SIDOARJO (RadarJatim.id) — Menanggapi fenomena mendominasinya lulusan sekolah negeri (SMAN/SMKN) yang di wilayah Kabupaten Sidoarjo, siswa yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) jauh lebih banyak dibanding siswa dari sekolah swasta.
Dinas Pendidikan Jatim melalui Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Kacabdin) Wilayah Sidoarjo Dr. Kiswanto, M.Pd memberikan pandangannya.
Menurutnya, faktor utama dari capaian tersebut bermuara pada kualitas proses pendidikan yang berjalan di masing-masing sekolah.
“Pandangan saya, proses itu tidak bisa mengkhianati hasil. Jadi kalau prosesnya bagus, Insyaallah hasilnya juga bagus,” jelas Kiswanto usai menghadiri Serah Terima Jabatan Kepala SMK Negeri 2 Buduran pada (10/6/2026) siang
Ia tidak memungkiri bahwa saat ini masih ada ketimpangan yang cukup terasa antara sekolah negeri dan swasta.
Beberapa sekolah swasta dinilai masih menghadapi kendala klasik, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana, kualitas tenaga pendidik, hingga perbedaan kualitas input (daya dukung) siswa baru yang diterima.
Menyikapi kondisi tersebut, Kacabdin Kiswanto memberikan dorongan moral dan motivasi bagi sekolah swasta untuk tidak berkecil hati. “Oleh karena itu, saya mengimbau agar sekolah swasta terus berbenah dan konsisten menjaga kualitas pelayanan pendidikan guna merebut kembali kepercayaan masyarakat,” himbaunya.
Ia juga mencontohkan bahwa tidak semua sekolah swasta tertinggal. Di Sidoarjo sendiri, sudah banyak sekolah swasta yang memiliki mutu sangat baik dan kompetitif.
Pak Kis_sapaan akrabnya tegaskan bagi swasta, tetap jaga kualitas supaya kepercayaan masyarakat pada sekolah tersebut meningkat. Banyak sekolah swasta tertentu yang kualitasnya jauh lebih baik.
“Meskipun swasta, kalau prosesnya berjalan baik, gurunya bagus, saratnya (fasilitas) menunjang, ya tetap hasilnya bagus,” ungkapnya.
Ketika ditanya mengenai perbandingan jumlah kelulusan yang masuk PTN antara sekolah negeri dan swasta, ia mengakui adanya selisih yang sangat timpang.
”Oh, perbandingannya jauh sekali. Jauh sekali perbandingannya, tetap banyak yang dari negeri. Ya itu tadi, kualitas guru, inputnya, prosesnya. Saya yakin proses di negeri jauh lebih baik,” tambahnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa ukuran kesuksesan seorang siswa tidak melulu dinilai dari diterima atau tidaknya mereka di perguruan tinggi negeri. “Siswa yang saat ini belum berhasil lolos ke kampus negeri tetap memiliki peluang besar untuk menjadi orang sukses di masa depan,” pungkasnya.(mad)







