SIDOARJO (RadarJatim.id) – SMK Telkom Sidoarjo tidak hanya fokus mencetak tenaga kerja siap pakai di industri, tetapi juga mencetak siswanya untuk menjadi pencipta lapangan kerja, melalui ‘SKOMDA Founder Catalyst’ sebuah program pengembangan ide dan inovasi bisnis yang berbasis teknologi.
Program ini dirancang khusus untuk menjaring ide-ide kreatif siswa, khususnya di bidang bisnis digital, dan mentransformasi ide tersebut menjadi unit bisnis yang nyata sebelum mereka lulus sekolah.
Hasilnya mereka pada (15/4/2026) pagi telah melakukan ‘Pitching Day’ di hadapan dewan juri professional di bidangnya, hadir pula orang tua siswa untuk menyaksikan langsung bagaimana mereka mempresentasikan hasil karyanya.
Usai membuka ‘SKOMDA Founder Catalist’ Kepala SMK Telkom Sidoarjo, M. Abror, S.Hum M.Pd menjelaskan kalau kegiatan ini adalah untuk mempersiapkan founder di usia dini.
Lanjutnya, target utama dari program ini adalah siswa kelas XIII (Program 4 tahun) SIJA(Sistem Informasi Jaringan dan Aplikasi). Fokusnya adalah membekali anak muda agar peka terhadap ekosistem bisnis digital yang tengah berkembang pesat. “Kami ingin mencetak anak-anak yang memiliki bisnis sendiri sejak usia dini, dalam hal ini usia SMK. Kami menyiapkan mereka agar aware dengan dunia digital yang bisa mereka bisniskan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, sekolah menggandeng mitra industri, untuk memberikan pendampingan intensif. Siswa tidak hanya diminta membuat tugas akhir, tetapi melakukan pitching ide bisnis di depan praktisi industri untuk melihat sejauh mana relevansi ide tersebut dengan kondisi di lapangan.
Salah satu poin pembeda dalam program ini adalah orientasi hasilnya. Pihak sekolah menegaskan bahwa output dari Founder Catalyst bukan sekadar prototipe atau pajangan pameran.
“Targetnya adalah ini menjadi bisnis yang jalan di kemudian hari. Jadi, setelah lulus, mereka sudah punya bisnis sendiri. Kami memperkenalkan mereka pada peran sebagai founder atau pemilik perusahaan, bukan lagi sekadar ikut orang lain,” jelas Pak Abror_sapaan akrabnya.
Menurutnya, prosesnya pun dimulai dari dasar yang kuat, yakni riset mendalam dan penataan pola pikir (mindset) bisnis sebelum siswa mulai mengeksekusi ide mereka. Menariknya, program ini juga lahir sebagai respons atas tingginya minat orang tua siswa untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan. “Data internal sekolah menunjukkan bahwa mayoritas orang tua di sekolah lebih memilih anak-anak mereka kuliah daripada langsung bekerja,” katanya.

“Daripada bingung antara kuliah atau kerja, kami tawarkan jalan tengah. Silakan kuliah untuk menambah knowledge, tapi kami bekali skill untuk menjalankan bisnis digital. Dengan digitalisasi, mereka tetap bisa kuliah sambil mengelola bisnisnya,” terangnya.
Program ini difokuskan pada siswa jurusan SIJA (Sistem Informasi, Jaringan, dan Aplikasi). Program pendidikan 4 tahun ini memberikan ruang lebih luas bagi siswa untuk mengeksplorasi kemampuan teknis sekaligus manajerial di tahun keempat mereka.
“Dengan adanya program Founder Catalyst, diharapkan lulusan SMK Telkom tidak lagi hanya menjadi penonton di industri digital, melainkan menjadi pemain kunci yang mampu membuka peluang kerja baru bagi masyarakat,” harap Pak Abror.(mad)







