SIDOARJO (RadarJatim.id) — Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus menunjukkan komitmennya dalam memajukan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya pada aspek Gender, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).
Sejak tahun 2021, PGSD Umsida telah menjalin kemitraan erat dengan organisasi INOVASI (Inovasi untuk Anak Indonesia) untuk menciptakan terobosan baru di dunia pendidikan dasar.
Ketua Program Studi PGSD Umsida, Dr. Kemil Wahidah, mengungkapkan bahwa kolaborasi tahun ini difokuskan pada program magang pendampingan bagi Opdis (Organisasi Penyandang Disabilitas). Program ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menangani Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di lingkungan sekolah dasar.
“Tujuannya adalah membekali calon guru SD agar memiliki kompetensi yang mumpuni. Saat ini, sistem sekolah dasar harus bersifat inklusif. Guru tidak hanya dituntut mampu mendidik anak umum, tetapi juga anak berkebutuhan khusus dengan berbagai karakteristiknya,” ujar Dr. Kemil di sela-sela mengikuti workshop ‘Komunitas Belajar Komunikasi’ pada (12/4/2026) sore di Hotel Aston Sidoarjo.
Ia melibatkan enam mahasiswanya secara intensif dalam kegiatan pendampingan melalui program Opdis. Para mahasiswa mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga yang tidak ditemukan di dalam kelas, mulai dari belajar bahasa isyarat hingga teknik berkomunikasi dengan penyandang tuna netra.
Dr. Kemil menambahkan bahwa pengalaman riil ini akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa, baik untuk praktik mengajar di sekolah maupun sebagai bahan penelitian tugas akhir mereka yang kini mulai banyak mengangkat isu-isu disabilitas.
Ke depan, PGSD Umsida berencana memperluas kerja sama dengan Opdis dan INOVASI Jakarta. Salah satu poin strategis yang dibahas adalah pengembangan pelatihan khusus bagi mahasiswa dan tenaga pendidik.
“Kami sudah berkomunikasi dengan perwakilan INOVASI Jakarta untuk rencana tindak lanjut. Insyaallah akan ada pelatihan bahasa isyarat, pendampingan tuna netra, hingga penanganan anak dengan gangguan autis atau ADHD,” imbuh Kemil.
Langkah ini diambil untuk memastikan lulusan PGSD Umsida mampu merancang pembelajaran berdiferensiasi. “Dengan metode ini, guru diharapkan dapat menyusun desain pembelajaran yang adaptif, sehingga kebutuhan pendidikan baik bagi anak non-ABK maupun ABK dapat terpenuhi dalam satu ruang kelas yang harmonis,” pungkasnya.
Nur Widiya, mahasiswi semester 4 program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) yang mengikuti program tersebut, mengaku mendapatkan pengalaman berharganya. Karena bisa turun langsung dalam kegiatan yang melibatkan penyandang disabilitas di Kabupaten Sidoarjo.
Bagi Widiya, kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini bukan sekadar tugas kampus, melainkan sebuah “investasi” spiritual dan profesional sebagai calon pendidik.
Selama di bangku perkuliahan, Widiya telah menerima berbagai teori mengenai Pendidikan Inklusif dan Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).
Namun, ia mengakui bahwa terjun langsung ke lapangan memberikan perspektif yang jauh lebih mendalam.
“Kami di universitas mungkin masih dengan teorinya, tetapi melalui kegiatan ini kami mendapatkan aplikasi langsungnya. Bagaimana mereka berinteraksi dan bagaimana cara kita memberikan bantuan yang tepat,” ujar Widiya.(mad)







