KEDIRI (RadarJatim.id) – Pemenuhan kuota siswa dan adaptasi anak terhadap pola pendidikan menjadi tantangan dalam pelaksanaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri. Hingga Kamis (29/10/2026), kuota jenjang SMP masih kurang tujuh siswa, sementara tiga siswa dari angkatan tahun ini dilaporkan mengundurkan diri.
Ketua Tim (Katim) Program Keluarga Harapan (PKH) Kabupaten Kediri, Abdul Aziz, mengatakan, kuota siswa jenjang SMP sebanyak 120 orang, baru terisi 113 siswa. Adapun jenjang SD telah terisi 28 dari kuota 30 siswa, sedangkan kuota SMA sebanyak 120 siswa sudah terpenuhi.
“Untuk jenjang SMA sudah terpenuhi. Untuk SD-nya sudah 28. Untuk SMP-nya ini kita kurang tujuh, sudah 113,” ujar Abdul Aziz, Kamis (29/10/2026).
Dengan demikian, dari total kapasitas 270 siswa untuk tiga jenjang, sebanyak 261 kuota telah terisi berdasarkan data yang disampaikan Abdul Aziz. Menurut dia, proses penjaringan masih menghadapi tantangan, karena Sekolah Rakyat menyasar anak-anak dari keluarga kelompok desil 1 dan 2, yakni kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Abdul Aziz berharap, masyarakat turut membantu memberikan informasi mengenai anak-anak yang memenuhi kriteria agar petugas dapat melakukan penjangkauan lebih lanjut.
Tiga Siswa Mengundurkan Diri
Persoalan lain muncul dalam proses adaptasi siswa terhadap pola pendidikan di Sekolah Rakyat. Abdul Aziz menyebut, tiga siswa dari angkatan tahun ini mengundurkan diri karena belum terbiasa tinggal jauh dari keluarga dan ingin kembali ke rumah.
Menurut dia, siswa perlu beradaptasi dengan aturan yang lebih terstruktur, mulai dari kedisiplinan hingga pengaturan aktivitas sehari-hari. Dikatakan, kehidupan di Sekolah Rakyat berbeda dengan kebiasaan sebagian anak ketika tinggal di rumah. Penggunaan telepon genggam, waktu istirahat, dan kebebasan beraktivitas, menjadi hal yang perlu disesuaikan dengan aturan sekolah.
Abdul Aziz juga menceritakan pengalaman pada angkatan sebelumnya. Seorang siswa mengundurkan diri setelah orang tuanya memutuskan membawa anak tersebut pulang meskipun pihak sekolah telah melakukan mediasi hingga tiga kali.
“Kita sebenarnya sudah mediasi sampai tiga kali. Kita datangkan sekolah untuk memfasilitasi itu, tapi tetap orang tua ingin membawa anaknya pulang,” ujarnya.
Pengalaman tersebut memperlihatkan, bahwa keberlanjutan pendidikan siswa tidak hanya berkaitan dengan fasilitas sekolah. Kesiapan anak dan dukungan orang tua juga menjadi faktor penting dalam proses adaptasi.
Di sisi lain, Sekolah Rakyat memberikan pendidikan tanpa biaya bagi siswa. Program ini juga disertai dukungan bagi keluarga penerima manfaat sesuai kriteria yang ditetapkan pemerintah.
Abdul Aziz menyebut sebanyak 83 rumah milik orang tua atau wali siswa sedang dalam proses penanganan melalui program bantuan rumah. Kelayakan penerima diperiksa berdasarkan kondisi fisik bangunan, termasuk dinding, atap, dan lantai. Dukungan terhadap keluarga tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kualitas tempat tinggal sekaligus memperkuat manfaat program bagi anak-anak yang mengikuti Sekolah Rakyat.
Dengan masih adanya kuota yang belum terisi dan siswa yang mengundurkan diri, penjangkauan calon siswa serta pendampingan selama masa adaptasi menjadi pekerjaan penting. Upaya tersebut diperlukan agar kesempatan pendidikan yang disediakan pemerintah dapat dimanfaatkan oleh anak-anak yang benar-benar membutuhkan. (rul)








