SIDOARJO (RadarJatim.id) – Kegembiraan masih terpancar di wajah Air Langga Budi Prasetya, Lc, M.Pd, Kepala Sekolah SD Antawirya Islamic Javanese School. Pada Minggu (11/10) lalu, SD Islam yang berlokasi di desa Junwangi kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo ini berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia).
Ditemui di kantornya, Rabu (28/10), Air Langga mengatakan, rekor MURI yang dicapai SD Antawirya merupakan pencapaian tingkat dunia untuk kategori penulisan aksara Jawa terpanjang. Ditulis di bentangan kain sepanjang 600 meter melibatkan sekitar 600 peserta. Mulai dari siswa kelas 1 hingga kelas 6, para guru, serta wali murid dan tamu.
Dilihat dari ketinggian, bentangan kain bertuliskan aksara Jawa (hanacaraka) itu tampak melingkar mengelilingi pendapa Giri Kedaton yang berada di areal sekolah seluas 2500 meter persegi tersebut. Seluruh peserta mengenakan busana tradisional Jawa, berupa baju lurik lengkap dengan blangkon bagi peserta pria. Dari 3000 orang tamu yang hadir, seluruhnya tampak antusias mengikuti penulisan aksara Jawa secara massal tersebut.
Sedangkan teks yang ditulis peserta dalam bentangan kain tersebut berupa ungkapan dan peribahasa yang mempunyai nilai filosofis tinggi, bersumber dari ajaran filosofi Jawa. Misalnya, becik ketitik ala ketara (perbuatan baik akan terlihat, perbuatan buruk juga akan tampak), adigang adigung adiguna (jangan bersikap sombong, takabur, dan angkuh), bathok bolu isi madu (tampilan fisiknya terlihat sederhana, tetapi menyimpan kelebihan di dalam dirinya atau low profile).
Menurut Kepala Sekolah Air Langga, penyelenggaraan acara ini merupakan wujud nyata dari komitmen sekolah dalam menjaga eksistensi budaya dan bahasa Jawa di tengah arus modernisasi. Bernaung di bawah Pesantren Modern “Al Amanah” Junwangi Krian Sidoarjo yang mengusung konsep budaya Jawa sebagai landasan pembentukan karakter.
“Pendiri pesantren (KH Nurcholis Misbah) memberikan mandat kepada kami untuk menjadikan sekolah ini sekolah berbasis islam dan budaya Jawa. Oleh karena itu setelah penanaman tentang akidah, keimanan, ketaqwaan, anak lkami dikenalkan budaya Jawa yang pada intinya adalah pembentukan karakter,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian budaya Jawa ini sudah diterapkan kepada siswa sejak kelas 1 SD. Selain kurikulum pembelajaran bahasa Jawa, dalam pergaulan keseharian menerapkan unggah-ungguh (tata krama) dan sapaan dalam bahasa Jawa krama. Setiap Selasa, sekolah mewajibkan seluruh dewan guru dan murid mengenakan baju lurik. Hal ini sudah diterapkan sejak enam tahun lalu. (hms, rio)







