SIDOARJO (RadarJatim.id) — Atlet panahan berkuda (Horseback Archery/HBA) Kabaupaten Sidoarjo, walaupun prestasinya sudah sampai pada eksipisi PON di Aceh, namun hingga saat ini belum memiliki tempat latihan, sehingga untuk berlatih secara rutin masih ada kendala.
Menurut Ketua Klub SSA (Sahabat Sehat Archery) Sidoarjo, Rizky Rahmawati menjelaskan hingga saat ini, jumlah atlet di Sidoarjo yang tercatat aktif dan siap untuk mengikuti kompetisi resmi baru berjumlah 8 atlet.
Namun, untuk proses regenerasi dan persiapan, sebenarnya ada banyak anak-anak yang tertarik. Tetapi kendala terbesar yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan fasilitas. Bahkan belum ada tempat latihan.
“Karena fasilitas latihan belum memadai, proses pelatihan intensif bagi atlet-atlet kita yang serius terpaksa harus dilakukan di luar Kota Sidoarjo,” ungkap Rizky Rahmawati usai mengikuti Muskab Pordasi Berkuda Memanah, pada (18/5/2026) di Kantor KONI Sidoarjo.
“Hal ini menuntut komitmen yang sangat besar, baik dari anak-anak maupun orang tua atlet mereka,” katanya.
“Oleh karena itu kami juga berharap kepada KONI Sidoarjo juga pemerintah Kabupaten Sidoarjo agar bisa memfasilitasi Cabor Pordasi Berkuda Memanah ini, sehingga kedepannya bisa menjalani latihan yang semestinya, di wilayah Kabupaten Sidoarjo sendiri,” harapnya.
Ia terangkan, peran Klub SSA Sidoarjo dan antusiasme ibu-ibu sangat besar sekali. Perkembangan olahraga ini tidak lepas dari peran Klub SSA Sidoarjo. Klub ini membidani olahraga panahan berkuda maupun panahan darat (ground archery), dan menjadi satu-satunya klub di Sidoarjo yang saat ini memiliki atlet berkuda memanah.
Uniknya, ketertarikan terhadap olahraga ini tidak hanya datang dari kalangan atlet muda. Banyak dari penggiat olahraga berkuda memanah di SSA Sidoarjo justru datang dari kalangan ibu-ibu (akhwat).
“Meskipun tidak dikategorikan sebagai atlet prestasi, mereka sangat aktif sebagai penggiat olahraga ini,” jelasnya lagi.
Jadi, motivasi terbesar para ibu-ibu ini adalah nilai ibadah (sunah), dan manfaat kesehatan dari berkuda yang sangat baik.

Menariknya, penggiat paling senior di klub ini bahkan sudah menginjak usia 69 tahun dan masih aktif naik di atas punggung kuda. “Jadi, antusiasme dari para ibu ini pula yang menjadi dorongan kuat bagi anak-anak mereka untuk ikut berprestasi,” terang Bu Rizky.
”Sebagai bentuk keaktifan, pada tanggal 31 Mei mendatang, klub berencana membawa sekitar 15 orang ibu-ibu untuk mengikuti acara fun trekking berkuda bersama-sama di Magetan,” pungkasnya.(mad)






