Oleh Much. Khoiri
Saya menyebut nama Mark Zuckerberg di sini, bukan karena posisinya sebagai konglomerat di dunia nyata, melainkan sebagai tokoh dalam film The Social Network (2010) yang mengisahkan ihwal pendirian Facebook. Namun, yang menarik, Zuckerberg ternyata tidak berhenti di masa lalu. Hingga saat ini, ia masih aktif menulis, bukan novel atau esai, melainkan kode program.
Pada 2026 dikabarkan, bahwa ia kembali menulis kode setelah sekitar 20 tahun vakum dari aktivitas tersebut, menggunakan alat bantu AI untuk koding seperti Claude Code untuk menulis kode Facebook. Ia bahkan dilaporkan memindahkan mejanya ke tengah tim AI Meta dan menghabiskan waktu 5 hingga 10 jam per minggu untuk menulis kode . Baginya, menulis tetaplah alat untuk mewujudkan visi, sebagaimana ia menuliskan kode untuk membangun dunia yang ia impikan.
Saya sungguh berutang budi kepada Mark Zuckerberg. Bukan karena saya mendapat hibah atau tawaran main film, tentu saja, melainkan karena inspirasinya saat saya menonton film itu. Dan kini, saya mengetahui, bahwa ia masih setia pada tulisannya —meskipun dalam bentuk kode— semakin mengukuhkan keyakinan saya bahwa menulis adalah keterampilan seumur hidup.
Bagaimana saya terinspirasi? Tahun 2011-an silam, saya menonton film besutan sutradara David Fincher itu di Sinema PTC Surabaya. Saya tertarik kecepatan menulis Mark Zuckerberg (diperankan oleh Jesse Eisenberg) untuk mengisi Facebook yang sedang dibangun. Dalam film tersebut, ia digambarkan memiliki kecepatan berpikir dan menulis yang luar biasa.
Pada suatu adegan, ia menyatakan dengan percaya diri, “We’re moving faster than any of us ever imagined it would. It’s moving fast.” Bagi saya, kecepatan itulah yang menjadi daya tarik tersendiri. Dan kini, setelah mengetahui bahwa ia masih aktif menulis hingga saat ini —dengan disiplin yang bahkan lebih intens—inspirasi itu semakin hidup.
Kecepatan menulis! Ya, kecepatan itu yang menginspirasi saya. Saat itu, saya berbisik dalam hati: “Wow, dia menulis sangat cepat. Lebih cepat daripada teman-teman jurnalis. Aku harus belajar menulis cepat begini.”
Saya tidak membandingkan Mark Zuckerberg dengan teman jurnalis yang saya kenal pada sisi kualitas tulisan. Ini relatif sekali. Akan tetapi, kecepatan itu benar-benar membuat saya terkagum dan terinspirasi.
Saya semakin penasaran ketika mengetahui, bahwa Zuckerberg mungkin menggunakan editor teks seperti Emacs untuk menulis kode, yang terkenal efisien dan cepat. Meskipun bidangnya berbeda (kode vs kata), semangat untuk produktivitas melalui alat dan disiplin yang tepat tetap sama.
Sejak saat itu, saya membuat impian: Aku harus bisa menulis cepat (speed writing) dengan sukses. Untuk itu, aku harus membayarnya dengan harga berapa pun, yakni latihan demi latihan tanpa kenal lelah. Saya setuju dengan prinsip yang dianut oleh Facebook, yaitu “Move fast and break things” atau “Bergeraklah cepat dan hancurkanlah hambatan.” Dalam konteks menulis, prinsip ini berarti jangan terlalu banyak berpikir atau menyempurnakan di awal; tulislah dulu, bebaskan ide mengalir, lalu perbaikilah nanti.
Karena itulah, saya mendidik diri dengan sangat keras. Masih segar dalam ingatan, saat itu tahun 2012-an, saya mulai mendidik diri untuk menulis kreatif 800-850 kata dengan speed writing. Setiap kali menulis, saya selalu menggunakan timer untuk mengukur kecepatan saya.
Saya mendidik diri itu tidak satu dua bulan, melainkan sekitar dua tahun, bayangkan. Dan saat itu saya sudah menjalani penerapan slogan saya “Write Everyday” (menulis setiap hari). Jadi, dalam dua tahun, tulisan cepat saya ya sekitar jumlah hari dalam dua tahun itu, sekitar 730 tulisan.
Bagaimana statistiknya? Selama dua tahun itu, kecepatan menulis saya berkisar antara 45-70 menit untuk menyelesaikan 800-850 kata. Kadang sangat cepat (45 menit), kadang agak lambat (70 menit). Target saya: Menulis 800-850 kata dalam maksimal 60 menit!
Alhamdulillah, setelah berjuang dengan disiplin penuh, saya akhirnya menguasai keterampilan menulis cepat pada ujung tahun 2014. Pertama, karena disiplin saya mendidik diri, kedua, pengondisian diri dengan slogan “Write Everyday“. Seperti yang saya tulis dalam buku SOS Sapa Ora Sibuk: Menulis dalam Kesibukan (2016/2020), dengan memiliki motto menulis yang kuat, seorang penulis memiliki kekuatan untuk melawan malas dan menghalau godaan. Motto itu menjadi “penyandera” yang memaksa saya untuk terus produktif.
Sejak itulah saya menjalani menulis kreatif 800-850 kata dengan kecepatan rata-rata maksimal 60 menit. Tidak boleh lebih lama dari pada itu. Mengapa? Masalah efisiensi waktu. Dengan memotong waktu 60 menit per hari, saya bisa memanfaatkan sisa waktu lainnya untuk kegiatan literasi lain seperti membaca, merenung, menjadi editor, dan sebagainya—di samping tugas harian sebagai dosen.
Karena menulis cepat telah menjadi kebiasaan, menulis terasa cukup enteng. Dengan begitu, slogan saya juga meningkat, dari “Write Everyday” menjadi “Write or Die” (Menulis atau Mati), mulai 2016 hingga akhir 2024. Dalam buku saya Becoming a Creative Writer: Proses Kreatif Menuju Buku Paling Dicari (2025), saya menegaskan, bahwa menulis bukan hanya sekadar mengolah kata, tetapi adalah proses menjadi (becoming). Menulis cepat bukanlah tujuan akhir; ia adalah alat untuk menuju proses “menjadi” yang lebih produktif dan berdampak.
Dan sejak awal 2025, slogan menulis saya menjadi: “Sit and Write” (Duduk dan Menulislah). Fase ini adalah puncak dari kedisiplinan yang telah saya bangun. Jika “Write or Die” adalah tentang memaksakan diri di bawah tekanan, maka “Sit and Write” adalah tentang kebiasaan otomatis yang mengalir begitu saja. Menulis bukan lagi beban, melainkan refleks alami setiap kali saya duduk.
Saya yakin, di luar sana, banyak jurnalis yang mampu menulis cepat, ya karena terbiasa dikejar deadline. Di luar sana juga banyak penulis yang mampu melakukan hal serupa. Namun, jujur saya bahagia, telah mampu menaklukkan tantangan sendiri: menulis cepat dalam waktu maksimal 60 menit.
Mungkin tidak akan sama dengan Mark Zuckerberg, tetapi saya berhasil meneladani kecepatannya. Dan kabar, bahwa ia hingga kini masih setia menulis —dengan disiplin mingguan 5-10 jam — semakin menegaskan bagi saya, bahwa kecepatan dan konsistensi dalam menulis adalah kunci untuk mewujudkan visi besar, apa pun bidangnya. {*}
*) Much. Khoiri (nama pena Dr Drs Much. Khoiri, MSi) adalah dosen Kajian Sastra/Budaya dan Menulis Kreatif di FBS Unesa, founder Rumah Virus Literasi, editor, penulis 81 buku, serta peresensi dan penulis esai lepas untuk berbagai media massa. Profil lengkap: https://muchkhoiri.com/2021/01/tentang-penulis/




