GRESIK (RadarJatim.id) — Spirit literasi benar-benar dikobarkan di Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Hal ini dibuktikan saat Dispendik menggelar kegiatan penguatan peran kelompok kerja guru yang berfokus pada program Satu Guru Satu Buku (Sagusabu).
Kegiatan yang dihelat untuk mengakselerasi kualitas pendidikan dan profesionalisme pendidik di era digital ini digelar pada Rabu (13/5/2026) di Aula Dinas Pendidikan, Jl. Arief Rahman Hakim Gresik. Even ini melibatkan ratusan guru yang tergabung dalam Pusat Kegiatan Guru (PKG), Kelompok Kerja Guru (KKG), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) se-Kabupaten Gresik.
Kegiatan ini bukan sekadar pelatihan penulisan biasa, melainkan sebuah gerakan masif untuk mendorong kemandirian intelektual para guru. Program Sagusabu 2026 dirancang untuk memfasilitasi guru agar mampu mengonversi pengalaman mengajar dan gagasan pedagogis mereka menjadi karya tulis yang terdaftar secara resmi (ISBN).
Kepala Bidang Pengembangan Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Gresik Dr Nur Hamidah, SPd, MPd, dalam kesempatan tersebut menekankan, bahwa PKG, KKG, dan MGMP merupakan motor penggerak utama dalam peningkatan mutu guru, terutama di sekolah.
“Kami ingin wadah komunitas guru, seperti MGMP dan KKG tidak hanya menjadi tempat diskusi administratif semata, namun juga menjadi inkubator kreativitas yang dimiliki bapak ibu guru dan sebagai sarana mengembangkan kompetensi yang dimiliki,” tandasnya penuh semangat.
Melalui Sagusabu ini, lanjut Hamidah, pihaknya menargetkan lahirnya ratusan judul buku baru dari tangan guru mata pelajaran di kabupaten Gresik tahun ini.
“Karena itu, para peserta hendaknya benar-benar memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya,” ujar pejabat Dispendik yang juga Sekretaris Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unesa Gresik ini.
Setelah kegiatan pembukaan, acara kemudian dilanjutkan pemaparan materi Diklat dengan narasumber Yusuf Ali Putro. Penulis yang sudah melahirkan 17 buku –baik fiksi maupun nonfiksi ini– memberikan insight tentang bagaimana cara penulisan bagi guru dari nol hingga menjadi buku yang ber-ISBN.
Pemateri yang juga guru Bahasa Indonesia UPT SMPN 4 Gresik tersebut memberikan beberapa tips menemukan ide kreatif, seperti refleksi pedagogis ketika di kelas, dokumentasi penelitian tindakan kelas, hingga personalisasi pengalaman mengajar dikelas.
“Buku yang bagus adalah buku yang setengahnya berisikan tentang kisah. Bisa kisah tentang pembelajaran Bapak/Ibu di kelas, kisah tentang membangun suasana belajar dengan siswa di kelas, hingga kisah tentang pernak pernik hidup siswa di kelas,” ungkapnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Ketua MGMP Mapel Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Gresik tersebut memberikan pandangan, bahwa menulis buku mempunyai tantangan sekaligus peluang besar. Hal ini, karena menulis buku merupakan bentuk pengembangan diri yang paling nyata, karena memaksa seorang guru untuk terus membaca, meriset, dan menyusun pemikiran secara sistematis.
“Menulis adalah cara kita meninggalkan warisan ilmu. Dengan program Sagusabu ini, kami merasa didukung penuh untuk keluar dari zona nyaman dan mulai mendokumentasikan praktik baik di kelas,” ungkapnya.
Selain sebagai poin pengembangan profesi untuk kenaikan pangkat, buku-buku karya guru ini nantinya akan didistribusikan ke perpustakaan sekolah sebagai bahan bacaan referensi bagi siswa. Hal ini sejalan dengan visi Gresik sebagai daerah yang berkomitmen tinggi pada gerakan literasi nasional. (har)






