Oleh WIWIT DWI WAHYU
Peringatan Hari Sejarah yang jatuh pada Senin, 14 Desember 2020 hari ini, bisa jadi cukup spesial. Dikatakan spesial karena Hari Sejarah tahun ini berada dalam kepungan pandemi virus corona (Covid-19) yang belum bisa dipastikan kapan bakal berakhir.
Prof Dr Aloysius Sartono Kartodirdjo mengungkapkan, “Sejarah adalah peristiwa masa lalu yang menjadi dasar masa kini, serta menjadi landasan berpijak untuk membangun masa depan.”
Berdasarkan ungkapan tersebut, di Hari Sejarah ini, mari kita melihat rangkaian kejadian yang telah dilalui bangsa indonesia, bahwasannya peristiwa sejarah itu berulang. Pepatah Perancis mengatakan, L’Histoire se Répète, sejarah mengulang dirinya sendiri.
Sedangkan menurut beberapa filusuf Barat, sejarah sesungguhnya tidaklah terulang, tetapi berirama. Ada banyak ungkapan tentang dasar berpikir sejarah. Namun, yang perlu digarisbawahi, setiap peristiwa yang terjadi di masa lalu akan memberikan pelajaran bagi kehidupan di masa depan.
Permasalahan kesehatan akibat pandemi Covid-19 yang menimpa hampir semua negara di belahan dunia dan dampaknya terasa triwulan kedua 2020, telah merenggut jutaan nyawa manusia. Dampak ikutannya juga menjadi pukulan telak bagi sejumlah sektor kehidupan. Selain menggencet sendi-sendi perekonomian global, sosial, pendidikan, bahkan dunia politik juga menerima dampaknya. Dan ternyata masalah tersebut juga pernah terjadi di masa-masa lalu.
Berdasarkan jurnal yang telah diterbitkan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Departemen Pendidikan Sejarah, pada abad ke-19 merupakan masa yang sulit bagi pemerintahan Hindia Belanda. Pemerintah saat itu harus berhadapan dengan berbagai macam penyakit yang menimpa masyarakat di daerah jajahan. Penyakit tersebut di antaranya, kolera, pes, hingga kusta, yang menyerang hampir 75% penduduk di Jawa.
Peristiwa yang terjadi di masa kolonial tersebut sungguh memprihatinkan, karena makin lama penyakit tersebut sulit dikendalikan. Hal itu karena perilaku hidup masyrakat yang tidak patuh pada imbauan pemerintah, sehingga di Malang, Jatim, diperlakukan karantina wilayah.
Pada awal 2020 peristiwa kesehatan terulang kembali dengan merebahnya Covid-19. Virus mematikan ini menyebar hampir ke seluruh dunia, sehingga mendapat perhatian luar biasa dari semua pemimpin dunia. Hingga kini “teror” virus corona belum berakhir dan belum ditemukan obat yang benar-benar mampu menghentikan keganasannya.
Sejarah telah memberikan informasi tentang berbagai peristiwa masa lalu agar kita mempelajari dan mengambil pelajaran darinya. Namun, banyak di antara manusia yang abai dan cenderung bersikap ceroboh, sehingga serangkaian peristiwa memilukan itu terulang dan dampaknya sangat merugikan.
Membangun Masa Depan
Peristiwa yang terjadi di masa lalu dapat dijadikan pedoman bagi generasi muda sekarang dan yang akan datang. Hal itu karena sejarah sebagai penghubung antargenerasi untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik.
Marcus Tullius Cicero, seorang filusuf Romawi kuno mengungkapkan, sejarah adalah guru kehidupan (historia magistra vitae est). Karena itu, sejarah selain sebagai ilmu pengetahuan, juga bisa menjadi guru kehidupan yang mengajarkan pada semua manusia untuk membedakan antara yang baik dan buruk, antagonis dan protagonis, nilai kepahlawanan, dan nilai luhur yang harus diperjuangkan dalam peradaban manusia.
Selain itu, sejarah juga memiliki nilai inspiratif yang berguna dalam membangun moralitas kehidupan manusia dan rasa kecintaanya terhadap bangsanya. Contohnya, ketika manusia mempelajari kejayaan negaranya, maka akan timbul rasa cinta pada negaranya (nasionalisme) ketika rasa tersebut sudah mengakar pada jiwa mereka.
Di momen Hari Sejarah ini, mari kita membuka kembali memori kolektif tentang pentingnya mempelajari masa lalu untuk menata masa depan. Ada banyak pelajaran yang dapat dipetik dari kehidupan masa lalu untuk menata masa depan yang lebih baik dan humanis. Maka, tak ada salahnya jika dalam momentum Hari Sejarah saat ini, kembali kita mengungkit ungkapan klasik yang digelorakan Bung Karno dan masih relevan hingga kini: Jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. (*)
*) Penulis adalah Guru SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Jawa Timur.







