Oleh : Ahmad Suprayogi
Ada hal yang menarik saat aku meliput Mabit SMA Negeri 1 Wonoayu di Pondok Pesantren Modern Al Amanah Junwangi Krian Sidoarjo pada (2/3/2026) pagi di Pendopo Giri Kedaton, yang mana Ponpes tersebut juga mempunyai lembaga pendidikan SMP Bilingual dan MA BIMA.
Menariknya, konsep dalam mengukur karakter santri atau siswanya tidak fokus pada nilai rapor dan prestasi saja, tidak harus akademiknya. Namun lebih pada kekuatan respon perintah tugasnya sehari-hari, juga kepekaan terhadap lingkungannya.
Pengasuh Ponpes Modern Al Amanah Junwangi KH Nurcholis Misbah hanya memberikan contoh kecil yang sangat sederhana, tidak akademik. Yaitu tugas untuk menyapu. Hanya perintah menyapu saja bisa dijadikan ukuran peningkatan karakter para santri atau siswanya.
Padahal dari pengalaman saya meliput di beberapa sekolah ada tugas-tugas berat yang diberikan, diantaranya melakukan riset, menulis karya ilmiah hingga membuat produk, melakukan uji lab dan itu memerlukan waktu yang cukup lama. Bagi siswa yang tidak siap itu tugas sangat berat dan perlu biaya.
Bagi saya tidak masalah, memang lembaga pendidikan mempunyai konsep, dasar dan kemampuan yang berbeda-beda, juga cara yang berbeda pula. Termasuk juga banyak juga siswa yang senang melakukan tantangan. Memang dunia keilmuan itu sangat luas sekali, bahkan tak terhingga.
Menurut KH Nurcholis Misbah, kecerdasan dan karakter seseorang itu tidak selalu tercermin dari nilai rapor, prestasi atau gelar akademiknya. Karakter asli seringkali terlihat dari cara seseorang merespon tugas-tugas keseharian yang sederhana, seperti menyapu.
Dari situ nanti akan mucul tipe siswa yang berbada, ada tipe berkelompok, ada yang tidak. Tipe berkelompok ini nantinya cenderung hanya mau bekerja jika beramai-ramai, sehingga kontribusi pribadinya menjadi tidak nampak.
Kedua tipe karakter kuat atau mandiri, mereka yang berani bekerja sendiri, mennyapu kotoran sendiri, dan membersihkannya dengan baik dan tuntas, tipe adalah pribadi yang menikmati proses dari hasil karyanya sendiri. Inilah karakter yang langka dan dicari, dan harus diperhatikan atau diapresiasi.
Karakter santri atau siswa yang taat pada perintah
Perbedaan antara seseorang yang sukses menjadi pemimpin dengan yang biasa-biasa saja sering kali terletak pada cara mereka menjalankan perintah. Kecerdasan seorang santri tidak hanya dilihat dari rapor formal, tetapi dari responsnya terhadap persoalan sehari-hari, seperti yang telah kita tegaskan tadi.
Ukurannya adalah pertama mereka punya inisiatif kuat, tidak menunggu disuruh untuk membersihkan kotoran ataupun tugas-tugas yang lain. Juga tidak malu, asalkan itu tugas demik kebaikan.
Mereka punya kemandirian, yaitu berani bekerja sendiri, fokus pada hasil, dan tidak sekadar ikut-ikutan kerumunan yang tidak produktif. Dari situlah kualitas kerja bisa terukur, tidak melakukan sesuatu hanya ‘sekadarnya’ atau di bawah rata-rata. Namun dilakukan dengan maksimal.
Kesimpulannya
Dalam menjalankan perintah, baik itu perintah agama maupun tugas keseharian dilakukan dengan penuh tanggung jawab, itulah pembeda utama antara seseorang yang biasa saja dengan mereka yang akan menjadi pemimpin di masa depan.
Menjadi hebat bukan soal jabatan, tapi soal seberapa besar mau merendah untuk melayani dan seberapa peka terhadap lingkungan sekitarnya. Wallahu a’lam bishawab. Semoga.*
*) Praktisi Jurnalis Sidoarjo







