SURABAYA (RadarJatim.id) — Hari Guru merupakan momen istimewa untuk mengenang jasa para pendidik yang telah membimbing dan membentuk generasi penerus bangsa. Di tengah peringatan tahun ini, ada satu nama yang layak diangkat sebagai inspirasi.
Ia adalah Sigit Wiyono, seorang guru di SD Al Hikmah Surabaya. Sosoknya menjadi teladan bagi para guru dan siswa. Keteladanannya tidak hanya di lingkungan sekolah di Surabaya, tetapi juga di tingkat internasional.
Rasanya tidak salah jika disematkan predikat tersebut kepada Sigit Wiyono, SPd, sang guru kelas 6 SD Al Hikmah Surabaya. Pasalnya, guru yang satu ini memang tidak pernah lelah belajar. Guru Bahasa Inggris yang mulai mengabdi di Al Hikmah sejak 2005 ini selalu meng-upgrade diri. Berbagai kegiatan pengembangan diri dilakukan untuk meningkatkan kompetensinya sebagai guru.
Bagi Sigit, mengembangkan diri menjadi sebuah keharusan agar guru selalu up-to-date. Artinya, guru mampu menyajikan pembelajaran terkini sesuai dengan kodrat zaman. Tujuannya, agar para siswa mendapat layanan pendidikan terbaik, sehingga mereka mampu survive di zamannya.
Jangan Lelah Belajar
Sigit mendapatkan beasiswa short course dari SEAMEO RELC untuk mengikuti pelatihan pembelajaran Bahasa Inggris di Singapura pada Januari 2024. Ini event bergengsi bagi guru-guru Bahasa Inggris se Asia Tenggara.
Menurut Sigit, awal mula dirinya mendapat beasiswa tersebut adalah karena rajin mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh Kemendikbudristek, kala itu. Salah satunya adalah program micro-credential. Banyak tema yang diikuti, mulai dari literasi, numerasi, dan sebagainya.
“Ternyata ketika kita mengikuti kegiatan semacam ini, nama kita tercatat di data base Kemendikbud. Ketika ada event-event besar seperti pelatihan di SEAMEO seperti ini, nama kita menjadi prioritas. Meskipun tetap ada seleksi atau tes yang harus diikuti,“ kenang Sigit.
Seleksi yang dimaksud adalah seleksi administrasi, termasuk harus menyertakan sertifikat IELTS atau TOEFL. Setelah lolos di tahap itu, masih harus dites lagi terutama kompetensi Bahasa Inggris, karena semua perkuliahan dilakukan dengan bahasa pengantar, Bahasa Inggris. Peserta yang lolos kemudian diminta memilih mata kuliah yang diinginkan.
Ada tiga mata kuliah pilihan: Listening and Speaking, Reading and Writing, dan Teaching English for Second Language (TESOL). Sigit memilih Listening and Speaking. Menurutnya, masih banyak guru yang mengajarkan listening take it for granted alias bukan teaching, tapi justru testing.
Prestasi Membanggakan
Ketika ditanya mengapa memilih mengajar? Dengan cepat ia menjawab, bahwa ternyata mengajar itu penuh tantangan dan tuntutan untuk meng-upskill diri. Pastinya, profesi ini tidak semudah yang pernah terbayangkan saat awal ingin menjadi guru. Tapi inilah yang menjadikannya menarik untuk digeluti.
Tak heran jika Sigit sangat mencintai profesinya sebagai guru dan aktif mengikuti kegiatan pengembangan diri. Beberapa prestasi alumi Pendidikan Bahasa Inggris UNESA tersebut ini adalah sebagai berikut.
- Peserta International Conference: World Englishes (Bali, 2029);
- Penulis kumpulan pantun pendidikan (Pusat Perbukuan Nasional, 2010);
- Peserta Konferensi SEAMEO INNOTECH (Manila, Filipina, 2011);
- Teacher Training: MONBUKAGAKUSHO (Jepang, 2014-2026);
- Finalis lomba media pembelajaran Kota Surabaya (2018);
- Medali Emas dan Perak Olimpiade Nasional POSI (POSI Online Platform, 2021-2023);
- Micro-credential: English Teaching (OHIO State University & Kemdikbud Diknas, 2023);
- Tim Penulis Modul Ajar Nasional Bahasa Inggris Jenjang SD (Kemdikbud Diknas, 2023);
- Short Course on Teaching Listening and Speaking: SEAMEO Regional Language Center (Singapura, 2024).
Teladan Generasi Penerus
Guru yang berhobi belajar bahasa, menggambar, dan travelling ini berpesan, agar guru selalu update info untuk mengembangkan diri. Demikian juga harus berani mencoba untuk meningkatkan kompetensi sebagai guru. Terkadang takut mencoba, overthinking dulu, padahal tidak semengerikan itu.
“Mari para guru, jangan lelah belajar,” ajaknya.
Sigit Wiyono adalah contoh nyata, bahwa guru bukan hanya sekadar profesi, tetapi sebuah panggilan jiwa. Keteladanan, semangat belajar, dan dedikasinya menjadi inspirasi tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi rekan-rekan guru lainnya. Di Hari Guru yang jatuh pada 25 November, sosok seperti Sigit layak dijadikan sebagai panutan untuk terus memperbaiki dunia pendidikan.
Selamat Hari Guru! Mendidik dengan hati, menginspirasi dengan aksi. (sto)







