Oleh: Prof. Dr. Wiryanto, M.Si . (*)
SURABAYA (RadarJatim.id) Setiap kali Hari Pendidikan Nasional tiba, ingatan saya selalu melayang pada sebuah percakapan dengan seorang siswa kelas dua sekolah dasar, sekitar dua dasawarsa lalu.
Saat itu saya sedang melakukan penelitian tentang metode membaca permulaan. Seorang anak perempuan kecil, dengan kepang dua yang tidak simetris, tiba-tiba bertanya kepada saya, “Bapak Profesor, kenapa sih, kita harus sekolah? Di rumah aku sudah bisa baca komik Doraemon, lho.”
Saya yang saat itu sudah bergelar doktor dan sibuk dengan teori-teori rumit Vygotsky dan Piaget, terdiam cukup lama. Bukan karena sulit menjawabnya, tetapi karena untuk pertama kalinya saya disadarkan bahwa jawaban paling jujur untuk pertanyaan itu haruslah sederhana dan menyentuh hati, bukan sekadar argumen akademik yang rapi.
Di peringatan Hardiknas 2026 ini, di tengah gegap gempita kecerdasan buatan dan metaverse, pertanyaan gadis kecil itu seharusnya kembali menjadi kompas bagi kita semua, terutama bagi para guru dan perancang kebijakan di jenjang paling fundamental: pendidikan dasar.
Fondasi yang Terlupakan
Selama lebih dari tiga puluh tahun saya mengamati, meneliti, dan mencintai dunia pendidikan dasar, ada satu kegelisahan yang terus menggerogoti: kita telah memperlakukan pendidikan dasar sebagai periode persiapan belaka.
Kita dengan tidak sabar ingin melihat anak-anak kelas satu segera lancar membaca, kelas dua segera mahir berhitung perkalian, kelas empat segera paham rumus luas segitiga, semata-mata agar “siap” untuk ujian, “siap” untuk jenjang berikutnya, “siap” untuk bersaing secara global. Kelas-kelas dasar kita berubah menjadi miniatur program akselerasi yang penuh tekanan.
Padahal, Ki Hajar Dewantara tidak pernah mendefinisikan pendidikan dasar sebagai “persiapan”. Beliau menyebutnya “Taman Indria” dan “Taman Anak”, yaitu tempat bertumbuhnya kepekaan indra dan budi. Yaitu ruang di mana anak-anak “diajar merasa” (gevoelsonderwijs), bukan diajar menghafal.
Filosofi ini memiliki padanan yang sangat modern dalam riset neurologi pendidikan. David Whitebread, pakar perkembangan anak dari Universitas Cambridge, dalam riset longitudinalnya menekankan bahwa keterampilan paling krusial yang menentukan kesuksesan akademik dan hidup seorang anak di masa depan bukanlah kemampuan membaca di usia dini, melainkan self-regulation atau kemampuan mengelola emosi dan perilaku.
Dan bagaimana anak mengembangkan itu? Bukan melalui drill, melainkan melalui permainan, eksplorasi bebas, dan interaksi aman dengan orang dewasa yang penuh kasih sayang.
Inilah paradoks yang menyakitkan. Kita memacetkan taman bermain anak-anak dengan lembar kerja siswa (LKS) berisi soal-soal abstrak, lalu bertanya-tanya mengapa generasi kita rapuh dan mudah cemas. Kita mencabut mereka dari tanah pengalaman konkret, lalu mengeluh saat mereka tidak bisa memecahkan masalah nyata.
Memaknai Ulang “Merdeka Belajar” di Ruang Kelas Rendah
Hari Pendidikan Nasional 2026 harus kita gunakan untuk memaknai kembali “Merdeka Belajar” bukan dari kacamata birokrasi kurikulum, tetapi dari ketinggian mata seorang anak kelas tiga yang duduk di lantai kelas. Bagi saya sebagai akademisi yang telah membaca ribuan halaman kebijakan, “merdeka” yang paling hakiki di pendidikan dasar adalah:
1. Merdeka dari Rasa Takut.
Dalam banyak penelitian saya, saya menemukan bahwa ketakutan terbesar anak Indonesia di kelas bukanlah tidak bisa mengerjakan soal matematika, melainkan takut diejek teman, takut dimarahi guru, dan takut mengecewakan ibunya di rumah.
Seorang profesor pendidikan dasar dari Stanford, Deborah Stipek, telah lama menunjukkan bahwa iklim emosional di kelas-kelas awal sekolah menjadi prediktor paling kuat bagi motivasi belajar sepanjang hayat. Guru SD yang hebat bukanlah guru yang bisa membuat muridnya langsung bisa membaca dalam dua minggu, tetapi guru yang bisa membuat muridnya merasa aman untuk salah, bangkit, dan mencoba lagi.
Itulah fondasi mental untuk menghadapi era AI: bukan bersaing dengan mesin, melainkan memiliki ketangguhan untuk terus belajar ketika mesin mengambil alih banyak keterampilan teknis.
2. Merdeka untuk Bertanya Tanpa Henti.
Anak-anak adalah ilmuwan alamiah. Mereka bertanya, “Kenapa langit biru?”, “Kenapa semut suka gula?”, “Kenapa aku punya bayangan?”. Namun, seiring naiknya kelas, pertanyaan-pertanyaan ajaib itu perlahan lenyap, digantikan tatapan kosong menunggu instruksi. Pedagogi kita terlalu sibuk menyuruh anak-anak “menemukan jawaban yang benar” sehingga lupa merayakan “pertanyaan yang indah”.
Di tahun 2026, di mana AI bisa menjawab apa pun dalam sekejap, bukankah manusia yang paling bernilai justru adalah mereka yang tidak pernah kehabisan pertanyaan fundamental? Tugas guru kelas dasar adalah menjaga nyala api keingintahuan itu. Jangan biarkan api itu padam oleh setumpuk PR.
Teknologi Bukanlah Raja, Kitalah Tukang Kebunnya
Saya bukan anti-teknologi. Saya percaya tablet dan aplikasi interaktif memiliki tempat. Tetapi dari perspektif pendidikan dasar, saya ingin menyampaikan wanti-wanti yang keras: dasar-dasar kemanusiaan tidak bisa diunduh. Kemampuan berempati, memahami raut wajah teman yang sedih, merasakan tekstur tanah liat, bernegosiasi memperebutkan ayunan, inilah kurikulum kehidupan yang hanya terjadi dalam interaksi manusiawi tanpa perantara layar.
Sherry Turkle, profesor di MIT, dalam bukunya Reclaiming Conversation mengingatkan bahwa kualitas empati anak-anak menurun drastis jika interaksi tatap muka mereka digantikan oleh interaksi digital.
Maka, kebijakan pendidikan dasar kita ke depan tidak boleh latah. Alih-alih sibuk memberi setiap anak tablet, lebih urgent bagi kita untuk memastikan setiap anak memiliki waktu bercengkerama minimal dua jam tanpa gawai, dipandu oleh guru yang present, hadir sepenuhnya, bukan sibuk sendiri dengan ponselnya.
Kembali ke Pelukan Akar
Di Hari Pendidikan Nasional 2026 ini, saya ingin menutup renungan ini dengan sebuah ajakan. Mari kita, para akademisi, guru, dan orang tua, berhenti sejenak dari obsesi mengejar ketertinggalan skor PISA atau membuat anak kita menjadi programmer cilik. Tugas suci kita di pendidikan dasar adalah menjaga agar anak-anak tetap manusia.
Manusia yang ketika melihat temannya jatuh, dorongan pertamanya adalah menolong, bukan mem-videokan. Manusia yang ketika melihat daun berguguran, hatinya berbisik tentang keindahan, bukan tentang rumus gravitasi. Manusia yang ketika besar nanti menduduki jabatan tinggi, ingat bahwa ia pernah belajar berbagi bekal di bangku kayu yang sempit.
Pengalaman-pengalaman sepele itulah, yang di mata saya sebagai profesor tua ini, merupakan fondasi paling kokoh untuk Indonesia Emas 2045. Emas bukan karena gedung pencakar langitnya, tetapi karena manusia-manusianya berhati emas, dimulai dari tempaan sederhana di kelas-kelas dasar kita.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Jangan pernah lelah menyalakan api kemanusiaan di hati setiap anak, karena peradaban ini tidak akan diselamatkan oleh mesin, melainkan oleh hati yang terdidik. (*)
*) Prof. Dr. Wiryanto, M.Si. Guru Besar S3 Pendidikan Dasar, Universitas Negeri Surabaya







