti sedang menatapnya balik dengan dingin da tajam, menantang keberaniannya sebagai seorang kepala keluarga.
Hampir tengah malam. Suara jangkrik di luar rumah batu itu mengiringi helaan napas berat Rendra. Hari ini tepat ulang tahunnya yang ke-35.
Di usianya yang sekarang, dulu Rendra membayangkan dirinya sudah memegang posisi penting di manajerial di kantor, mengendarai mobil keluarga yang nyaman, dan memiliki tabungan berlipat untuk masa depan. Namun kenyataannya, posisi Rendra di perusahaan logistik itu masih sama seperti empat tahun lalu. Tabungannya selalu surut digulung kebutuhan harian, cicilan motor yang belum lunas, dan biaya sekolah yang kian mencekik.
Rendra membuka aplikasi media sosial di ponselnya. Ini kebiasaan buruk di malam hari yang selalu ia sesali setelahnya. Foto pertama yang muncul adalah milik Danu, teman satu angkatannya saat kuliah. Danu tersenyum lebar bersama anak dan istrinya dengan latar belakang menara Eiffel. Caption-nya singkat: “Merayakan promosi dan ulang tahun di kota impian.”
Dada Rendra terasa sesak. Ia menggeser layar lagi. Kali ini foto Rian, teman setimnya di kampus dulu, yang baru saja meresmikan cabang bisnis restorannya yang ketiga.
“Kapan ya, hidupku bisa seperti mereka?” bisik Rendra pada kegelapan malam.
Rasanya seperti berjalan di tempat. Sementara orang-orang di sekitarnya sudah melompat menggunakan jet pribadi. Ketegangan batin yang terpendam itu pun akhirnya pecah, dua hari kemudian.
Sore itu, Rendra pulang dengan kepala berdenyut hebat akibat beban kerja yang menumpuk. Di meja makan, Alesha, istrinya, menyambutnya dengan lembaran kertas baru: rincian biaya kegiatan ekstrakurikuler dan buku panduan semester baru untuk Arka, anak mereka yang kini duduk di kelas 4 SD.
“Mas, ini tagihan dari sekolah Arka. Harus dilunasi sebelum akhir bulan,” ujar Alesha pelan, mencoba seberhati-hati mungkin.
Rendra memijat pangkal hidungnya. Matanya seperti tak percaya, meski itu nyata.
“Bukannya baru minggu lalu aku transfer buat SPP, Al? Kenapa ada biaya tambahan lagi?”
“Ini untuk buku baru dan kegiatan luar sekolah, Mas. Aku sudah coba minta keringanan, tapi dari sekolah bilang ini wajib,” jawab Alesha, nadanya mulai bergetar.
“Al, uang tersisa di rekening cuma cukup buat makan sampai akhir bulan! Aku juga butuh ganti ban motor yang sudah gundul, hampir terpeleset aku tadi pagi di jalan!” suara Rendra meninggi tanpa bisa ia tahan.
Frustrasi yang tertahan selama bertahun-tahun pun seolah menemukan jalannya untuk meluap.
Alesha meletakkan cangkir teh di meja dekatnya, dengan agak keras. Matanya berkaca-kaca.
“Kamu pikir aku senang minta uang terus sama kamu, Mas? Aku memutar otak setiap hari supaya uang belanja yang kamu kasih cukup! Aku bahkan sudah berhenti beli baju baru sejak dua tahun lalu. Semua yang aku minta itu buat anak kita, bukan buat gayaku!”
“Aku tahu, Al! Tapi aku capek! Di usia 35 tahun, aku merasa gagal jadi suami dan ayah! Teman-temanku sudah ke luar negeri, punya rumah besar, sedangkan kita masih merangkak seperti ini!” ungkap Rendra setengah berteriak.
Suasana hening seketika. Alesha menatap Rendra dengan pandangan terluka yang belum pernah Rendra lihat sebelumnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alesha berbalik dan masuk ke kamar, menutup pintunya rapat-rapat.
Rendra terduduk di kursi kayu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Penyesalan langsung menyerbunya. Kenapa ia harus melampiaskan rasa ketidakmampuannya kepada wanita yang selalu setia menguatkannya?
Keesokan harinya, keheningan dingin menyelimuti rumah batu mereka. Alesha menyiapkan sarapan tanpa bersuara, sementara Arka menatap kedua orang tuanya dengan bingung. Rendra berangkat kerja dengan perasaan hampa dan ganjalan besar di dada.
Sore hari saat perjalanan pulang, hujan deras mengguyur kota. Motor Rendra tiba-tiba mogok di tengah jalan raya yang padat. Ban belakangnya licin, dan mesinnya mati total. Dalam guyuran hujan deras, Rendra harus mendorong motornya sejauh satu kilometer menuju bengkel terdekat.
Baju kerjanya basah kuyup. Hatinya hancur. Ia merasa berada di titik terendah dalam hidupnya. Di pinggir jalan, di bawah naungan atap toko yang tutup, Rendra duduk bersandar pada motornya yang rusak. Ia menunduk, menahan air mata yang berkecamuk bersama air hujan.
Entah dari mana datangnya, tiba-tiba, sebuah payung menaungi kepalanya. Rendra menengadah. Alesha berdiri di sana dengan jas hujan plastik murah yang sudah agak robek di bagian bahu. Wajah istrinya basah oleh bintik air hujan, namun tatapannya hangat.
“Pak RT bilang tadi lihat kamu dorong motor di jalan,” kata Alesha pelan, sambil menyodorkan satu botol teh hangat yang dibungkus kain agar tetap panas. “Kamu enggak apa-apa, Mas?”
Rendra menatap istrinya, tak mampu berkata-kata. Ia berdiri dan seketika memeluk Alesha di bawah rintik hujan yang tersisa.
“Maafkan aku, Al … Maafkan aku. Aku suami yang tidak berguna. Aku belum bisa kasih kehidupan yang layak buat kamu dan Arka.”
Alesha membalas pelukan itu dengan erat. Ia mengusap punggung suaminya yang gemetar.
“Mas, dengarkan aku,” ucap Alesha berbisik tepat di telinganya. “Lihat aku.”
Rendra melepaskan pelukannya dan menatap mata istrinya.
“Hidup kita memang tidak bergelimang harta seperti teman-temanmu. Tapi kamu tidak pernah menyerah. Tiap pagi kamu bangun sebelum subuh, pulang malam, menembus hujan dan panas cuma demi memastikan ada makanan di meja dan Arka tetap bisa sekolah,” kata Alesha dengan suara mantap. “Kamu tidak pernah melepaskan tanggung jawabmu. Bagi aku dan Arka, kamu adalah pahlawan. Itu bukan kegagalan, Mas.”
Kalimat itu memukul dada Rendra dengan kehangatan yang luar biasa. Selama ini, ia terlalu sibuk mengukur keberhasilannya dari standar orang lain, sampai ia lupa melihat nilai dari perjuangannya sendiri.
Malam itu, setelah motor selesai diperbaiki secara darurat dan mereka tiba di rumah, Rendra duduk di tepi tempat tidur Arka yang sudah tertidur lelap. Di samping bantal Arka, terdapat sebuah gambar sederhana dengan krayon.
Gambar tiga orang bergandengan tangan di bawah matahari senyum, dengan tulisan berantakan di bawahnya: “Selamat Ulang Tahun Ayah. Terima kasih sudah bekerja keras buat Arka.”
Rendra tersenyum, kali ini tulus dari lubuk hatinya. Air matanya menetes, namun bukan lagi karena rasa sesak atau iri hati, melainkan karena rasa syukur yang melimpah.
Ia berjalan ke dapur, menghampiri Alesha yang sedang menyeduh teh hangat. Rendra merangkul bahu istrinya dari belakang.
“Di usia ini, ternyata hidupku memang belum sebaik yang kubayangkan dulu, Al,” bisik Rendra pelan. “Tapi aku sadar, bertahan, mencukupi kalian, dan terus berusaha di tengah keterbatasan ini adalah kemenangan terbesarku.”
Alesha menggenggam tangan Rendra yang melingkar di bahunya, menyandarkan kepalanya di dada sang suami. “Kita jalan pelan-pelan ya, Mas. Tidak harus secepat mereka.”
Rendra mengangguk mantap. Langkahnya mungkin tidak secepat orang lain, tapi ia tahu, selama ia berjalan bersama orang-orang yang dicintainya, setiap langkah—sekecil apa pun—memiliki arti yang sangat besar. {*}
*) Mahfudz Efendi, Guru di SD Alam Muhammadiyah Kedanyang (SD Almadany) Kebomas, Gresik, Jawa Timur.








