Oleh: Moh. Husen*
BAGI sebagian teman-teman dekat yang kebetulan menjumpai dan membaca tulisan ini, tentu bisa menebak bahwa saya sedang sedemikian repotnya menulis namun jangan sampai dicurigai punya niat menceramahi, menggurui, menyindir, mengkritik, apalagi menghantam.
Maka judulnya Lebaran dan Pasta Gigi. Bukan Lebaran dan Peningkatan Maaf, Peningkatan Persaudaraan, dan sejenisnya. Akan tetapi judul bisa hanya casing atau tampak luarnya belaka. Kalau begitu dibaca, tiba-tiba muncul ayat Quran gimana? Apakah setiap muncul ayat mesti dianggap menggurui dan menceramahi?
Kalau agak kasar: apakah setiap yang pakai peci mesti dianggap bukan pencuri? Apakah judul tulisan Lebaran dan Pasta Gigi ini bisa dianggap pasti tidak sedang menceramahi, menggurui, mengkritik, dan menghantam. Mana mungkin saya yang orang biasa ini tidak punya nafsu dan ambisi untuk menggurui dan merasa benar sendiri?
Berbagai ide yang muncul sejak awal memasuki 1 Syawal Idul Fitri 2026 kali ini memang selalu saya cancel karena yang muncul selalu ide-ide yang nuansanya serius. Mbok ya santai saja. Ini lebaran. Waktunya makan-makan dan ngopi-ngopi. Kita tunda dulu obrolan seputar Presiden, Gubernur, Bupati, hingga Iran-Israel.
Tapi, ya Allah. Seorang suami tertawa geli saat pagi Shubuh menjelang shalat Idul Fitri. Ia merasa beres semua dalam mencukupi kebutuhan lebaran keluarganya. Namun satu hal yang ia lupa, bahwa pasta gigi di rumah sudah habis. Mulanya dia tahu pasta giginya habis saat mau mandi selepas Maghrib, tapi begitu selesai mandi ia lupa.
Untung di rumah itu hanya ada istrinya, sehingga segala sesuatu yang terkait bau mulut tersebut bisa diatasi dengan kumur-kumur, pakai sikat gigi sekenanya dan nyamil kue-kue lebaran. Drama ini berlangsung hingga selesai shalat Id, lantas kabur ke rumah orang tuanya: sungkem dan alhamdulilah ada pasta gigi.
Si suami lantas menengadahkan tangan: “Ya Allah, ampunilah hamba. Manusia memang tempatnya salah dan lupa. Hamba bersyukur bahwa lupa hamba pagi ini masih tergolong ringan dan lucu. Bukan lupa yang fatal…”
Meskipun tidak dijelaskan lupa yang fatal itu lupa yang bagaimana? Apa lupa menghapus chat WhatsApp, lupa menyampaikan hak milik orang lain, atau lupa tanggal berapa Indonesia merdeka. (***)
Banyuwangi, 27 Maret 2026.
*Penulis adalah seorang eseis. Tinggal di Banyuwangi, Jawa Timur.






