JAKARTA (RadarJatim.id) — Pelaku Sanggar Pelakon, pimpinan Mutiara Sani, menggelar peringatan Seabad Setahun Asrul Sani pada 9-10 Juni 2026. Gelaran yang bekerja sama dengan Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) dan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI ini akan berlangsung di Perpustakaan Nasional RI, Jl. Medan Merdeka Barat, Jakarta.
Prof Novi Anoegrajekti, Ketua Umum HISKI, mengungkapkan, Asrul Sani (1925-2004), pada 10 Juni 2026 genap 101 tahun. Untuk itu, Pelaku Sanggar Pelakon, yang dipimpin oleh Mutiara Sani, bersama HISKI) dan Perpusnas akan menggelar peringatan Seabad Setahun Asrul Sani (1925-2026)pada 9-10 Juni 2026. Bertempat di Perpustakaan Nasional even tersebut sebagai bentuk kerja kolaborasi.
Adapun agendanya, pameran akan digelar pada 9-17 Juni 2026 bertempat di lantai 4 Perpustakaan Nasional. Kegiatan ini pada intinya mengenang dan memeringati Asrul Sani sebagai seorang budayawan, seniman, teaterawan, dan sineas Indonesia pada masanya.
“Rangkaian acara peringatan Seabad Setahun Asrul Sanididesain dengan keragaman para narasumber yang memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang Asrul Sani dan karya-karyanya,” ujar Prof Novi di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Ia menjelaskan, panitia telah menyusun rangkaian acaranya sebagai berikut:
- Dialog Budaya “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” dijadwalkan berlangsung pada 9 Juni 2026, pukul 08.00-selesai. Kegiatan ini merupakan ruang untuk berbagi dan berdialog berbagai pemikiran Asrul Sani terkait dengan persoalan-persoalan kebudayaan, sastra, film, dan teater.
Para narasumbernya: Prof Dr Jimly Assidiqie, SH, MH, Prof Riris K. Toha-Sarumpaet, MSc, PhD, Shuri M. Gietty Tambunan, MA, MHum, PhD, dan Eros Djarot. Acara ini akan diawali dengan sambutan dari Menteri Kebudayaan RI, Kepala Perpustakaan Nasional RI, Pimpinan Pelaku Sanggar Pelakon, dan Ketua Umum HISKI.
- Pemutaran film Kemelut Hidup (1977) yang disutradarai Asrul Sani. Film ini merupakan hasil adaptasi Asrul Sani dari novel Kemelut Hidup karya Ramadhan K.H. Film ini dibintangi Soekarno M. Noor, Mutiara Sani, dan Chitra Dewi.
Ceritanya tentang Abdurahman (Sukarno M. Noor), pegawai suatu departemen yang jujur, rajin, dan sederhana. Ia sudah mempersiapkan diri untuk memasuki masa pensiun. Sebagai seorang sarjana ekonomi, ia yakin dapat menjalani pensiunnya dengan tenang bersama enam anaknya.
Namun, hal yang terjadi adalah ia tak dapat memperoleh pekerjaan baru. Kemelut hidupnya semakin menggerus ketika anaknya, Susana (Widyawati), menjadi pelacur. Ina (Sri Widiati), istrinya berusaha membantu ekonomi keluarga. Kemelut ini masih ditambah lagi oleh anaknya yang lain, Aminah (Mutiara Sani), yang pulang dari belajar di luar negeri sebelum selesai, karena hamil dan mengalami tekanan jiwa.
- Penulisan buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia, sebagai upaya merekam secara ilmiah berbagai pemikiran dan kreativitas Asrul Sani oleh para pakar, pemerhati, dan praktisi. Buku ini memuat 86 tulisan dari 141 orang penulis, yang terdiri atas kalangan pejabat (Menteri Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri PPPA), seniman, sineas, dan peneliti anggota HISKI. Komposisi isi dalam buku tersebut satu sambutan, enam kata pengantar, lima tulisan dari keluarga, prolog, bagian 1 terdiri atas 12 tulisan; bagian dua ada 10 tulisan; bagian tiga berisi 13 tulisan; bagian 4 terdiri dari 9 tulisan; bagian 5 ada 11 tulisan; bagian 6 berisi 17 tulisan; dan epilog.
Secara keseluruhan jumlah halamannya tercatat 1.600 halaman. Oleh karena itu, buku ini diterbitkan dalam dua jilid. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit HISKI dan dicetak oleh Penerbit Kanisius. Acara peluncuran buku ini (launching) akan dilakukan bersamaan dengan acara Seminar Nasional pada tanggal 10 Juni 2026.
- Seminar Nasional “Asrul Sani dalam Dinamika Budaya Indonesia” dan Peluncuran Buku Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia (10 Juni 2026, pukul 08.00-selesai). Even ini menjadi wahana untuk membahas jejak langkah Asrul Sani berkaitan dengan perannya sebagai intelektual, sastrawan, budayawan, dan sineas dalam gerak kebudayaan Indonesia.
Oleh karena itu, dalam seminar ini akan dihadirkan para pakar di bidangnya masing-masing untuk membahas peran Asrul Sani tersebut. Para Narasumber yang akan berbicara pada Sesi 1 adalah Prof Dr H. Nasaruddin Umar, MA, Prof Dr I Nyoman Darma Putra, MHum, Jamal D. Rahman, MHum, Dr Seno Gumira Ajidarma, MHum, Dr Imam B. Prasodjo dengan moderator Dr M. Yoesoef, MHum.
Untuk Sesi 2 akan berbicara narasumber Prof Dr Yoseph Yapi Taum, MHum, Prof Diah Ariani Arimbi, MA, PhD, Dr Tengsoe Tjahjono, MPd, Dr Much. Khoiri, MSi, dan Hety Setiawati, M.P, yang dipandu oleh Sudartomo Macaryus, MHum. Acara seminar ini akan dibuka dengan sambutan dari Kepala Perpustakaan Nasional RI, Pimpnan Pelaku Sanggar Pelakon, dan Ketua Umum HISKI.
- Pameran “Jejak Langkah Kreatif Asrul Sani” dilaksanakan sebagai media edukasi secara visual kepada khalayak mengenai kiprah kreatif dan karya Asrul Sani. Melalui pameran ini diharapkan apresiasi dan pengetahuan mengenai ketokohan Asrul Sani dapat menjadi referensi kepada semua pihak yang mengakses pameran tersebut.
Pameran dilaksanakan 9—17 Juni 2026 di Perpustakaan Nasional. Pameran ini disiapkan dan dikurasi oleh Dhianita Kusuma Pertiwi, SS, SPd, MHum dan timnya.
- Kegiatan yang tidak kalah penting adalah ziarah ke makam Asrul Sani sebagai bentuk pengingatan terhadap tokoh penting di bidang sastra, teater, film, dan kebudayaan.

Dijelaskan, ketokohan Asrul Sani dalam sejarah kesusastraan Indonesia dikenal sebagai pelopor Angkatan ’45 bersama Chairil Anwar, Rivai Apin, Achdiat Kartamihardja, dan Idrus. Ia juga menggagas konsep berkesenian untuk Seniman Merdeka yang dikenal dengan Surat Kepercayaan Gelanggang (‘Gelanggang’ adalah rubrik seni dan budaya di majalah Siasat pada tahun 1950-an).
Di bidang teater, Asrul Sani bersama D. Djajakusuma mendirikan Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI). Sementara di bidang perfilman, Asrul Sani menginisiasi lahirnya regulasi untuk perfilman Indonesia. Sebagai sineas, Asrul Sani melahirkan karya-karya cerita film, skenario, dan menyutradarai film.
Untuk itu, ia mendapat sejumlah Piala Citra untuk kategori penulis cerita asli, skenario terbaik, dan sutradara terbaik. Karya film dan televisi pada masa itu yang dihasilkan Asrul Sani, untuk film, di antaranya Titian Serambut Dibelah Tujuh, Apa yang Kau Cari Palupi, Lewat Djam Malam, Pagar Kawat Berduri, Nagabonar.
Dalam drama televisi, ada Ratna, Siti Nurbaya, Di Bawah Lindungan Kabah, Apa yang Kau Cari Adinda, juga Derai-derai Cemara. Ia juga menyutradarai pertunjukan teater, di antaranya, Caligula (Albert Camus), Burung Camar (Anton Chekov), Mahkamah (Asrul Sani), Yerma (F.G. Lorca), serta Monserrat (Robles).
Selain di dunia kesenian, Asrul Sani juga masuk ke dalam dunia politik, mewakili NU dan kemudian melalui PPP menjadi wakil rakyat di DPR RI periode 1971-1976. Ia mendapat Anugerah Seni pada 1966 dan Bintang Mahaputra tahun 2000 dari pemerintah RI.
Ia tambahkan, acara yang menampilkan jejak langkah Asrul Sani pada bulan Juni 2026 di Perpustakaan Nasional RI tersebut patut untuk dihadiri dan diapresiasi oleh semua kalangan agar nama besar di bidang kebudayaan, sastra, teater, dan film itu dapat menginspirasi generasi muda saat ini. Selain itu, melalui rangkaian kegiatan di atas, akan menambah pengetahuan dan meningkatkan literasi sastra, film, teater, dan budaya akan bertambah melalui paparan para narasumber. (har)






