PROBOLINGGO (RadarJatim.id) — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melaksanakan kegiatan Pemasyarakatan Bahasa Indonesia bagi Pelaku Wisata di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
Dalam hal ini, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur memperkenalkan buku saku Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), sebagai terobosan dan inovasi baru yang menggabungkan penguatan bahasa Indonesia di sektor pariwisata di Indonesia.
Sebanyak 70 pelaku wisata, terdiri dari pemandu, pengelola hotel, restoran, agen perjalanan, hingga penyedia jasa wisata, mengikuti kegiatan yang dirancang untuk meningkatkan keterampilan komunikasi mereka dengan wisatawan asing, pada (6/9/2025).
Program ini terkait langsung dengan posisi bahasa Indonesia di dunia. Saat ini, bahasa Indonesia dipelajari di 57 negara dengan dukungan 772 lembaga pengajaran BIPA di dunia.
Sejak 2023 pula, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa resmi dalam Sidang Umum UNESCO, sejajar dengan sembilan bahasa dunia lainnya.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa capaian tersebut harus disyukuri sekaligus diperkuat dengan kerja nyata di lapangan.
Ia menyampaikan bahwa tahun ini untuk pertama kalinya pidato resmi pemerintah Indonesia dalam Sidang Umum UNESCO akan menggunakan bahasa Indonesia, sebuah simbol penting kedaulatan bahasa negara di kancah internasional.
Hafidz juga menekankan keterkaitan erat antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai pemerkaya bahasa Indonesia.
“Dalam bahasa daerah terdapat nilai sejarah, budaya, dan adat istiadat yang menjadi nilai luhur kebangsaan kita. Melestarikan bahasa daerah sama pentingnya dengan upaya membawa bahasa Indonesia ke panggung dunia,” katanya.
Kepala Balai Bahasa Jawa Timur, Puji Retno Hardiningtyas menyebut kehadiran buku saku BIPA ini sebagai inovasi pertama yang dilakukan balai bahasa di Indonesia.
Menurutnya, buku tersebut terbukti efektif karena wisatawan asing menunjukkan antusiasme tinggi ketika diperkenalkan bahasa Indonesia dasar.
“Buku ini sederhana tetapi bermakna. Wisatawan merasa senang sekaligus tertarik untuk belajar, dan pelaku wisata jadi punya alat bantu praktis saat berinteraksi,” ujar Retno.
Dari sisi masyarakat, kegiatan ini disambut positif. Kepala Desa Ngadirsari, Sunaryono, menyebut bahwa warga setempat semakin percaya diri setelah dibekali materi dan buku saku.
“Biasanya kita belajar ingin bahasa asing, kini kita justru diajak mengenalkan bahasa Indonesia kepada turis. Itu membuat kita lebih mencintai bahasa persatuan ini,” ucapnya.
Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Ganjar Harimansyah, menambahkan bahwa pelaku wisata memegang peranan ganda sebagai penggerak ekonomi dan sekaligus agen diplomasi bahasa.
Ketua APPBIPA Pusat, Gatut Susanto, menilai program ini bisa menjadi contoh nasional. Baginya, pelaku wisata adalah garda depan interaksi dengan wisatawan asing. Jika mereka mampu memperkenalkan bahasa Indonesia dengan percaya diri, diplomasi bahasa akan berjalan secara alami.
“Buku saku BIPA ini sangat bagus dan dapat direplikasi di balai bahasa lainnya untuk meningkatkan potensi obyek wisata di Indonesia sebagai media diplomasi bahasa” ujarnya.
Bagi para peserta, pengalaman ini menjadi bekal sekaligus motivasi. Eka dan Dea, dua pelaku wisata dari kawasan Bromo, mengaku lebih percaya diri setelah mendapatkan pembekalan. “Selama ini kami malu berinteraksi dengan turis karena keterbatasan bahasa. Dengan adanya pelatihan ini, kami lebih berani memperkenalkan bahasa Indonesia,” kata keduanya.(ist.mad)







